Senin, 21 Mei 2012

playfulkiss ♥♥♥

aku suka drama playfulkiss, karna orang yg aku suka juga suka playfulkiss. katanya dia suka k-drama yg genrenya romantic love ♥ kekeke~

ooouuuuuu ♥,♥
aku suka hayalan Hani :D
ciieee~
zzzzzzzzzzz ♥

' 3 '
--"
lalalala~ kiss♥kiss


berpelukan hihihhi

♥,♥

:D

♥♥♥♥♥

eeemmmmm -.-

Sabtu, 19 Mei 2012

IX H a fun class :D

ya, 9H adalah kelas yg sangattttt menyenangkan :) wali kelasnya bernama ibu NILUH PUTU. Kleas 9H itu gaib lo --" kenapa? Karena kalo tu kelas lagi mood baik,itu kelas bakal hebohhh lebih heboh dari bikini botom di serang tomcat(?) tapi....kalo moodnya buruk,itu kelas bakalan sepi kaya kuburan yg bnyak tuyul dan kunti yg berserakan (?).
bisa di bilang kami makhluk(?) 9H cukup menderita, KENAPA? karena kelas kami di bilang KELAS WC *iya sih kelas kami emang bekas wc cowo --" tapi jangan gitu juga kalee. ibu peri tolong 9H ibu peri -_____-
 kita punya 1 kebiasaan aneh yaitu bercerita hororr pada hari kamis malam jumat. aneh kaann? itu sudah menjadi rutinitas hari kamis entah di kelas atau di warung "paman aini"-___- warung paman aini cuman segede tomcat jadi kami harus berdesakkan duduknya, tapi itu yang aku suka rasa kebersamaan kami dalam suka maupun duka* et dah bahasanya.Biasanya pada jam istirahat ada hal aneh juga terjadi, kami biasa duduk di satu tempat dan ngumpulin semua hasil belanjaan, taroh di tengah2 meja dan mulai menyantap(?) jadi yang gak dapat uang saku dari ortu bisa ikut makan juga :D ahihihihihi
Dina : dina itu cantik tapi sayang badannya bantet -.-v
Aulia : orangnya lumayan pintar,aku suka berteman dengannya :)
Elis : elis itu orangnya supel,manis*soalnya punya lesung pipit sedalem sumur di kampung nenek gue --",dia cukup unggul di pelajaran b.indo, badanya bantet kaya tabung gas 3 kilo -.-v
pute : pute orangnya metal, suka emo, keren, pute juga mudah bergaul :)
rina : beuuhhh,,rina orangnya baikk bangett dah XD
afifa : bisa dibilang dia menjadi icon di smp 5 karena kecantikannya,sekali liat afifa beeuhh..di jamin langsung mati di tempat -.-v
miri : aku gak tau orangnya kaya apa, soalnya aku jarang brcengkrama denganya* bahasanya itu loh -.-
diah : nah, ni orangnya amburadul banget dahh, susah men-des-krip-si-kan-nya -______-
astuti : namanya kaya judul lagu hercules yah*ASTUTIII~WOWOWO~ASTUTI.aku suka waktu tuti bilang "bediaman woyyy!!"*sambil ngerentangin tangan sama "kada entos lalu". ahahaha :D
maulida : nahhh, kalo soal k-pop biasanya aku ngobrol sama maulida saolnya nyambung :)
mardiana : aku lumayan deket sama mardiana, soalnya kami banyak kesamaan
eva : biasa di panggil epon, dia kembaran aku :D*kembar nama aja sih --" tapi kalo dia kembaran sama aku bakal jadi mukjijat bagi dia. wokwowokwok -,-v
hikmah : nah, hikmah orang paling pertama yg dicari kalo ada tugas matematika, lumayan jenius sih orangnya tapi alay mampuss -.-v
ulya : ulya itu saingan hikmah dalam hal kepintaran, suka nyanyi dangdut orangnya :D
 cuma ini yg bisa aku des-krip-si-kan tentang kelas 9H dadah *cipok*

*berikut piku-piku hasil webcam laptop rina*
iklan teh kotak --"*coba liat di belakang ada elis kaya bibi jamu

O.o keteknya neng
gaya ancur-ancuran begitu noh jadinya XD

 
et dah teh es ikut foto juga --"

Jumat, 18 Mei 2012

Kisah Arang

Aranggak, kuil Arang di Miryang.
Kisah Arang (아랑전설) adalah sebuah legenda rakyat yang berasal dari Miryang, Gyeongsang Selatan, Korea Selatan, tentang seorang gadis yang dibunuh dan arwahnya bangkit untuk membalas dendam atas kematiannya.

Pada tahun 1600-an, pada masa pemerintahan Raja Myeongjong (Dinasti Joseon), di Miryang, Gyeongsang, terdapat seorang hakim bernama Yun yang dikirim dari ibukota. Hakim Yun memiliki seorang anak perempuan cantik bernama Arang. Seorang pelayan di rumahnya yang bernama Jugi, tertarik pada Arang dan selalu menggodanya. Setelah gagal memperkosanya, Jugi membunuh Arang dan mengubur mayatnya di suatu tempat yang tak diketahui. Segera tersiar kabar ke seluruh kota bahwa Arang telah hilang. Hakim Yun menjadi sangat sedih dan kembali ke Hanyang tanpa Arang.
Setelah hakim Yun turun, beberapa hakim yang lain bergantian bertugas di Miryang dikarenakan pada setiap malam setelah naik jabatan, satu per satu meninggal secara misterius. Seorang pemuda yang berani dan ingin tahu bernama Yi berusaha mencalonkan diri menjadi hakim selanjutnya. Pada malam pertama setelah diangkat menjadi hakim, pemuda tersebut didatangi oleh seorang wanita berambut panjang yang berlumuran darah yang tidak lain adalah hantu Arang. Setelah menceritakan kisahnya pada pemuda itu, hantu Arang mengatakan bahwa besok ia akan menjadi seekor kupu-kupu putih untuk menunjukkan siapa orang yang membunuhnya. Keesokan paginya, hakim baru itu memanggil semua pelayan. Seekor kupu-kupu putih terbang dan mendarat di topi salah satu pelayan, yakni Jugi. Hakim itu lalu menginterogasi Jugi. Pada awalnya ia membantah, namun akhirnya mengaku bahwa ialah yang telah membunuh Arang dan menguburkan mayatnya di rumpun bambu dekat Paviliun Yeongnam. Setelah digali, ternyata jenazah Arang masih utuh, kemungkinan karena arwahnya masih penasaran. Setelah Jugi dihukum, hantu Arang tak pernah muncul lagi. Sampai sekarang, di Miryang masih diadakan peringatan setiap tanggal 16 bulan ke-4 kalender lunar untuk mengenang Arang. Sebuah kuil bernama Arang-gak dibangun untuknya.

FF: Sadness part 2 -end-

Title: Sadness
Cast: Yoochun, Hyun Ae, and other member DBSK

 SADNESS
Part 2

Yoochun menatap kami bergantian dan certa tentang hubungannya dengan Hyun Ae pun di mulai.

-Yoochun POV-
Dia memang bukan cinta pertamaku. Tapi aku bisa pastikan, dialah cinta terakhirku. Bersamanya, aku merasa nyaman. Bukankah.. rasa nyaman itu lebih lama bertahan?
Benar-benar tak bisa kusangka, seorang gadis biasa saja bisa ,menggenggam hatiku sedalam ini. Namanya Lee Hyun Ae. Tiba-tiba saja saat melihatnya tertawa gembira dadaku berdebar. Ia yang selalu menolong orang lain dengan tulus. Selalu tersenyum lembut pada siapa saja. Menundukan wajahnya ketika malu. Ah… aku tak tahu sejak kapan aku suka segala yang ada di dirinya.
Aku sempat berpikir sebaiknya kusimpan saja rasa ini. Ia dan yang lain tak perlu tahu. Tapi, ketika ada namja lain mendekatinya, aku beriubah pikiran. Aku memutuskan perasaanku padanya.
Hari itu dengan sengaja aku mengikutinya. Dan di sanalah, di depan sebuah halte dekat rumahnya, perasaanku kusampainan.
Aku menunduk sambil menggesekkan sepatuku di aspal.
Lirih kudengar sebuah suara yang kunanti, “Nado…”
Aku mendongak. “Eh?”
“Nado saranghae…” katanya pelan. Wajahnya tampak bersemu merah.
“Jeongmal?”
Dia mengangguk sambil tersenyum malu.
“Yayyy~~~.” aku berteriak gembira. “Hyun Ae yeoja chingu-ku sekarang,” aku berputar-putar bahagia. Kutemukan senyum manisnya.
Aku teringat sesuatu. Aku yang popular dan menyatakan cinta padanya lebih dulu, kurasa wajar kalau dia menjawab begitu. Aku baru mau bilang harus backstreet dan kalau ada yang tahu hubungan ini berakhir, meski aku yakin tak akan kulakukan, ketika dia bersuara…
“Tapi kita backstreet ya? Orang tuaku… tidak mengijinkan aku pacaran. Kalau ketahuan teman-teman atau siapapun,” ia menatapku, “Kita putus.”
“Eh?”
Hyun Ae menunduk.
Itu yang kumau, tapi, kenapa rasanya sedih mendengar dia yang memintanya ya?
“A…Arasseo,” ujerku terbata.
Hyun Ae mendongak. Matanya mencari kesungguhanku. Ketika ia tersenyum, aku tahu dia telah mendapatkannya.
Aku mengantarnya, tapi akan berpisah di jarak yang cukup jauh dari rumahnya. Kami tak boleh ketahuan.
Kami melangkah dalam diam. Meski diam, tangan kami saling terpaut erat. Senyum merekah di sudut bibir kami. Ini disebut kebahagian kecil dari cinta kan?
Aku tahu, satu hal telah menyatukan kami. Hati yang dipenuhi cinta.

Sejak hari itu kami harus menjaga jarak agar tak ada yang tahu kami berpacaran. Aku mengantarnya pulang dengan jarak beberapa meter di belakangnya. Dia akan berhenti dan menatapku sambil tersenyum. Ia melambai kemudian. Dan kami pun berpisah.
Saat jalan-jalan juga. Tak terlihat sekali kami adalah kekasih. Aku kadang gelisah, tapi melihatnya yang hanya menatapku, hatiku kembali tenang. Diam-diam sering aku memberikan ciuman jarak jauh dengannya. Dia akan membalas dengan cara yang sama diam-diam. Hanya di tempat rahasia kami, sebuah rumah kecil di dekat pantai . Di sana aku bisa duduk dekat dengannya. Menatapnya sepuasku. Menyanyikan lagu yang menyengkan untuknya. Membantunya mengerjakan PRnya. Mengelus kepalanya dengan lembut. Juga merebahkan kepalanya di pundakku sambil menggenggam tangannya lama. Aku... benar-benar jatuh cinta padanya.
Ketika aku memutuskan ikut audisi SM Entertainment, aku menemuinya diam-diam di tempat rahasia kami.
“Jeongmal?” tanyanya saat kusampaikan keinginanku ikut audisi. Ia tampak gembira. “Oppa pasti lolos.” ujernya riang.
“Gomaweo… Tapi… dengan begitu.. kita akan semakin sulit bertemu.”
Ia menggeleng. “Tidak apa-apa. Jika itu impian oppa, maka impian oppa menjadi impianku juga.”
“Bagaimana kalau kau lelah denganku lalu memutuskan untuk berpaling dariku?”
“Oppa cemas?”
Aku mengangguk gamang.
“Bukankah aku yang harusnya cemas.” Ujernya sambil menatap kedua mataku, serasa membaca hatiku. “Nae namja akan semakin banyak punya fans.” Ia menghela napas dan memandang keluar. Di masa trainee nanti banyak yeoja yang cantik. Oppa… pasti akan berpaling..” sambungnya setengah berbisik.
“Annio~,” tegasku segera. “Kau satu-satunya!
Jika dimulai dengan indah, kita harus akhiri dengan indah juga kan oppa?
“Ya~! Jangan berkata seolah-olah kita putus. Aku janji aku akan usahakan menelponmu setiap hari.”
Ia tersenyum dan mengangguk.
Namun ternyata, aku tak bias memenuhi janjiku. Aku hanya bias mengirim pesan dan kalau usai latihan aku sempatkan mengirin pesan suara padanya.

Setelah debut, aku cuma bias menemuinya tiga kali dalam setahun. Saat ulang tahunnya, ulang tahunku (yang ini terkadang aku harus menyelesaikan pesta yang dibuat temanku baru menemuinya) dan hari jadian kami. Jadwal yang padat membuat dia yang lebih banya mengirim pesan suara padaku. Kadang, aku merasa bersalah padanya…
Aku mendapat image playboy di grupku. Aku cemas. Bagaimana kalau dia mengira aku seperti itu? Bagaimana jika hal itu membuatnya putus denganku? Namun dia tak pernah sekalipun membahasnya. Ketika kutanya dia menjawab, “Tidak apa-apa oppa. Asal jangan kenyataannya saja. Aku harap aku tetap di posisi ketiga setelah Tuhan dan orang tua oppa.”
Senyumku mengembang seketika.

Cemas itu masih ada. Kami yang berjauhan. Punya waktu senggang yang tak sama. Akankah perasaannya bertahan?
Aku gembira bukan main ketika dia mengirim pesan suara yang isinya,
“Oppa… aku sudah lihat banjun drama kalian. Whaa~ oppa kau keren sekali. Andai aku jadi tokoh utama wanitanya… Oppa, boleh aku bilang kalau aku cemnburu? Mianhae…oppa. Perasaan itu… benar-benar tak bias kukendalikan... Ottokhe?”
Segera aku menghubunginya dan meminta bertemu.
-End Yoochun POV-

“Whoaa….” Koor terpesona kami berkumandang bersamaan.
“Ingat ketika aku buru-buru keluar dan bilang keadaan darurat namun wajahku terlihat ceria.”
“O! yang waktu itu,” pekik Jae Joong.
“Nde. Hyung bilang aneh, kalau darurat seharusnya aku cemas. Hari itu hari di mana pertama kalinya dia bilang cemburu padaku.”
“O~” koor kami berkumandang lagi.

-Yoochun POV-
Aku menemui Hyun Ae di tempat rahasia kami.
“Oppa… apa kalimatku tadi membuat oppa cemas?” ujernya takut.
Aku mendekat.
“Mi-“
Aku memeluknya. Membuat kata-katanya terhenti.
“O… oppa?” ia terkejut.
Aku memeluknya erat. “Dari kemarin aku mencium bau yang terbakar.” ujerku sambil merebahkan kepalaku di pundaknya.
“Eh?”
“Ternyata itu hatimu ya…”
“Oppa~,” ia memukul bahuku. Aku tahu ia malu.
“Aish.. Berisik sekali. Apa kau mendengarnya?”
“Um..Nde!”
Eh? Di sini tidak ada bunyi berisik. Apa dia tahu maksudku?
“Bukankah itu bunyi debaran hati oppa?” lanjutnya.
Ah, ternyata dia tahu!! “Seharusnya aku yang bilang begitu kan? Kau berdebar hebat ketika kupeluk.”
Ia lagi-lagi memukul bahuku. Aku tertawa girang.
“Gomaweo…” ujerku.
“Eh?”
“Gomaweo karena selalu mencemaskanku.”
Kurasakan dia mengangguk.
“Gomaweo… karena sudah cemburu untukku.” *gyaaa~~~~*
“Oppa~” ia mencubitku. Kebiasaannya ketika rasa malunya memuncak.
“Itu melegakanku, Hyun Ae-ah..” bisikku.
Hyun Ae tak menjawab. Aku tak perlu jawaban langsung darinya. Pelukannya yang erat sudah menjawab semuanya.
“Jeongmal saranghae oppa…” bisiknya pelan.

Debut di jepang, hal paling menyiksaku. Membuatku tak bisa menemuinya di hari jadian kami. Aku memutuskan menelponnya.
“Kau di mana?” tanyaku usai menanyakan kabarnya.
“Oppa tidak tahu?” ia balik bertanya.
“Maksudmu?”
“Bukankah selama ini aku ada di hati oppa?” Dia menggodaku.
“Ya~.” Senyum bahagiaku merekah seketika.
“Aku sedang di kamar, oppa.” Ujernya usai tergelak.
“Sedang mengerjakan apa?”
“Umm… tugas rutin.”
“Tugas rutin?” ulangku.
“Hm-mm. Tugas memikirkan oppa sepanjang waktu.”
“Ya~”
Hyun Ae tertawa lagi.
“Kenapa justru kau yang menggodaku.” ucapku setengah bergumam. Gelak tawa Hyun Ae makin keras terdengar. Membuat dadaku terasa hangat.
-End Yoochun POV-

“Wowww….” Ujer Junsu. Matanya jelas terlihat sangat kagum dengan kisah cinta yang manis dari Yoochun.
“Suit-suit!” Changmin bersuit heboh.
Kulihat wajah Yoochun memerah. Ia terlihat bahagia sekali mengingat kisah manisnya dengan gadis itu.
“Ia juga membuat syal dan mengirimnya. Ingat ketika changmin bilang kenapa cuma satu syal saja yang kupakai?”
“Jangan-jangan…” Changmin menduga-duga.
Yoochun tersenyum hangat. “Itu hasil rajutannya.” Suaranya pelan.
“Whoaa.. Yoochun-ah… kau benar-benar suka padanya ya?” kata Junsu takjub.
Buhg!
Pukulan pelan mendarat di kepala Junsu.
“Kenapa kau menanyakan hal sebodoh itu??” ujer Jae Joong. “Itu sudah tentu kan?!!”
Yoochun tertawa. “Kalian mau melihat fotonya?” tawarnya.
“Boleh kah?” tanyaku tak percaya.
Yoochun mengangguk. Ia beranjak ke kamarnya dan kembali sambil membawa HPnya. Ia mengganti memori stick HPnya dengan yang baru di ambilnya di kamar.
“Ini dia,” ujerya setelah mendapatkan album foto bertuliskan ‘Nae Yeoja’.
Kami mendekat dan menatap foto yang ada di HP tersebut. Seorang gadis berambut lurus dan tebal. Matanya yang sedikit menyipit dengan lengkungan lembut dan hangat tercipta di bibirnya. Pipinya merona. Tampak seperti tersipu malu. Kulitnya yang putih cerah semakin mempesona kami.
“Cantik, hyung,” komentar Changmin.
Aku mengangguk menyetuji pendapatnya.
“Hm-mm,” Junsu ikut mnendukung komentar Changmin barusan. “Kenapa kau bilang biasa saja?” tanyanya.
Yoochun tertawa. “Sengaja. Agar kalian jujur menilainya, hahaha.”
-end flashback-

Hari yang bahagia setelah itu. Yoochun selalu menceritakan apa yang ia bicarakan dengan Hyun Ae usai menelpon. Dan kebahagiaan itu semakin kami rasakan meningkat ketika Yoochun bilang dia mau melamar gadis itu tiga bulan lalu.

-flasback-
“Apa manajemen mengijinkan?” tanyaku ketika Yoochun bilang dia mau melamar Hyun Ae.
“Nde.. sebenarnya manajemen juga sudah tahu sejak dua tahun lalu.
“MWO???” kami terkejut bersamaan.
Yoochun mengangguk. “Manajer yang bilang. Dari pada ketahuan lebih baik diberitahukan lebih dulu. Pemimpin melihat kesungguhanku. Ketika kubilang ‘lebih baik kehilangan karirku dari pada kehilangan dia’ pemimpin berkata ‘Jaga dia baik-baik. Kalau sampai fans tahu, aku tidak akan turun tangan untuk melindunginya’.”
“Jika itu kebahagiaanmu, maka itupun kebahagiaan kami juga. Good luck, Yoochun-ah.” Ujerku.
“Hwaiting, hyung!” Changmin semangat mengatakannya.
“Kabari kami segera apa jawaban Hyun Ae ya?” pinta Jae Joong.
Yoochun mengangguk.
Sejam kemudian dia menelpon dan jawaban gadis itu serta kedua orang tuanya adalah ‘Ya’.
Kami bersorak gembira. Seolah kamilah yang mau menikah.

Waktu berlalu. Segala persiapan dimulai.
Manajemen mengatur konferensi pers pernikahan Yoochun yang akan berlangsung dua minggu lagi. Mereka juga memperlihatkan foto-foto pra wedding Yoochun dengan Hyun Ae.
Semua berjalan lancer. Fans merestui hubungan mereka. Ikut bahagia dengna kebahagiaan Yoochun. Bahkan ada yang langsung memanggil Hyun Ae dengan sebutan ‘Onnie’. Kami lega.
-end Flasback-

Kami bahagia. Hingga membuat kami lupa untuk waspada terhadap fans fanatic kami.
Hari itu, seminggu sebelum pesta.

-Flashback-
Yoochun dan Hyun Ae mencoba jas dan gaun pengantin. Banyak fans yang mengikuti ke mana saja mereka pergi. Mereka heboh menyebarkan kegiatan yang Yoochun dan Hyun Ae lakukan. Tak kalah hebohnya dengan wartawan.
Merasa kehausan, Hyun Ae pamit ingin membeli minuman dingin di minimarket seberang. Yoochun masih mencoba jasnya yang lain. Sepertinya ukurannya ada yang kurang pas.
“Biar aku saja.” Tawarku ketika ia hendak keluar.
“Anni. Fans diluar cukup banyak. Nanti oppa malah tidak bisa lewat.”
“Tapi-“
“Gwenchana,” potongnya. Ia tersenyum meyakinkan. Aku mengalah. Membiarkannya keluar. Semoga tidak apa-apa.
Sesaat kecemasan melandaku. Ketika fans menyapa Hyun Ae dengan sebutan ‘onnie’ aku lega. Kulihat Hyun Ae membalas sapaan mereka. Kudengar juga mereka berpesan untuk menjaga Yoochun dengan baik.
Hyun Ae menjawab permintaan mereka sembari tersenyum dan terus berjalan ke seberang.
Yoochun menatapnya ketika ia keluar dari minimarket dengan sekantung plastikl kecil berisi minuman di tangannya.
“HYUN AE-AH??!!” teriakan Yoochun mengagetkan kami.
“KYAAAAA!!!” paru-paruku serasa lemas mendengar fans di luar menjerit. Satu sosok bersimbah darah di aspal membuat jantung kami seperti berhenti berdetak.
Yoochun dan kami berempat keluar.
Hyun Ae tampak tak bergerak.

Ambulan membawa Hyun A eke rumah sakit. Yoochun ada di dalamnya. Kami mengikuti di belakang dengan mobil kami.
Rumah sakit tampat mencekam. Kami baru menyadari hal itu ketika melihat lorong UGD. Aku merasa bisa mendengar detak jantung member yang lain.
Suara tangis terdengar ketika kami di dekat ruang gawat darurat itu.
“Hyun Ae-ah!!!” teriakan Yoochun menyayat-nyayat hati kami. Ia menangis sambil memeluk sosok kaku di pembaringan. “Kajjima~” suaranya pilu sekali.
Aku merasa sulit untuk bernapas. Ini… ini bukan kenyataan kan?
“Jawab aku Hyun Ae-ah!” Yoochun tergugu. Bahunya bergetar. Ia mengguncang-guncang tubuh Hyun Ae yang tidak bergerak. Seketika air mata kami jatuh. Hyun Ae, gadis yang begitu dicintai Yoochun, telah tiada.

“Wae hyung?” lirih Yoochun ketika upaca pemakaman usai.
“Wae…” isaknya tertahan. Ia berlutut di depan makan Hyun Ae dan kembali menangis hebat.
Kami baru bisa membawanya ke mobil dan pulang saat tangisnya melemah dan ia sudah tak bisa melawan, kelelahan.
-end flashback-

Kami mengetahi pelaku tabrak lari Hyun Ae adalah salah satu fans fanatic kami. Di pengadilan dengan jujur dia bilang tak rela Yoochun menikah dengan orang lain.
Apa kalian tahu, Yoochun pernah bilang padaku, “Jika menjadi idola membuatku harus kehilangan Hyun Ae, maka aku lebih memilih tidak pernah menjadi idola, hyung.”
Apa kalian tahu? Lebih dari enam tahun ia diam demi Cassiopeia. Menjaga hati Cassiopeia agar tidak terluka.
Hyun Ae yang bahkan sudah sejak delapan tahun selalu ada di samping Yoochun. Menudukung segalanya. Percaya padanya. Bertahan untuknya. Setia padanya.
Lalu kenapa? KENAPA??
Kalian bilang mencintai Yoochun. Tapi apa? Apa yang sudah dilakukan salah satu dari kalian? Kenapa menyakiti idola kalian? Bukankah cinta yang sesungguhnya tak akan menyakiti orang yang dicintainya?
Ah, mian… aku malah marah-marah seperti ini. Ini bukan salah kalian. Tapi salah pelaku itu.
Kami sungguh sangat berterimakasih atas segala cinta kalian yang begitu besar untuk kami. Tapi tolong jangan sesadis orang itu.
Sebulan lalu orang itu mengirim surat yang isinya minta maaf dan dia sangat menyesal. Tahukah kalian apa balasan Yoochun?
“Apa dengan menerima maafmu, Hyun Ae-ku kembali?”
Bahkan orang tua pelaku itu datang dan meminta maaf pada Yoochun langsung. Jawaban Yoochun masih sama.
“Apa dengan memaafkan, Hyun Ae-ku kembali?”
Ia meninggalkan orang tua pelaku itu begitu saja.
--
“Hyung?” jemariku terhenti ketika mendengar suara serak Yoochun memanggilku.
Aku menoleh dan melihatnya sedang memandangi langit yang muram.
“Apa dengan memaafkan orang itu, Hyun Ae-ku bisa kembali?”
Apa yang harus kujawab?
--End—

FF: Sadness part 1

Title: Sadness
Cast: Yoochun, Hyun Ae, and other member DBSK

 SADNESS
Part 1
Aku jung Yunho. Leader dari grup DBSK. Ah, kurasa thal ini tidak perlu ku tulis bukan?
Aku sengaja menulis kisah ini di sini. Di website resmi kami. Kuharap para cassie yang membacanya memahami perasaan kami. Terutama perasaannya.
Kalian boleh menyebarkan cerita ini ke grup kalian. Dan bagi yang bisa menerjemahkannya ke dalam bahasa inggris, ku mohon bantuan kalian juga. Sebarkan kisah ini agar hal yang menyakitinya- juga menyakiti kami- tidak terualang lagi. Dan kuharap juga tidak terjadi dengan idola kalian yang lain.
Sebelumnya maaf kalau cara menulisku tidak baik. Tidak mengalir seperti halnya kalian menulis FF untuk kami. Aku hanya ingin menyampaikan kesedihannya pada kalian.
“Rain in my heart… mou yamanai…”
Aku mendengar senandung serak di belakangku. Bukan, ini bukan suara Kim Junsu. Aku kenal betul suara ini milik siapa. Ini.. suara milik crying baby kami, Park Yoochun.
Aku menoleh ke belakang. Ia tampak bersandar di tiang jendela. Menatap pilu pada butir-butir hujan di luar sana. Ia masih bersenannndung ketika kudapati bulir air matanya jatuh. Di genggaman tangannya tergenggam kotak cantik. Aku tahu isi di dalamnya. Ia sempat memperlihatkannya pada kami. Benar. Sepasang cincin pernikahan. Aku tahu, sekali lagi dia menangisi gadis itu.
Sudah tiga bulan dia begitu. Dan selama itu pula yang kutemukan di wajahnya hanyalah lekuk sendu. Sesekali kudapati ia menangis diam-diam di kamarnya. Ah, siapapun pasoi akan sama sedihnya dengan dia jika mengalami hal yang sama.
Aku ingat, tiga bulan lalu, pada malam hari, di hari yang seharusnya jadi hari pernikahannya.

-flashback-
Denting piano terdengar dari ruang tengah. Aku bangun perlahan dan mengintip. Kudapati Yoochun tengah duduk di depan piano, memainkannya dengan wajah beruari air mata.
“Gomapta nae nomumollojoso… molinda…” ia bernyanyi tertahan. Aku tahu, lagu ini seharusnya dinyanyikan dengan bahagia di pesta pernikahan.
Air mata crying baby kami deras berjatuhan.
Dengan perlahan aku membuka pintu dan mendekat ke arahnya.
Isakannya terdengar jelas di sela lagunya.
“Yoochun-ah..” panggilku.
Ia menatapku dengan matanya yang merah. Ia berhenti memainkan tuts piano itu. “Bagaimana menurutmu, hyung? Lagu ini bagus kan?” senyum pedihnya menusuk hatiku. Tajam.
Aku bergeming. Pilu di matanya makin menyayat-nyayat seluruh persendianku.
“Aku berencana menyanyikan lagu ini di perbnikahan kami, hyung.” Ia kembali menjatuhkan tatapannya ke piano. Satu titik air jatuh di atas tutsnya.
“Kau tahu, hyung? Lagu ini…” lirihnya pelan, “adalah ungkapan terima kasihku padanya.”
Aku tak bisa mengatakan apapun melihat wajah pilunya itu.
“Tapi… aku tak sempat menyampaikannya padanya.” Butiran yang jatuh ke tuts piano tersebut semakin banyak.
Aku menggigit bibir bawahku. Menahan kabut yang menggenang di mataku agar tidak jatuh.
“Wae…??” bisiknya.
Apa yang harus ku katakabn?
“Wae hyung…?” isakannya kembali terdengar. “Wae…” suaranya tertelan kesedihannya yang dalam.
“Gumanhae, Yoochun hyung…” kudengar suara Changmin. Sejak kapan dia di sini?
Junsu juga. Ia mendekat dan menepuk pundak Yoochun. Air mata juga menggenang di pelupuk matanya.
“Ini mimpi kan??” ia meminta pembenaran dari kami.
Jae Joong menyeka air matanya yang jatuh.
“Katakan padaku yang terjadi cuma mimpi. Mimpi burukku…” isak Yoochun menjadi.
“Yoochun-ah..” jae joong mencoba bersuatra tapi gagal. Ia yang mudah menangis tak bisa menahan isakannya.
“Katakan itu mimpi, hyung.” Suara Yoochun makin memilukan hati siapapun yang mendengarnya.
Aku menepuk pundaknya. Berharap ia mampu menguatkan hatinya.
Kami menuntunnya ke sofa. Tangis masih menyelimuti wajahnya hingga akhirnya dia tertidur.
“Kajjima, Hyun Ae-ah…” igaunya. Air mata meleleh lagi dari sudut matanya.
-end flashback-

Seperti kataku, kebahagian menjadi lima kali lipat dan kesedihan di bagi jadi lima. Sedihnya, sedih kami juga.
Kalian mungkin tak menyangka jika ia akan menagis sehebat itu karena seorang gadis yang amat dicintainya pergi. Pergi dan tak akan pernah kembali.
Siapa yang tidak sesakit itu?!! Delapan tahun! Apa kalian tahu arti delapan tahunnya bersama gadis itu? HIDUPNYA!! Tapi setega itu seseorang menghancurkan segalanya!
Yoochun mati-matian selama delapan tahun menyembunyikan sosok gadis itu dari kalian. Ia tak ingin kalian melukainya. Sosok yang bahkan baru kami ketahui satu tahun terakhir. Sosok yang seketika membuat kami sadar betapa setianya Park Yoochun kami.

-flashback-
Aku sedang membuat lirik rap pada lagu terbaru kami, ketika Changmin mengguncang-guncang tubuhku dengan semangat.
“Wae?” Bukannya menjawab, si maknae ini justru menutup pintu kamar dan memasang headset ketelingaku.
Aku menatapnya bingung.
“Dengar, hyung!” perintahnya. Ia memencet tombol dan…
“Oppa..” suara seorang gadis. Aku memandang Changmin penuh selidik. “Sedang apa? Aku baru saja selesai mengejakan tugas kuliahku. Capeknya… Oppa sendiri? Baik-baik saja kan?”
“Nugu?” tanyaku usai mendengar kalimat itu.
Changmin mengakat bahunya. “Ini milik Yoochun hyung. Coba lihat dan dengar yang lain. Semua isisnya suara gadis ini!” wajah Changmin menunjukan dia sudah menemukan sebuah rahasia besar.
“Jeongmal?” aku segera mengeceknya. Omo!! Suara itu lagi!
“Hey oppa… suka dengan syal yang kuberi? Bagus kan? Tapi… tanganku sampai penuh luka membuatnya. A~, jangan panik oppa! Aku bohong padamu, hehe… Aku kan sudah sering merajut, jadi mana mungkin penuh luka. O, ya, bagaimana hari ini? Menyenangkan? Trainee tak membuat oppa lupa menjaga kesehatan kan? Jangan lupa oppa, di sini ada aku yang mencemaskanmu. Saranghae, oppa..”
Kupandang Changmin. “Menurutmu siapa dia?”
“Aku curiga dia…” Changim menggantung kalimatnya. Ia mengambil sebelah headset dan memasang di telinganya. Ia memainkan rekaman suara yang ada, lalu menggantinya. Kepalanya menggeleng seolah berkata, ”Bukan ini”.
“Coba hyung dengarkan yang ini,” ujernya gembira sekaligus semangat.
Aku mengarkan dengan seksama. “Oppa… tenanglah. Aku percaya pada oppa. Jika image oppa harus seperti itu tidak apa-apa. Asal jangan kenyartaannnya saja. Asal aku tetap di posisi ketiga di hati oppa, setelah Tuhan dan orang tua oppa. Nae saranghae oppa….”
Mulutku membulat. Terkejut.
Changmin mencari lagi. “Bukan.” Ia mencari lagi. “Masih bukan,” katanya.
“Ah, ini dia.” Ia tersenyum lebar padaku. Aku tak sabar mendengarnya.
“Oppa… aku sudah lihat banjun drama kalian. Whaa~ oppa kau keren sekali. Andai aku jadi tokoh utama wanitanya… Oppa, boleh aku bilang kalau aku cemburu? Mianhae…oppa. Perasaan itu… benar-benar tak bisa kukendalikan... Ottokhe?”
Kepala Changmin miring ke kiri. Ia seolah bertanya, apa-pendapatmu-hyung.
“Jadi… gadis ini…”
Changmin mengangguk c epat sebelum aku menyelesaikan kalimatku.
“Kurasa dia kekasih Yoochun hyung. Aku yakin itu.” Ucapnya. Lagi-lagi penuh semangat.
Aku dan Changmin saling tatap. Takjub dengan temuan kami.
Kami keluar kamar, bermaksud mengabarkan berita penting ini pada Junsu dan Jae Joong yang sedang berbelanja. Langkah kami terhenti ketika si tokoh utama tampak sednag mencari sesuatu dengan cemas.
“Mencari apa?” tanyaku.
“Apa kau melihat hpku hyung? Terakhir kali aku duudk di sini. Kupikir tertinggal di sini.”
Aku melirik Changmin.
Yoochun menatap Changmin. “Min?”
Changmin tersenyum lebar. “Ini.” Ia menyerakannya. “Tapi.. mian hyung.. aku dan Yunho hyung tadi membuka isinya.”
Wajah Yoochun berubah.
Yoochun meraih HPnya. “Kalian mendengar semuanya?” suaranya melemah.
“Hampir…” ujer Changmin.
Yoochun terduduk di sofa. Syok mungkin.
“Eh? Ada apa?” Jae Joong dan junsu baru datang terkejut melihat kami. Mereka mendekat.
“Jadi… masih mau merahasiakannya dari kami?” ujerku santai pada Yoochun.
Yoochun tersenyum malu. Ia menggeleng. “Rasanya sudah tidak bisa lagi. Mian, karena merahasiakannya selama ini.”
“Soal apa?” Tanya junsu antusias.
“Jadi, ceritakan pada kami sekarang, hyung. Tetang cintamu itu.” Pinta changmin dengan mata puppy eyes-nya.
Yoochun menghela napas. Ia diam sesaat sambil menatap kami bergantian. “Dia.. Hyun Ae,” mulainya sambil menatap HPnya. “Lee Hyun Ae.” Ia tersenyum. Lebih lembut dari biasanya. Tampak dari binar matanya rasa sayang yang amat dalam untuk gadis itu. “Dia kekasihku.” Matanya menerawang.
Kami mengangguk.
“Aku menyimpan semua pesan suaranya agar bisa terus kudengarkan kalau aku tak biss menghubunginya ketika aku merindukannya. Aku menyimpannya di memori sticknya agar bisa kulepas saat aku selesai mendengarkannya. Jika ada yang menyentuh hpku, tetap aman. Tapi.. tadi kau malah meninggalkannya. Untung kalian yang menemukannya. Aku sudah cemas kalau-kalau terjatuh di jalan dan di temukan fans.”
Kami paham. Betapa berbahayanya jika hal tersebut sampai keluar.
“Karena tak bisa sering menelponnya, jadi, untuk mengobati rinduku aku selalu mendengarkan suaranya ini.”
“Arraseo..” ujer Junsu smabil menaggguk-anggukan kepalanya. Wajahnya sumringah. Sepertinya senang dengan kisah Yoochun ini.
“Tunggu, selama ini kau sering membaca majalah sambil memasang headset hp ini di telingamu. Jangan-jangan kau… mendengarkan suaranya ya?” tanya Jae Joong semangat.
Yoochun tertawa kecil sambil mengangguk. “Nde.” Ucapnya malu. Wajahnya memerah.
“Sudah berapa lama kau dengannya, Hyung?” Tanya Changmin menyelidik.
“Tujuh tahun…”
“Mwo???” kami terkejut bersamaan.
“Jadi…” aku mencoba menyimpulkan.
“Sebelum trainee aku sudah pacaran dengannya.” Ia menerawang dan… Tersenyum! Lebih manis dari yang pernah kami lihat. “kami backstreet dari teman-teman di sekolah juga orang tuanya. Dan ternyata harus berlanjut hingga kini.”
“Whoaa~. Kau berencana merahasiakannya sampai kapan?” Tanya Jae Joong sambil memajukan wajahnya ke depan Yoochun.
“Annio.. aku tidak bermaksud merahasiakannya dari kalian. Hanya takut kalau terlalu banyak yang tahu, aku tidak bisa melindunginya.”
“Jadi aku tidak percaya pada kami?” Tanyaku.
“A..anni.” Yoochun tampak gugup. “AKu tak bermaksud begitu, hyung. Aku sempat mau mengatakan pada kalian, bahkan berencana memperkenalkannya pada kalian, tapi…”
“Tapi apa?” Changmin tak sabar.
“Umm.. tapi… manajer hyung melarangku.”
“Eh??” aku terkejut.
“Manajer??” Tanya junsu. “Jadi dia tahu??”
Yoochun mengangguk.
“Sejak kapan?” tanyaku lambat.
“Dua tahun lalu.”
Kami mengangguk.
“Arraseo..” ujerku. Kalau sudah manajer yang bilang, apa boleh buat. Mungkin demi kebaikan kami semua.
“Kau… serius dengannya?” tanya Jae Joong.
Yoochun mengangguk. “Aku berniat membongkar semuanya pada kalian setelah aku melamarnya. Juga meminta maaf karena tak menceritakan tentangnya dari dulu. Tapi… tak disangka kalian mengetahuinya lebih cepat.”
“Ceritakan lebih banyak lagi tentang dia.” Pintaku. Semua mengangguk setuju.
----------------------------------------------------------------------

Kamis, 17 Mei 2012

Sinopsis Rooftop Prince Episode 17

Sinopsis Rooftop Prince Episode 17


Di tengah jalan, Yi Gak bertemu dengan Young Sul yang telah menunggunya dengan membawa sebuah mobil. Rupanya Yi Gak memerintahkan Young Sul untuk membawa mobil pengganti untuknya.


Young Sul meminta agar ia diperbolehkan ikut karena kondisi sekarang sangat membahayakan. Tapi Yi Gak menolak karena ini adalah masalah antara dirinya dan Tae Moo yang akan ia selesaikan sendiri.
Se Na datang ke hotel atas permintaan CEO Jang. Ia tak kaget saat mendengar kata-kata CEO Jang kalau ia telah menemukan putrinya. Se Na bertanya cemas, apakah In Joo telah ditemukan? CEO Jang mengatakan belum. Ia bercerita kalau memiliki 2 orang putri. Yang satu adalah In Joo, dan yang satu lagi adalah kakaknya, yaitu Se Na sendiri.
 “Setelah aku melahirkanmu, aku menitipkanmu untuk dirawat oleh kakak sehingga kau menganggapnya sebagai ibu kandungmu. Maafkan aku. Maafkan aku yang tak baik ini.”
Se Na sangat terkejut. Bukannya memeluk CEO Jang karena bahagia, ia malah meminta diri untuk keluar sebentar dengan alasan untuk menenangkan diri. 
Di luar, dengan gemetar ia menelepon Tae Moo dan memberitahukan kalau CEO Jang belum tahu kalau Park Ha adalah putrinya. Jadi ia meminta agar Tae Moo membatalkan rencananya dan membebaskan Park Ha.
Tapi sudah terlambat. Park Ha yang kedinginan di dalam truk, sekarang kelelahan karena menggedor-gedor pintu truk namun tak ada yang mendengarnya. Ia hanya dapat meringkuk dan menangis putus asa.
Tae Moo juga tak mau membatalkan rencananya karena target yang telah ditunggu akhirnya datang juga. Yi Gak datang sendirian dan melemparkan handphone itu padanya. Tae Moo mengancam Yi Gak agar tak berpikir untuk menyimpan copy foto itu, karena ia tak akan tinggal diam.
Yi Gak pun berkata, “Mulai sekarang, aku tak akan mengancammu lagi.”
Tae Moo tersenyum mendengarnya. Akhirnya si penipu itu mengerti juga maksudnya. Tapi Yi Gak melanjutkan, “Ancaman tak akan cukup bagimu. Aku akan membuatmu menyesal selamanya.”
Tae Moo tersenyum sinis mendengar ancaman Yi Gak. “Apakah kau tak ingin menyelamatkan Park Ha? Kalau begitu, jaga mulutmu. Dasar penipu.”
Tae Moo menjatuhkan kunci truk itu ke tanah dan mengatakan lokasi tempat truk itu. Ia menendang kunci itu, mengisyaratkan kalau Yi Gak harus menunduk untuk mengambil kunci itu.
Dan untuk pertama kalinya, Yi Gak sebagai pangeran harus menunduk untuk menyelamatkan Park Ha.
Tak cukup dengan itu. Saat Yi Gak memungut kunci, muncul segerombol preman yang langsung memukuli Yi Gak. Tae Moo tersenyum melihat Yi Gak melawan sia-sia, karena jumlah mereka sangatlah banyak.
Namun senyumnya tak lama, karena ada seseorang yang muncul dan menyelamatkan Yi Gak. Satu persatu preman itu dipukul sehingga Yi Gak  selamat.
“Yang mulia, cepat selamatkan Park Ha! Hamba yang akan mengurus mereka semua,” kata Young Sul.
Yay! Untung Young Sul tak mematuhi perintah Yi Gak. Benar-benar pengawal yang kompeten.
Yi Gak meminta Young Sul untuk berhati-hati dan ia pergi meninggalkan pengawalnya yang masih bertarung dengan para preman itu. Tae Moo yang melihat kalau kemampuan preman suruhannya tak sebanding dengan kemampuan Young Sul, buru-buru meninggalkan tempat itu juga.
Se Na menemui CEO Jang dan berlutut meminta maaf padanya. Ia sangat malu dan menyesal (karena penipuannya menjadi In Joo). CEO Jang membantu Se Na untuk berdiri dan berkata, “Saat kau berbohong, aku merasa kalau itu semua karena kesalahanku. Mari kita kembali ke Hong Kong dan mulai dari awal lagi.”
Yi Gak melarikan mobilnya cepat-cepat. Ia akhirnya menemukan truk yang dimaksud. Buru-buru ia mengeluarkan kunci truk. Tapi tangannya sangat gemetar hingga kunci itu jatuh. Akhirnya pintu itu terbuka juga.
Untuk kedua kalinya, ia melihat Park Ha meringkuk tak sadarkan diri. Ia memeluk Park Ha dan memanggil-manggilnya agar Park Ha tersadar. Park Ha akhirnya tersadar dan menangis lega dalam pelukan Yi Gak.
Yi Gak hanya dapat mempererat pelukannya untuk menenangkan Park Ha.
Ketiga Joseoners menunggu kedatangan Yi Gak. Chi San dan Man Bo menyuarakan kecemasannya akan keselamatan junjungannya dan Park Ha. Tapi Young Sul menenangkan mereka agar tak perlu khawatir.
Akhirnya kecemasan mereka berakhir karena Yi Gak datang membawa Park Ha. Mereka buru-buru membimbing Park Ha dan bersyukur atas keselamatannya.
Sepanjang malam Yi Gak menunggui Park Ha yang tertidur di kamar. Ia menggenggam tangan Park Ha dan membelai rambutnya, sehingga membuat Park Ha terbangun. Park Ha tersenyum melihat Yi Gak yang masih menungguinya. Yi Gak mengajak Park Ha untuk sarapan dan tentu saja sarapannya omurice.
Park Ha bangkit untuk membuatkan sarapan untuk mereka berdua. Tapi kepalanya masih terasa pusing dan Yi Gak menyuruhnya untuk istirahat karena Park Ha belum pulih benar. Tapi Park Ha tak mau. Ia masih ngotot ingin membuatkan sarapan untuk Yi Gak.
Maka Yi Gak mengecup bibirnya dan berkata, “Kalau kau tak diam, aku akan menutup mulutmu.”
Kemudian Yi Gak mengecup matanya dan berkata, “Kalau kau tak mau menutup matamu, aku akan menutupnya untukmu.”
Aww.. so … *speechless*
Park Ha kembali tersipu-sipu karena perlakukan Yi Gak yang tiba-tiba sangat romantis ini. Ia hanya bisa mengumamkan, “Dasar bodoh,” tapi membaringkan tubuhnya lagi untuk beristirahat.
Sarapan telah siap dan omurice yang dibuat Yi Gak terlihat berbeda. Park Ha memuji omurice Yi Gak yang kelihatan ‘menarik’ dan memakannya.
Dari ekspresi Park Ha yang menggumamkan ‘mmmhhh’ saat mengunyah omurice Yi Gak, sepertinya omurice Yi Gak memanglah menarik. Menarik, ya, bukannya enak. 
Yi Gak meminta Park Ha untuk beristirahat seharian di rumah. Tapi Park Ha tak mau. Ia akan menunjukkan pada Tae Moo kalau ia tak akan terpengaruh dengan kejadian kemarin dengan bekerja untuk CEO Jang karena hari ini adalah hari terakhir CEO Jang di Seoul.

Yi Gak merasa bersalah karena mereka tak bisa melaporkan Tae Moo yang akan mengakibatkan kedoknya ketahuan. Park Ha menenangkannya karena ia yakin suatu saat Tae Moo akan mendapat balasan 1000 kali lebih berat dari yang di atas.
Tapi kejadian dengan Tae Moo membuat Park Ha yakin kalau sebenarnya ibunya juga sedang mencarinya. Yi Gak bertanya apa yang akan ia lakukan selanjutnya? Park Ha akan mengiklankan foto itu di surat kabar, berharap ibu kandungnya akan melihatnya.
Di kamar, Park Ha mengambil foto itu dan memasukkannya ke dalam amplop. Ia berdoa agar ibunya bisa melihat foto itu.
Tae Moo merasa gembira mendengar kabar dari Se Na kalau Se Na benar-benar adalah anak CEO Jang. Yang berarti ia adalah benar-benar kakak Park Ha?
Se Na kesal mendengar pertanyaan Tae Moo dan meminta Tae Moo untuk tak mengungkit-ungkit masalah Park Ha menjadi adiknya. Hal itu membuat moodnya menjadi jelek.
Se Na juga meminta agar Tae Moo tak membicarakan masalah saham perusahaan sekarang karena ia akan melakukannya nanti tapi secara perlahan-lahan. Tae Moo menyetujuinya.
Park Ha membawakan barang-barang yang diperlukan CEO Jang ke kamar hotelnya. Ia menyadari kalau CEO Jang sedang gembira dan CEO Jang mengakuinya. CEO Jang melihat kalau Park Ha membawa amplop dan bertanya amplop apa itu. Park Ha menjelaskan kalau ia akan menaruh foto keluarganya di surat kabar dan mengiklankannya.
CEO Jang ingin melihat foto keluarga Park Ha dan Park Ha memberikan amplop itu padanya.
Butuh waktu sedetik untuk CEO Jang menarik foto itu dari dalam amplop, tapi sedetik itu adalah saat handphone CEO Jang berbunyi.
Ahhhh!!! *sebel sebel sebel*

CEO Jang meletakkan amplop itu dan mengangkat handphonenya. Ternyata telepon itu  dari Se Na, dan CEO Jang meminta Se Na untuk pergi ke rumah ibunya karena mereka harus berpamitan pada ibunya sebelum mereka berangkat ke Hong Kong.
Park Ha kaget saat mendengar kalau Se Na adalah putri CEO Jang. Apakah Se Na adalah In Joo yang dicari? CEO Jang menggeleng, ia masih belum menemukan In Joo tapi sejak awal ia tahu kalau Se Na adalah putrinya.
Setelah diberitahu kalau ibu kandungnya akan mendatangi rumahnya, Se Na buru-buru berpamitan pada Tae Moo. Ia segera pergi ke rumah ibunya.
Bukannya menenangkan ibunya yang akan kehilangan putri yang telah dibesarkan selama ini, Se Na malah mengemasi semua foto-foto yang tergantung di dalam rumah. Foto yang ada gambar ayah tirinya. Ia juga mengambil album foto yang telah ibu persiapkan di meja karena CEO Jang ingin melihatnya.
Ibu merasa heran pada Se Na yang merasa biasa-biasa saja padahal Se Na akan meninggalkannya. Se Na berdalih kalau kepergiannya ke Hong Kong bukan berarti ia tak akan menjadi putri ibu. Dan ia tak ingin CEO Jang melihat masa-masa kecilnya. Ia ingin kenangan masa kecilnya tersimpan hanya untuk kenangan ibu dan dirinya saja.
Ibu mengangguk mendengar kata-kata Se Na yang menghibur hatinya. Ia tak menyadari kalau Se Na melihat-lihat ke sekeliling rumah, mencari foto-foto yang mungkin terlewatkan olehnya.
CEO Jang diantar Park Ha untuk menemui ibunya dan Se Na di rumah. CEO Jang mengajak masuk karena rumah yang akan ia kunjungi adalah rumah Park Ha juga. Tapi dengan sopan Park Ha menolak, karena saat ini ia datang ke rumah ini sebagai sekretaris CEO Jang bukannya sebagai putri ibunya. Ia merasa lebih baik jika CEO Jang, Se Na dan ibunya berbicara bertiga saja.
Ibu telah menyiapkan makanan kesukaan Se Na dan mengatakan pada CEO Jang apa kesukaan Se Na dan apa yang tak disukainya. Tapi ibu tak dapat menahan air matanya, membuat CEO Jang trenyuh dan berterima kasih karena telah membesarkan Se Na dengan baik. “Walaupun aku membawanya pergi untuk sementara waktu, tapi ia tetaplah putrimu. Aku akan menyuruhnya pulang, kapanpun kau merindukannya.”
Bukannya menjawab, ibu malah mengalihkan perhatian pada sup rumput lautnya yang sudah mulai dingin. Ia berkata akan memanaskannya. Sebelum air matanya mengalir lebih banyak lagi, ibu mengambil panci sup dan membawanya ke dapur.
Tapi karena menangis, ibu tak memanaskan panci sup dengan benar. Malah tangannya terkena api, membuatnya menjerit perlahan.
Dari tempat duduknya, Se Na memanggil ibu dengan khawatir. Tapi sambil menangis, ibu menenangkannya dan berkata kalau ia menangis karena tangannya terasa sakit terkena api. Namun kebohongannya tak dapat ditutupi karena ia terus menangis walaupun air kran telah mengucur mendinginkan tangannya yang terbakar.
CEO Jang bangkit dan hanya dapat memeluk temannya.
Walaupun handphone Tae Young telah diserahkan, foto-foto New York masih tersimpan rapi di laptop (Yay! Detektif Yi Gak sudah melek tekhnologi). Dan Yi Gak menunjukkan foto itu pada Park Ha.
Mulanya Park Ha tak mengenali foto itu, tapi matanya terbelalak saat Yi Gak men-zoom in sosok gadis yang ada di belakang Tae Moo dan Tae Young. Gadis itu adalah dirinya. Dan ia menyadari kalau Tae Young dan Tae Moo pernah bertemu di pub tempatnya bekerja dan kartu pos yang bergambar wajahnya pasti dari Tae Young yang saat itu pergi bersama sepupunya.
Yi Gak membenarkan hal itu walaupun Tae Moo selalu berbohong dan berkata tak pernah menemui Tae Young di New York.
“Aku tak akan mempermainkannya lagi,” kata Yi Gak sambil memakai kaca mata Tae Young dan meneruskan, “Aku akan benar-benar menghancurkannya.”
Tae Moo menunggu kedatangan sepupunya di restoran. Mereka berjanji untuk makan siang bersama. 
Akhirnya Tae Young datang dan Tae Moo menanyakan absennya Tae Young di kantor. Biasanya Tae Young selalu datang ke kantor, mengapa kali ini tidak? Tae young menjawab santai, “Aku jalan-jalan mengelilingi kota sampai malam. Lagipula aku tak cocok di dalam perusahaan. Kan ada kau yang mengurus perusahaan.”
Tae Young mengajak sepupunya masuk ke restoran dan berlagak mencari-cari seseorang, membuat Tae Moo ingin tahu, siapa yang dicari Tae Young? Tae Young ingin mengenalkan Tae Moo pada seseorang tapi karena orang itu belum datang, ia ingin ke toilet terlebih dahulu.
Saat itulah Park Ha datang, mengagetkan Tae Moo. Park Ha menyindir saat menyapanya, “Kau pasti kemarin tidur nyenyak karena kejadian kemarin malam.”
“Kau seharusnya melaporkanku pada polisi,” kata Tae Moo.
“Aku tak akan melaporkanmu.”
Tae Moo tersenyum mengejek Park Ha, “Kau tak dapat melaporkanku karena si penipu itu. Aku akan memberi saran padamu. Kau harus memilih pacar dengan hati-hati.”
Tae Moo tak menyadari kalau Yi Gak mengawasinya dan ia melanjutkan kata-katanya, “Tak ada yang bisa kita bicarakan lagi, jadi minggirlah dariku. Jangan dekat-dekat denganku lagi.”
Tapi Park Ha hanya menjawab, “Aku ada janji bertemu dengan seseorang di tempat ini.”
Bersamaan dengan itu, Yi Gak menghampiri mereka berdua dan bertanya pada Tae Moo, “Hyung, apakah kau mengenalnya?”
Tae Moo segera membantah kalau ia mengenal Park Ha. Tapi betapa terkejutnya ia saat Park Ha menyapa sepupunya dengan sopan dan sepupunya balas menyapa juga, malah mempersilakan Park Ha duduk bersama mereka.
Tae Moo lebih kaget lagi saat sepupunya bercerita kalau kemarin ia bertemu dengan Park Ha di kantor dan ia merasa pernah mengenalnya.
“Karena ia mirip dengan seseorang yang kukenal, jadi saat bertemu aku selalu memandanginya,” Park Ha menjelaskan dengan ‘ramah’ pada Tae Moo.
“Saat itu kami berbicara dan aku baru mengetahui kalau kami pernah bertemu di New York,” lanjut Tae Young membuat Tae Moo waspada. Tae Young bertanya pada Park Ha, “Apakah kau membawanya?”
Park Ha menyerahkan kartu pos bergambar dirinya pada Tae Young. Tae Young menerima kartu pos itu dan berkata pada Tae Moo, “Menurut gadis ini, aku yang menggambarnya, dan kupikir aku sedikit mengingatnya.”
“Saat itu kalian datang bersama,” kata Park Ha tiba-tiba.
“Apa?” tanya Tae Moo kaget.
“Kupikir aku melihat kalian berdua di pub tempatku bekerja di New York,” kata Park Ha menjelaskan.
“Kau salah melihat orang,” bantah Tae Moo mulai gelisah.
Yi Gak melihat Tae Moo mulai seperti cacing kepanasan dan berkata pada Park Ha, “Hyungku tak pernah bertemu denganku di New York, jadi kau pasti salah lihat.”
Park Ha pun mengikuti akting Yi Gak dan hanya meng ‘hmmmm.. iya ya?’
Tapi pertemuan ini sudah membuat Tae Moo gerah karena takut kedoknya terbongkar di depan Tae Young (note: ia masih mengira kalau ada dua Tae Young: Tae Young palsu-yang kemarin menyelamatkan Park Ha- dan Tae Young asli –sepupunya yang sekarang berdiri di hadapannya-).
Agar kedoknya tak terbongkar, ia buru-buru pamit dengan alasan banyak pekerjaan di kantor. Tapi Tae Young menahannya dan berkata, “Kenapa kau seperti ini? Pertemuan dengannya adalah sesuatu yang luar biasa,  Jadi aku ingin menceritakan hal ini padamu.”
Akhirnya Park Ha yang pamit terlebih dulu. TinggalTae Moo bersama Tae Young yang berkata kalau mungkin ia pernah menyukai Park Ha karena ia pernah menggambarnya. Sambil mendesah ia berkata kalau saja ia tak mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, ia mungkin telah berpacaran dengan Park Ha di New York.
Hmm.. Tae Moo belum sadar juga dan pasti kejadian ini membuat Tae Moo bertanya-tanya kalau Tae Young palsu pasti masih menyimpan foto New York dan sekrang menyuruh Park Ha untuk menerornya.
Jadi sekarang ia pergi ke rumah Tae Young dan menemukan laptop yang tersimpan di balik tumpukan buku. Ia membuka laptop itu dan kecurigaannya terbukti, kalau foto-foto itu masih ada. Ia menggeram marah, “Dasar pengecut!”
Belum sempat ia mengambil laptop itu, sepupunya muncul dan bertanya apa yang sedang Tae Moo lakukan di kamarnya. Tae Moo tersenyum gugup dan buru-buru berkata, “Aku mencari buku bacaan dan menemukan laptop ini. Apakah kau sering menggunakannya?”
Yi Gak tersenyum dan mengikuti kebohongan Tae Moo, “Tidak. Aku tak menggunakannya karena laptop itu laptop lama.” Ia mengambil sebuah buku tebal dan berkata pada Tae Moo, “Bacalah buku ini kalau kau tak dapat tidur.”
Tae Moo memaksakan senyumnya saat ia meletakkan laptop itu dan mengambil buku tebal yang diberikan sepupunya.
Hehe.. on random thought, Yi Gak benar saat menyarankan sebuah buku yang setebal buku  literatur agar Tae Moo bisa tidur. Saya juga akan tidur sebelum satu bab selesai dibaca. LOL.
Malamnya, Park Ha memberitahukan Yi Gak kalau Se Na adalah putri sebenarnya dari CEO Jang. Yi Gak kaget walau ia kemudian memberitahukan dugaan yang selama ini selalu mengganggunya. 
“Di Joseon, Bu Young dan Hwa Young adalah saudara kandung tapi di jaman ini kalian bukanlah saudara kandung. Tapi sekarang baru diketahui kalau Se Na memiliki ibu kandung yang telah terpisah, dan kau juga.. Mungkin kalian juga seperti di Joseon, saudara sekandung juga. Dan kau juga adalah putri CEO Jang.”
Park Ha membantah dugaan itu, tapi tak dapat dibantah kalau pemikiran Yi Gak terselip juga dalam pikirannya.
Yi Gak memijat kaki nenek, membuat nenek merasa senang karena sudah lama cucunya tak melakukan hal seperti ini lagi. Ia juga memperhatikan kalau cucunya sudah tak pernah melukis lagi.
Dan dengan tangkas Yi Gak menjawab, “Sekarang handphone juga sudah bisa mengambil gambar-gambar yang bagus, jadi tak perlu susah-susah menggambar lagi, nek.”
Yi Gak mengambil handphonenya dan mengambil selca bersama nenek. Nenek sangat gembira dan tapi Tante yang melihatnya malah cemburu melihat kedekatan nenek dan cucunya.
Nenek semakin membuat Tante kesal dengan menyuruhnya untuk segera memiliki cucu dan ia pun menjawab, “Bagaimana mau punya cucu? Punya anak saja tidak!”
LOL.
Nenek ingin makan mie dan Yi Gak menawarkan diri untuk pergi membelinya. Tapi nenek menolaknya, “Aku lebih suka begini, bersamamu. Aku tak ingin yang lainnya lagi. Bersamamu seperti ini sudah cukup bagiku.”
Yi Gak tersenyum pada Nenek dan mengiyakannya.
Tae Moo menyuruh Se Na untuk mengambil laptop yang ada di kamar Tae Young. Rupanya ia takut sepupunya suatu saat akan melihatnya. Caranya? Ia akan mengajak sepupunya untuk pergi dan sementara itu Se Na ke rumah untuk mengambilnya.
Maka Se Na pergi ke rumah Tae Young dan masuk dengan menggunakan kunci yang ia miliki. Kebetulan pembantu rumah tangga Tae Young telah pulang. Jadi Se Na dapat masuk rumah dengan leluasa.
Tae Moo menahan Yi Gak untuk minum bir di pub selama mungkin. Setelah Tae Young merasa cukup dengan birnya, Tae Moo mengajak sepupunya untuk minum anggur.
Walaupun sedikit curiga, Yi Gak mengikuti permainan Tae Young.
Di dalam kamar Tae Young, Se Na akhirnya menemukan laptop yang dimaksud Tae Moo. Sebelum mengambilnya, ia melihat dulu isinya. Betapa terkejutnya Se Na melihat foto yang ada di dalam laptop itu, “Apa ini? Bukankah ini foto Tae Young dan Tae Moo?”
Sejenak ia terkejut, sejenak kemudian ia terpaku. Ia merasa ada kehadiran orang lain di kamar Tae Young. Ia pun berbalik, dan..
Ada nenek berdiri di belakangnya dengan pandangan curiga. Buru-buru Se Na menutup laptop Tae Young dan menyapa nenek dengan canggung. Tapi nenek tak dapat ditipu. Ia mendengar seruan Se Na tadi dan bertanya apa yang sedang dilihat Se Na? Apakah ada foto Tae Moo dan Tae Young  di dalam sana?
Se Na membantah hal itu, dan buru-buru mengambil laptop dan menyingkir pergi keluar kamar. Tak sengaja kunci rumahnya terjatuh di dekat pintu kamar Tae Young.
Tapi nenek tak membiarkan Se Na pergi. Ia mengejar Se Na sampai ke ujung tangga, meneriakinya agar berhenti. Tapi Se Na tak mau berhenti, membuat nenek harus menghentikannya dengan mencoba mengambil laptop dari pelukan Se Na.
Se Na gugup dan menarik laptop itu sehingga nenek ikut tertarik..
.. dan terguling jatuh dari tangga.
Se Na berteriak memanggil nenek, tapi nenek tak segera bangun. Malah ada darah keluar dari kepalanya. Se Na panik ketakutan melihat nenek tak sadarkan diri. Ia buru-buru pergi meninggalkan rumah.
Ia meninggalkan rumah secepat-cepatnya, tak memperhatikan kalau ada dua orang yang mobilnya terserempet. Setelah yakin semua aman, Se Na mengirim SMS pada Tae Moo.
Tae Moo menerima SMS Se Na “Sesuatu yang buruk telah terjadi. Segera telelpon aku.”. Tae Moo pun mengajak Tae Young untuk pulang.
Ia menemui Se Na yang gemetar ketakutan, mengaku kalau ia tak melakukan apapun pada nenek dan nenek jatuh sendiri. “Kau percaya padaku, kan? Tak akan terjadi sesuatu, kan?” tanya Se Na setengah memohon. 
Tae Moo memeluk Se Na dan menenangkannya, “Apapun yang terjadi, semuanya itu hanyalah kecelakaan. Aku akan melindungimu.”
Yi Gak pulang ke rumah dengan membawakan mie untuk nenek. Di depan rumah, ia melihat ada bekas kecelakaan mobil. Ia merasa sedikit curiga melihat pintu halaman terbuka.
Betapa kagetnya saat ia masuk rumah dan melihat nenek tergeletak di ruang tengah dengan kepala bersimbah darah. Yi Gak berlari dan memeluk nenek, memintanya untuk bangun.
Nenek dikirim ke UGD dengan semua anggota keluarga menunggu dengan cemas. Tante tak henti-hentinya menangis, membuat Taek Soo harus menenangkannya. Dokter keluar dan mereka semua mengerubungi dokter, ingin tahu bagaimana kesehatan nenek.
Dan dokter memberitahukan, “Kami sudah berusaha semampunya tapi kami tak mampu menyelamatkannya. Beliau telah meninggal dunia.”
Semua tak percaya mendengar perkataan dokter. Tangis Tante pecah lagi,  sehingga Taek Soo harus memeluknya. Yi Gak terpana tak mampu berkata apapun dan Tae Moo yang juga terkejut, buru-buru segera pergi.
Setelah mendengar kabar dari Tae Moo, Se Na tak henti-hentinya menyalahkan diri sendiri dan bingung apa yang harus ia lakukan sekarang. Tae Moo menyuruhnya untuk segera berangkat ke Hong Kong. Tinggal di sana dan anggaplah tak ada sesuatu yang terjadi di sini sampai ia menelepon Se Na.
Nenek dimakamkan dan Yi Gak duduk terpekur di depan foto nenek. Ia teringat akan kenangan terakhirnya bersama nenek dan harapan nenek untuk selalu bersama dengannya (sebagai Tae Young). Tante mengajak Yi Gak untuk pulang.
Di rumah, Yi Gak masuk kamar dan kakinya menyandung sebuah benda. Sebuah kunci rumah. Ia langsung curiga dan segera mencari  laptopnya. Dan laptopnya menghilang. Ia segera merangkai semua kejadian dan kecurigaannya mengarah pada satu orang.
Se Na pulang ke apartemen dan mencari kuncinya. Tapi karena gugup, tasnya terjatuh dan semua isinya tercerai berai. Putus asa karena tak segera menemukan kuncinya, ia hanya mengembalikan isinya ke dalam tasnya lagi dan memencet password key-nya.
Ia segera mengambil semua baju yang bisa diraihnya dan memasukkannya ke dalam koper. Tapi karena terburu-buru dan seadanya, saat ia menutup koper, koper itu tak dapat tertutup. Sekeras apapun Se Na menutupnya, koper itu tetap menolak untuk tertutup. Se Na berteriak putus asa dan menangis tersedu-sedu.
Akhirnya CEO Jang dan Se Na berangkat ke bandara dan diantar oleh Park Ha. CEO Jang mengembalikan amplop yang berisi foto keluarga Park Ha dan mendoakan agar Park Ha dapat menemukan ibu kandungnya. Park Ha berterima kasih, namun Se Na hanya terdiam.
CEO Jang juga berkata pada Se Na, “Walaupun kau adalah putriku, tapi kau harus tetap menjadi kakak Park Ha, ya.” Tak ada kata lain yang terucap dari mulut Se Na selain kata iya.
Di bandara, sebelum berpisah CEO Jang memberikan uang untuk semua pekerjaan yang telah Park Ha lakukan. Ia juga memberikan uang lebih untuk pencarian ibu kandung Park Ha. Park Ha berterima kasih dan mereka pun berpisah.
 
Hanya saja, setelah berpisah kata-kata Yi Gak kembali terngiang-ngiang di telinga Park Ha. Kata-kata Yi Gak tentang kemungkinan CEO Jang adalah ibu kandungnya.
Park Ha berbalik dan berlari ke tempat mereka berpisah tadi. Ia mencari-cari CEO Jang, dan akhirnya menemukannya sedang duduk sendirian.

Ia segera menghampiri CEO Jang yang kaget karena Park Ha menemuinya kembali. Park Ha meminta CEO Jang meluangkan waktu sebentar untuknya dan ia mengangsurkan amplop foto itu pada CEO Jang sambil bertanya, “Apakah Anda mungkin mengenali foto di dalam amplop ini?”
CEO Jang menerima amplop itu dan menarik foto di dalamnya. Matanya terbelalak melihat foto yang sama dengan miliknya hanya wajahnya saja yang hilang dan ia menyadari kalau, “Kau adalah In Joo?”
Mata Park Ha berkaca-kaca mendengarnya, “Namaku adalah In Joo?”
CEO Jang segera memeluk Park Ha erat dan walaupun sambil terisak, ia tetap memanggil In Joo berkali-kali pada Park Ha.
Se Na yang baru saja kembali dari menelepon Tae Moo, kaget melihat ibunya dan adiknya berpelukan. Ia segera menyadari apa yang telah terjadi.
Bukannya naik pesawat, Se Na naik bis dan mengirim SMS pada CEO Jang, “Maafkan aku, Bu. In Joo yang Ibu cari adalah Park Ha. Maafkan aku karena tak memberitahukan padamu. Aku sangat menyesal dan malu sehingga aku tak dapat ikut denganmu untuk kembali ke Hong Kong. Selamat tinggal.”   


Tae Moo kaget saat Se Na menelepon dan memberitahukan kalau ia tak jadi berangkat ke Hong Kong. Tae Moo menyuruh Se Na untuk ke apartemen mereka terlebih dahulu dan ia akan menemuinya ke sana.
Tae Moo tak menyadari kalau Yi Gak mendengar percakapannya di telepon.
Se Na minum alcohol bergelas-gelas. Ia mendengar suara pintu terbuka dan tanpa menoleh ia berkata dengan gusar, “Bagaimana mungkin kau menyuruhku untuk mendatangi pemakaman nenek? Dan bagaimana mungkin kau berdiri di pemakaman nenek? Apakah kau tak takut?”
Ia menunggu jawaban, tapi tak ada sahutan dari Tae Moo. Ia menoleh dan terbelalak kaget. Ternyata Tae Young masuk ke apartemennya, dan dengan marah menghampirinya.
Sesaat kemudian Tae Moo muncul dan kaget melihat sepupunya masuk ke dalam apartemennya.
Ia mencoba menyapa Tae Young, tapi Tae Young membalikkan tubuhnya dan langsung memukul Tae Moo,
“Kau bajingan!”