Kamis, 17 Mei 2012

Sinopsis Rooftop Prince Episode 8 - 2



Sinopsis Rooftop Prince Episode 8

Tak hanya Yi Gak yang kaget. Man Bo, Chi San dan Young Sul terkejut mendengar kata suami, keluarga dan anak-anak.



Sinopsis Rooftop Prince Episode 8
Ibu menceritakan kalau salah satu kenalannya pernah melihat Park Ha dan ingin menjodohkan dengan anaknya. Mula-mula Park Ha menolak, tapi ibu mengatakan kandidat yang disodorkan ibu kali ini sangatlah bagus. Dia seorang guru SD dan sangat tampan, dan ibu meminta agar Park Ha tak menolak dulu dan menemui pria itu. Ia telah mempersiapkan segalanya, Park Ha hanya perlu mempersiapkan diri.

Sinopsis Rooftop Prince Episode 8
Ibu kembali mengagumi rumah baru Park Ha tapi ia menyadari kalau ada empat pria yang tergantung di lantai dua, memperhatikannya dan Park Ha. Dan ia tak nyaman dengan perhatian teman serumah Park Ha.

Park Ha buru-buru mengisyaratkan Yi Gak agar mereka menyingkir dulu. Tapi Yi Gak tak mau. Tanpa bersuara, mulutnya membuka dan berkata, “Ini rumahku.”

Man Bo dan Chi San cukup kaget dengan perjodohan Park Ha. Tapi tak sekaget Young Sul yang terlihat sedih. Ketika hanya bertiga, Chi San bertanya apa ada  pria yang mau pada Park Ha dan Man Bo pun menjawab, memberi alasan logis, pasti ada beberapa pria yang aneh di luar sana.

Mereka memperhatikan Young Sul yang terduduk lesu di lantai, dan mengingatkan Young Sul kalau mereka akan pergi berolahraga. Tapi Young Sul menolak, karena ia tak enak badan dan ingin beristirahat.

“Ayolah.. jangan berpura-pura sakit. Kita keluar sekarang, ya?” tanya Man Bo.
“Siapa bilang aku tak bisa sakit?” bentak Young Sul balik bertanya.

Chi San memegang dadanya dan berkata, “Ah.. pasti yang sakit itu.. hatinya?” Man Bo tertawa perlahan sambil menepuk-nepuk dada Chi San.



Dengan galak Young Sul bertanya dimana ia menyimpan pedangnya, membuat keduanya langsung ngacir kabur.
LOL.

Di luar Yi Gak menemui Park Ha yang sedang berolahraga. Kata Yi Gak sih ia juga berolahraga, tapi saat ditanya berolah raga apa, sambil berjalan-jalan, ini adalah olah raganya. Park Ha merasa aneh, tapi membiarkannya. Malah Yi Gak yang ganti bertanya, kenapa Park Ha tumben berolah raga?

Park Ha menjawab kalau ia harus bertubuh ramping untuk matseon besok. Yi Gak tak suka dengan jawaban Park Ha. Ia mengeluarkan yoghurt dari jaketnya dan sambil meminum ia bertanya, apakah Park Ha yakin pria itu baik? Park Ha yakin, karena ibu yang merekomendasikan pria itu padanya, pasti pria itu sangat baik.

Yi Gak semakin tak senang mendengarnya. Ia meminum yoghurtnya dengan suara berisik, dan bertanya lagi, “Jika orang ikut matseon dan sama-sama menyukai, apakah mereka akan menikah?”
Park Ha menjawab polos, “Tentu saja. Ada kok pasangan yang baru mengenal sebulan dan mereka langsung menikah.”

Yi Gak mencoba bersikap cool, “Begitu? Kuharap dia pria yang baik.”

Tak paham kalau itu kata-kata sindiran, Park Ha malah tersenyum bahagia dan berkata kalau ia akan berdoa malam ini memohon kalau ia akan bertemu dengan pria yang baik. Kata-kata Park Ha malah membuat Yi Gak marah dan meminum habis yoghurtnya dengan berisik dan mencengkeram botol sangat keras.

Kasihan botol yoghurtnya..

Keesokan harinya Park Ha berdandan secantik mungkin untuk kencan matseonnya. Di luar ia bertemu dengan Yi Gak yang bertanya apa ia mau pergi belanja ke supermarket?

Tentu saja Park Ha kaget, namun ia mencoba menyembunyikan kekagetannya dan bertanya apa dandanannya nampak seperti orang yang mau pergi ke supermarket.


Gantian Yi Gak yang pura-pura kaget dan bertanya, “Kau bukan hendak pergi ke supermarket? Jangat katakan kau mau pergi ke matseon dengan baju seperti itu?
Ia tak mau kalau ia (sebagai teman serumah Park Ha) dipermalukan oleh dandanan Park Ha. Maka ia menyuruh Park Ha untuk mencoba baju di butik.

Sepertinya Yi Gak sempat nonton Pretty Woman, deh..

Karena Park Ha bolak-balik berganti baju, dan semuanya cantik-cantik. Bahkan ketiga Joseoners yang lain sudah memujinya. Tapi Yi Gak tetap tak setuju dan menyuruh Park Ha untuk mengganti baju.

Hingga Park Ha memakai gaun yang sederhana tapi sangat feminin, membuat Yi Gak tak sanggup menolaknya. Apalagi ketiga Joseoner bertepuk tangan memujinya.

Sepatu dan rambut pun tak luput dari perhatian Yi Gak. Nampaknya ia ingin menjadi ibu peri bagi Park Ha. Saat Park Ha terkantuk-kantuk di Salon, Yi Gak menjentikkan jarinya ke dahi Park Ha, membangunkannya. Ia mengucapkan, “Semoga beruntung, dan jangan tendang kakinya, ya..”

Weee… memang pria itu seusil Yi Gak?

Ternyata pria yang akan ditemui Park Ha adalah Heo Yeom (Song Jae Hee). Familiar dengan nama itu? Ya. Pria itu adalah Heo Yeom dewasa dari The Moon that Embraces the Sun. Mereka memperkenalkan diri dan saling bertanya apa panggilan yang biasa mereka gunakan?

Pria itu menebak kalau nama panggilan Park Ha adalah permen peppermint (Park Ha) dan Park Ha malu-malu mengiyakan. Sementara pria itu memiliki nama panggilan Heo Yeom karena saat ia kecil, wajahnya putih pucat. Park Ha menganggap panggilan Heo Yeom itu sangatlah lucu.

Kyaa… Heo Yeom.. Awas Park Ha nanti diserbu oleh Putri Min, loh..

Ketiga Joseoners mengawasi meja Park Ha dan Heo Yeom dengan tatapan tak suka. Aww.. apa mereka cemburu?

Seperti tidak juga (mungkin hanya satu.. ehm.. Young Sul), karena mereka melaporkan semua yang dilakukan Park Ha pada Yi Gak melalui SMS.
Aww.. mata-mata Joseon sekarang melek teknologi.

Dan Yi Gak di rumah seperti kebakaran jenggot menerima SMS anak buahnya. “Ia tinggi dan sangat tampan.” “Ia keren sekali.” “Ia sepertinya sangat menyukai noona. Ia selalu memuji-muji noona.” “Ia bahkan sempat ngiler melongo melihat noona!”

Yi Gak mencoba mengalihkan perhatiannya dengan memberi makan ikan. Tapi ia tak dapat menahan diri lagi saat ada SMS datang dan berbunyi, “Mereka sepertinya akan nonton film dan sepertinya semuanya berjalan dengan lancar.”

Di tengah kencan, telepon Park Ha berbunyi. Ada SMS dari Yi Gak yang berbunyi, “Waktunya memberi makan ikan. Ayo cepat pulang.”
Aww..

Park Ha pun meminta maaf pada Yeom karena ia harus pergi terlebih dahulu, ada suatu masalah darurat sedang terjadi. Yeom menawarkan diri untuk mengantarnya pulang, tapi Park Ha menolaknya.

Tinggallah Yeom sendiri bersama ketiga mata-mata Joseon yang menatap tajam padanya.

Yi Gak mengendarai mobil dan menikmati semilirnya musim semi yang sudah datang. Tersenyum bahagia, seperti iklan mobil saja.

Pertanyaannya adalah, sejak kapan Yi Gak bisa mengendarai mobil? Atau ada deleted scene yang belum muncul?

Tidak karena Yi Gak naik mobil ditandem oleh truk pengangkut mobil. Bwahaha.. Enak sekali jadi orang kaya.. ya.. Eh, tapi gak malu, ya?


Park Ha menemui Yi Gak yang duduk dalam mobil yang masih lengkap dengan truknya.  Tanpa mempedulikan kekesalan Park Ha karena Yi Gak telah merusak kencannya, Yi Gak meminta Park Ha untuk mengajarinya menyetir. Ia murid yang mudah untuk belajar.

Park Ha pun mulai mengajari. Ia menyuruh Yi Gak untuk mengangkat rem agar mobil bisa berjalan. Pelan-pelan Yi Gak mengangkat rem dan mobil pun bergerak!

Yi Gak terkesima merasakan gerakan mobil karena gerakan kakinya. Ia tersenyum bangga melihat jalanan yang ia lalui, hingga Park Ha bertanya,
“Apa kita sedang merangkak?”
Bwahaha.. ternyata mobil Yi Gak berjalan pelaaaannn sekali dan hanya berputar-putar dalam satu lingkaran. Hingga disamakan seperti cacing berjalan.  Park Ha menyuruh Yi Gak menekan pedal gas agar bisa berjalan lebih kencang, “Sepertinya berjalan lebih cepat dari naik mobil, deh.”

Tiba-tiba Park Ha berkata, “Ada lampu merah!” dan Yi Gak langsung menekan rem langsung, membuat badan mereka terdorong ke depan. Park Ha kesal pada Yi Gak, “Kenapa sih kau ini? Bodoh, ya?”

Yi Gak ikut kesal mendengar umpatan Park Ha, “Suatu hari nanti aku akan benar-benar menutup mulut besarmu itu.”

Park Ha tak peduli. Ia menyuruh Yi Gak untuk berbelok dan menyalakan lampu sein. Yi Gak mematuhi.


Malah wiper yang bergerak. Bwahahaha.. Melihat Park Ha mau marah lagi, Yi Gak berkelit, “Aku tak dapat melihat jelas jalan di depanku. Aku memang sengaja melakukannya.”

LOL.

Akhirnya Park Ha mengajari pelajaran menyetir paling sulit. Parkir.Yi Gak bingung, kenapa mobilnya sekarang tak dapat berjalan?
“Karena sekarang posisi netral. Hh… benar-benar menjengkelkan,” gerutu Park Ha.

“Apa saat lahir kau langsung bisa menyetir?” bentak Yi Gak.

“Kau tak dapat menyetir jika kau marah-marah,” kata Park Ha, semakin membuat Yi Gak jengkel.


Yi Gak maju mundur, maju mundur, tapi mobil pernah bisa masuk di antara dua mobil. Ia menyindir Yi Gak, “Apa kau bisa parkir dalam waktu sehari? Apa aku perlu makan dulu dan kembali nanti?”

Yi Gak mengancam akan mogok belajar jika ia ditindas seperti ini. Park Ha pun setuju. Ia menyuruh Yi Gak keluar dan menunjukkan bagaimana parkir mobil yang benar.

Hanya dalam hitungan detik, mobil Yi Gak sudah terparkir dengan rapi. Hampir Yi Gak tak dapat menutup mulutnya melihat hebatnya Park Ha menyetir mobil. Tapi ia menutupinya dengan berkata, “Kalau kau hidup di jaman Joseon, apa kau pikir kau mampu mengendarai kuda untuk pertama kalinya?”

Park Ha mencemooh kata-kata Yi Gak, “Kuda? Apakah itu benda yang kau naiki, dan meletakkan pantatmu di atasnya dan maju sendiri? Kau menyuruh dengan mengatakan ‘hiyaa’ untuk maju dan ‘whoaa’ untuk berhenti?”

Dari tatapan Yi Gak, Yi Gak bersedia menerima tantangan Park Ha.

Maka pergilah mereka berkuda. Dan seperti dugaan Yi Gak, Park Ha sangat gugup. Ia berkali-kali meminta time out,  untuk menyesuaikan dirinya. Yi Gak mengembalikan kata-kata Park Ha sebelumnya, bahkan menepuk kudanya sehingga Park Ha yang sudah gemetar semakin ketakutan.

Dengan lincah Yi Gak naik ke belakang Park Ha, dan membawanya jalan-jalan. Sepanjang perjalanan, Park Ha sudah tak ketakutan lagi dan menikmati acara berkuda itu.


Yi Gak bertanya apakah kencannya berjalan dengan lancar. Park Ha mengangguk dan menjawab kalau pria itu adalah pria yang baik dan tak suka menyuruh-nyuruhnya.
“Benarkah?” kata Yi Gak tak terpengaruh sindiran Park Ha. “Sebenarnya pria idealmu itu seperti apa?”

“Bukankah aku sudah menjawab kalau pria itu harus baik?”


Yi Gak bertanya lebih spesifik lagi. “Pria tinggi atau pendek?”

“Tinggi lebih bagus.”

“Pria berambut panjang atau pendek?”

“Rambut pendek lebih baik daripada rambut panjang.”

“Mata?”

“Tak terlalu besar juga tak terlalu kecil.”

“Lalu hidung? Mulut?”


Park Ha menoleh ke belakang, tak menjawab. Yi Gak memintanya untuk menjawab. Tapi Park Ha tak mau walaupun Yi Gak menuduhnya tak mengikuti perintahnya, tapi ia tak mau.
Aww… kan sudah dijawab secara implisit, Yi Gak. Park Ha sudah menjawab dengan melihat hidung dan mulut pria yang disuka..


Tae Moo menunggui kemunculan Se Na di konser musik klasik, tapi Se Na tak kunjung muncul. Hanya di akhir konser, akhirnya Se Na muncul dan berkata, “Apakah kau tak pernah berpikir kalau aku mungkin tak akan pernah muncul? Kenapa kau tak meninggalkan tempat ini?”

“Aku bertaruh segalanya padamu sekarang. Jadi bagaimana mungkin aku menyerah dan pergi? Aku akan menunggumu sepanjang malam.“
Aww… so sweet.

Dan Tae Moo pun meminta Se Na mengajaknya makan karena sekarang ia sudah lapar.


Di restoran Tae Moo berkata kalau ini pertama kalinya ia mengkhianati ayahnya. Demi Se Na. Se Na bertanya bagaimana jika setelah Tae Moo mempertaruhkan segalanya demi dia tapi ia berkhianat?
“Jika hal itu terjadi, aku akan kehilangan segalanya.”
Kata-kata Tae Moo menakutkan SeNa, maka Tae Moo meminta Se Na untuk tak meninggalkannya karena ia tak akan membiarkan Se Na pergi.

Keesokan harinya nenek memanggil Park Ha dan bertanya tentang apakah Park Ha kerasan di rumah baru dan tentang hilangnya ia dan Yi Gak saat pesta syukuran rumah. Park Ha memberi jawaban yang menenangkan nenek. Apalagi saat nenek menanyakan apakah Park Ha dan Yi Gak sekarang sedang pacaran? Park Ha langsung membantah hal itu.

Se Na bertemu dengan Yi Gak yang meminta tolong padanya agar mengajarinya squash. Se Na menyanggupi namun ia tak dapat melakukannya hari ini. Yi Gak mengusulkan esok hari dan ia akan berlatih squash sendiri hari ini. Se Na setuju.

Maka Yi Gak mengajak Man Bo ke café dan minta tolong pada Man Bo yang sekarang sudah tidak gaptek, untuk mengajarinya cara bermain squash. Dengan game squash, Man Bo mengajarkan cara bermain squash.

Tiba-tiba sebuah benda berdering tak henti-henti. Man Bo permisi pada Yi Gak untuk mengambil kopi pesanannya, karena pesanannya sudah siap. Bagaimana Man Bo tahu? Dari benda yang berdering itu. Benda itu tak akan pernah berhenti berdering sampai Man Bo mengembalikan benda itu pada pelayan dan pelayan akan mematikan dan memberikan kopi pesanan Man Bo.

Yi Gak pun memiliki ide cemerlang dan membeli alat itu dari pelayan café.

Ide usil tepatnya.


Karena benda itu sekarang ada di celemek kerja Park Ha dan tak mau berhenti berbunyi, membuat Park Ha kelabakan. Di taruh dalam panci, tetap berbunyi. Dibungkus dengan plastik bubble, tetap berbunyi juga.

Akhirnya Park Ha mendatangi ruang kerja Yi Gak yang sudah menunggu dengan remote di tangan, “Benda ini benar-benar membuatku gila.”

“Oh, ternyata benda ini berfungsi dengan baik,” ujar Yi Gak polos. “Aku hanya ingin mencobanya. Kau sudah boleh kembali bekerja.”
“Kalau kau berani memberikan barang ini padaku lagi, aku akan menendang kepalamu sehingga kepalamu akan terasa berdering!”

“Kata-katamu terlalu kasar,” kata Yi Gak.


“Aku sudah mengatakannya dengan jelas padamu, kau harusnya tak menghiraukanku saat kita berada di kantor,” bentak Park Ha dan pergi meninggalkan Yi Gak.


Tapi Yi Gak menyuruhnya untuk membawa lagi alat itu bersamanya, “Jika kau tak menurutiku, aku akan mengusirmu dari rumah.”

Aww.. kaya anak TK yang suka narik rambut teman cewek yang ditaksirnya, deh..

Nenek menyuruh Se Na untuk memberikan buku sketsa lama milik Tae Young dengan harapan cucunya akan mengingat masa lalunya. Se Na menerimanya.

Ia membuka-buka buku sketsa itu. Ada gambar kolam yang penuh bunga teratai, ada juga gambar patung liberty. Dan mendadak ada satu yang menarik perhatiannya. Inisial di setiap sktesa Tae Young. Ia teringat dengan inisial tersebut sama dengan inisial yang sama dengan sketsa yang dimiliki Park Ha di kamar.

Buru-buru Se Na masuk ke kamar Park Ha dan melihat kembali sketsa diri Park Ha. Dan sama.

Bersamaan dengan itu, Park Ha pulang ke rumah. Se Na langsung mendampratnya, “Kau ternyata lebih culas daripada yang kupikirkan.”
Park Ha tak tahu apa maksud Se Na, ia menyuruh saudaranya untuk keluar tapi Se Na malah bertanya, “Sejak kapan kau mengenal Tae Young? Kau sudah mengenalnya sejak awal. Berpura-pura tak mengenalnya, seolah-olah berbuat baik menolong orang yang lupa ingatan sehingga kau dapat banyak imbalan.”


Park Ha menganggap Se Na mengarang bebas tapi Se Na menunjukkan buktinya, foto sketsa dirinya. Sambil tertawa sinis, Se Na menyarankan jika Park Ha ingin berpura-pura tak kenal Tae Young, seharusnya ia tak memamerkan foto yang digambar oleh Tae Young.

Betapa kagetnya Park Ha ketika Se Na menyodorkan buku sketsa milik Tae Young yang memiliki inisial sama dengannya.

Belum sempat Park Ha mencerna semuanya, Nenek dan Tante datang dan menanyakan gambar yang Se Na temukan di kamar Park Ha. Rupanya Se Na bergerak cepat menelepon Nenek.



Nenek bertanya asal muasal gambar Park Ha. Dengan jujur Park Ha menjawab ia memperolehnya 2 tahun yang lalu di Amerika tapi ia tak tahu siapa pengirimnya. Menurut mereka hal itu tak masuk akal, karena orang itu pasti menggambarnya dan memberikan pada Park Ha. Nenek menuduh Park Ha ingin mengambil keuntungan dari kesedihan orang lain.



Berkali-kali Park Ha menjawab tak tahu, tapi Nenek tak percaya dan melempar semua tuduhan pada Park Ha. Ia tak dapat mengendalikan dirinya dan menampar Park Ha keras-keras.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar