Jumat, 18 Mei 2012

FF: Sadness part 1

Title: Sadness
Cast: Yoochun, Hyun Ae, and other member DBSK

 SADNESS
Part 1
Aku jung Yunho. Leader dari grup DBSK. Ah, kurasa thal ini tidak perlu ku tulis bukan?
Aku sengaja menulis kisah ini di sini. Di website resmi kami. Kuharap para cassie yang membacanya memahami perasaan kami. Terutama perasaannya.
Kalian boleh menyebarkan cerita ini ke grup kalian. Dan bagi yang bisa menerjemahkannya ke dalam bahasa inggris, ku mohon bantuan kalian juga. Sebarkan kisah ini agar hal yang menyakitinya- juga menyakiti kami- tidak terualang lagi. Dan kuharap juga tidak terjadi dengan idola kalian yang lain.
Sebelumnya maaf kalau cara menulisku tidak baik. Tidak mengalir seperti halnya kalian menulis FF untuk kami. Aku hanya ingin menyampaikan kesedihannya pada kalian.
“Rain in my heart… mou yamanai…”
Aku mendengar senandung serak di belakangku. Bukan, ini bukan suara Kim Junsu. Aku kenal betul suara ini milik siapa. Ini.. suara milik crying baby kami, Park Yoochun.
Aku menoleh ke belakang. Ia tampak bersandar di tiang jendela. Menatap pilu pada butir-butir hujan di luar sana. Ia masih bersenannndung ketika kudapati bulir air matanya jatuh. Di genggaman tangannya tergenggam kotak cantik. Aku tahu isi di dalamnya. Ia sempat memperlihatkannya pada kami. Benar. Sepasang cincin pernikahan. Aku tahu, sekali lagi dia menangisi gadis itu.
Sudah tiga bulan dia begitu. Dan selama itu pula yang kutemukan di wajahnya hanyalah lekuk sendu. Sesekali kudapati ia menangis diam-diam di kamarnya. Ah, siapapun pasoi akan sama sedihnya dengan dia jika mengalami hal yang sama.
Aku ingat, tiga bulan lalu, pada malam hari, di hari yang seharusnya jadi hari pernikahannya.

-flashback-
Denting piano terdengar dari ruang tengah. Aku bangun perlahan dan mengintip. Kudapati Yoochun tengah duduk di depan piano, memainkannya dengan wajah beruari air mata.
“Gomapta nae nomumollojoso… molinda…” ia bernyanyi tertahan. Aku tahu, lagu ini seharusnya dinyanyikan dengan bahagia di pesta pernikahan.
Air mata crying baby kami deras berjatuhan.
Dengan perlahan aku membuka pintu dan mendekat ke arahnya.
Isakannya terdengar jelas di sela lagunya.
“Yoochun-ah..” panggilku.
Ia menatapku dengan matanya yang merah. Ia berhenti memainkan tuts piano itu. “Bagaimana menurutmu, hyung? Lagu ini bagus kan?” senyum pedihnya menusuk hatiku. Tajam.
Aku bergeming. Pilu di matanya makin menyayat-nyayat seluruh persendianku.
“Aku berencana menyanyikan lagu ini di perbnikahan kami, hyung.” Ia kembali menjatuhkan tatapannya ke piano. Satu titik air jatuh di atas tutsnya.
“Kau tahu, hyung? Lagu ini…” lirihnya pelan, “adalah ungkapan terima kasihku padanya.”
Aku tak bisa mengatakan apapun melihat wajah pilunya itu.
“Tapi… aku tak sempat menyampaikannya padanya.” Butiran yang jatuh ke tuts piano tersebut semakin banyak.
Aku menggigit bibir bawahku. Menahan kabut yang menggenang di mataku agar tidak jatuh.
“Wae…??” bisiknya.
Apa yang harus ku katakabn?
“Wae hyung…?” isakannya kembali terdengar. “Wae…” suaranya tertelan kesedihannya yang dalam.
“Gumanhae, Yoochun hyung…” kudengar suara Changmin. Sejak kapan dia di sini?
Junsu juga. Ia mendekat dan menepuk pundak Yoochun. Air mata juga menggenang di pelupuk matanya.
“Ini mimpi kan??” ia meminta pembenaran dari kami.
Jae Joong menyeka air matanya yang jatuh.
“Katakan padaku yang terjadi cuma mimpi. Mimpi burukku…” isak Yoochun menjadi.
“Yoochun-ah..” jae joong mencoba bersuatra tapi gagal. Ia yang mudah menangis tak bisa menahan isakannya.
“Katakan itu mimpi, hyung.” Suara Yoochun makin memilukan hati siapapun yang mendengarnya.
Aku menepuk pundaknya. Berharap ia mampu menguatkan hatinya.
Kami menuntunnya ke sofa. Tangis masih menyelimuti wajahnya hingga akhirnya dia tertidur.
“Kajjima, Hyun Ae-ah…” igaunya. Air mata meleleh lagi dari sudut matanya.
-end flashback-

Seperti kataku, kebahagian menjadi lima kali lipat dan kesedihan di bagi jadi lima. Sedihnya, sedih kami juga.
Kalian mungkin tak menyangka jika ia akan menagis sehebat itu karena seorang gadis yang amat dicintainya pergi. Pergi dan tak akan pernah kembali.
Siapa yang tidak sesakit itu?!! Delapan tahun! Apa kalian tahu arti delapan tahunnya bersama gadis itu? HIDUPNYA!! Tapi setega itu seseorang menghancurkan segalanya!
Yoochun mati-matian selama delapan tahun menyembunyikan sosok gadis itu dari kalian. Ia tak ingin kalian melukainya. Sosok yang bahkan baru kami ketahui satu tahun terakhir. Sosok yang seketika membuat kami sadar betapa setianya Park Yoochun kami.

-flashback-
Aku sedang membuat lirik rap pada lagu terbaru kami, ketika Changmin mengguncang-guncang tubuhku dengan semangat.
“Wae?” Bukannya menjawab, si maknae ini justru menutup pintu kamar dan memasang headset ketelingaku.
Aku menatapnya bingung.
“Dengar, hyung!” perintahnya. Ia memencet tombol dan…
“Oppa..” suara seorang gadis. Aku memandang Changmin penuh selidik. “Sedang apa? Aku baru saja selesai mengejakan tugas kuliahku. Capeknya… Oppa sendiri? Baik-baik saja kan?”
“Nugu?” tanyaku usai mendengar kalimat itu.
Changmin mengakat bahunya. “Ini milik Yoochun hyung. Coba lihat dan dengar yang lain. Semua isisnya suara gadis ini!” wajah Changmin menunjukan dia sudah menemukan sebuah rahasia besar.
“Jeongmal?” aku segera mengeceknya. Omo!! Suara itu lagi!
“Hey oppa… suka dengan syal yang kuberi? Bagus kan? Tapi… tanganku sampai penuh luka membuatnya. A~, jangan panik oppa! Aku bohong padamu, hehe… Aku kan sudah sering merajut, jadi mana mungkin penuh luka. O, ya, bagaimana hari ini? Menyenangkan? Trainee tak membuat oppa lupa menjaga kesehatan kan? Jangan lupa oppa, di sini ada aku yang mencemaskanmu. Saranghae, oppa..”
Kupandang Changmin. “Menurutmu siapa dia?”
“Aku curiga dia…” Changim menggantung kalimatnya. Ia mengambil sebelah headset dan memasang di telinganya. Ia memainkan rekaman suara yang ada, lalu menggantinya. Kepalanya menggeleng seolah berkata, ”Bukan ini”.
“Coba hyung dengarkan yang ini,” ujernya gembira sekaligus semangat.
Aku mengarkan dengan seksama. “Oppa… tenanglah. Aku percaya pada oppa. Jika image oppa harus seperti itu tidak apa-apa. Asal jangan kenyartaannnya saja. Asal aku tetap di posisi ketiga di hati oppa, setelah Tuhan dan orang tua oppa. Nae saranghae oppa….”
Mulutku membulat. Terkejut.
Changmin mencari lagi. “Bukan.” Ia mencari lagi. “Masih bukan,” katanya.
“Ah, ini dia.” Ia tersenyum lebar padaku. Aku tak sabar mendengarnya.
“Oppa… aku sudah lihat banjun drama kalian. Whaa~ oppa kau keren sekali. Andai aku jadi tokoh utama wanitanya… Oppa, boleh aku bilang kalau aku cemburu? Mianhae…oppa. Perasaan itu… benar-benar tak bisa kukendalikan... Ottokhe?”
Kepala Changmin miring ke kiri. Ia seolah bertanya, apa-pendapatmu-hyung.
“Jadi… gadis ini…”
Changmin mengangguk c epat sebelum aku menyelesaikan kalimatku.
“Kurasa dia kekasih Yoochun hyung. Aku yakin itu.” Ucapnya. Lagi-lagi penuh semangat.
Aku dan Changmin saling tatap. Takjub dengan temuan kami.
Kami keluar kamar, bermaksud mengabarkan berita penting ini pada Junsu dan Jae Joong yang sedang berbelanja. Langkah kami terhenti ketika si tokoh utama tampak sednag mencari sesuatu dengan cemas.
“Mencari apa?” tanyaku.
“Apa kau melihat hpku hyung? Terakhir kali aku duudk di sini. Kupikir tertinggal di sini.”
Aku melirik Changmin.
Yoochun menatap Changmin. “Min?”
Changmin tersenyum lebar. “Ini.” Ia menyerakannya. “Tapi.. mian hyung.. aku dan Yunho hyung tadi membuka isinya.”
Wajah Yoochun berubah.
Yoochun meraih HPnya. “Kalian mendengar semuanya?” suaranya melemah.
“Hampir…” ujer Changmin.
Yoochun terduduk di sofa. Syok mungkin.
“Eh? Ada apa?” Jae Joong dan junsu baru datang terkejut melihat kami. Mereka mendekat.
“Jadi… masih mau merahasiakannya dari kami?” ujerku santai pada Yoochun.
Yoochun tersenyum malu. Ia menggeleng. “Rasanya sudah tidak bisa lagi. Mian, karena merahasiakannya selama ini.”
“Soal apa?” Tanya junsu antusias.
“Jadi, ceritakan pada kami sekarang, hyung. Tetang cintamu itu.” Pinta changmin dengan mata puppy eyes-nya.
Yoochun menghela napas. Ia diam sesaat sambil menatap kami bergantian. “Dia.. Hyun Ae,” mulainya sambil menatap HPnya. “Lee Hyun Ae.” Ia tersenyum. Lebih lembut dari biasanya. Tampak dari binar matanya rasa sayang yang amat dalam untuk gadis itu. “Dia kekasihku.” Matanya menerawang.
Kami mengangguk.
“Aku menyimpan semua pesan suaranya agar bisa terus kudengarkan kalau aku tak biss menghubunginya ketika aku merindukannya. Aku menyimpannya di memori sticknya agar bisa kulepas saat aku selesai mendengarkannya. Jika ada yang menyentuh hpku, tetap aman. Tapi.. tadi kau malah meninggalkannya. Untung kalian yang menemukannya. Aku sudah cemas kalau-kalau terjatuh di jalan dan di temukan fans.”
Kami paham. Betapa berbahayanya jika hal tersebut sampai keluar.
“Karena tak bisa sering menelponnya, jadi, untuk mengobati rinduku aku selalu mendengarkan suaranya ini.”
“Arraseo..” ujer Junsu smabil menaggguk-anggukan kepalanya. Wajahnya sumringah. Sepertinya senang dengan kisah Yoochun ini.
“Tunggu, selama ini kau sering membaca majalah sambil memasang headset hp ini di telingamu. Jangan-jangan kau… mendengarkan suaranya ya?” tanya Jae Joong semangat.
Yoochun tertawa kecil sambil mengangguk. “Nde.” Ucapnya malu. Wajahnya memerah.
“Sudah berapa lama kau dengannya, Hyung?” Tanya Changmin menyelidik.
“Tujuh tahun…”
“Mwo???” kami terkejut bersamaan.
“Jadi…” aku mencoba menyimpulkan.
“Sebelum trainee aku sudah pacaran dengannya.” Ia menerawang dan… Tersenyum! Lebih manis dari yang pernah kami lihat. “kami backstreet dari teman-teman di sekolah juga orang tuanya. Dan ternyata harus berlanjut hingga kini.”
“Whoaa~. Kau berencana merahasiakannya sampai kapan?” Tanya Jae Joong sambil memajukan wajahnya ke depan Yoochun.
“Annio.. aku tidak bermaksud merahasiakannya dari kalian. Hanya takut kalau terlalu banyak yang tahu, aku tidak bisa melindunginya.”
“Jadi aku tidak percaya pada kami?” Tanyaku.
“A..anni.” Yoochun tampak gugup. “AKu tak bermaksud begitu, hyung. Aku sempat mau mengatakan pada kalian, bahkan berencana memperkenalkannya pada kalian, tapi…”
“Tapi apa?” Changmin tak sabar.
“Umm.. tapi… manajer hyung melarangku.”
“Eh??” aku terkejut.
“Manajer??” Tanya junsu. “Jadi dia tahu??”
Yoochun mengangguk.
“Sejak kapan?” tanyaku lambat.
“Dua tahun lalu.”
Kami mengangguk.
“Arraseo..” ujerku. Kalau sudah manajer yang bilang, apa boleh buat. Mungkin demi kebaikan kami semua.
“Kau… serius dengannya?” tanya Jae Joong.
Yoochun mengangguk. “Aku berniat membongkar semuanya pada kalian setelah aku melamarnya. Juga meminta maaf karena tak menceritakan tentangnya dari dulu. Tapi… tak disangka kalian mengetahuinya lebih cepat.”
“Ceritakan lebih banyak lagi tentang dia.” Pintaku. Semua mengangguk setuju.
----------------------------------------------------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar