Jumat, 18 Mei 2012

FF: Sadness part 2 -end-

Title: Sadness
Cast: Yoochun, Hyun Ae, and other member DBSK

 SADNESS
Part 2

Yoochun menatap kami bergantian dan certa tentang hubungannya dengan Hyun Ae pun di mulai.

-Yoochun POV-
Dia memang bukan cinta pertamaku. Tapi aku bisa pastikan, dialah cinta terakhirku. Bersamanya, aku merasa nyaman. Bukankah.. rasa nyaman itu lebih lama bertahan?
Benar-benar tak bisa kusangka, seorang gadis biasa saja bisa ,menggenggam hatiku sedalam ini. Namanya Lee Hyun Ae. Tiba-tiba saja saat melihatnya tertawa gembira dadaku berdebar. Ia yang selalu menolong orang lain dengan tulus. Selalu tersenyum lembut pada siapa saja. Menundukan wajahnya ketika malu. Ah… aku tak tahu sejak kapan aku suka segala yang ada di dirinya.
Aku sempat berpikir sebaiknya kusimpan saja rasa ini. Ia dan yang lain tak perlu tahu. Tapi, ketika ada namja lain mendekatinya, aku beriubah pikiran. Aku memutuskan perasaanku padanya.
Hari itu dengan sengaja aku mengikutinya. Dan di sanalah, di depan sebuah halte dekat rumahnya, perasaanku kusampainan.
Aku menunduk sambil menggesekkan sepatuku di aspal.
Lirih kudengar sebuah suara yang kunanti, “Nado…”
Aku mendongak. “Eh?”
“Nado saranghae…” katanya pelan. Wajahnya tampak bersemu merah.
“Jeongmal?”
Dia mengangguk sambil tersenyum malu.
“Yayyy~~~.” aku berteriak gembira. “Hyun Ae yeoja chingu-ku sekarang,” aku berputar-putar bahagia. Kutemukan senyum manisnya.
Aku teringat sesuatu. Aku yang popular dan menyatakan cinta padanya lebih dulu, kurasa wajar kalau dia menjawab begitu. Aku baru mau bilang harus backstreet dan kalau ada yang tahu hubungan ini berakhir, meski aku yakin tak akan kulakukan, ketika dia bersuara…
“Tapi kita backstreet ya? Orang tuaku… tidak mengijinkan aku pacaran. Kalau ketahuan teman-teman atau siapapun,” ia menatapku, “Kita putus.”
“Eh?”
Hyun Ae menunduk.
Itu yang kumau, tapi, kenapa rasanya sedih mendengar dia yang memintanya ya?
“A…Arasseo,” ujerku terbata.
Hyun Ae mendongak. Matanya mencari kesungguhanku. Ketika ia tersenyum, aku tahu dia telah mendapatkannya.
Aku mengantarnya, tapi akan berpisah di jarak yang cukup jauh dari rumahnya. Kami tak boleh ketahuan.
Kami melangkah dalam diam. Meski diam, tangan kami saling terpaut erat. Senyum merekah di sudut bibir kami. Ini disebut kebahagian kecil dari cinta kan?
Aku tahu, satu hal telah menyatukan kami. Hati yang dipenuhi cinta.

Sejak hari itu kami harus menjaga jarak agar tak ada yang tahu kami berpacaran. Aku mengantarnya pulang dengan jarak beberapa meter di belakangnya. Dia akan berhenti dan menatapku sambil tersenyum. Ia melambai kemudian. Dan kami pun berpisah.
Saat jalan-jalan juga. Tak terlihat sekali kami adalah kekasih. Aku kadang gelisah, tapi melihatnya yang hanya menatapku, hatiku kembali tenang. Diam-diam sering aku memberikan ciuman jarak jauh dengannya. Dia akan membalas dengan cara yang sama diam-diam. Hanya di tempat rahasia kami, sebuah rumah kecil di dekat pantai . Di sana aku bisa duduk dekat dengannya. Menatapnya sepuasku. Menyanyikan lagu yang menyengkan untuknya. Membantunya mengerjakan PRnya. Mengelus kepalanya dengan lembut. Juga merebahkan kepalanya di pundakku sambil menggenggam tangannya lama. Aku... benar-benar jatuh cinta padanya.
Ketika aku memutuskan ikut audisi SM Entertainment, aku menemuinya diam-diam di tempat rahasia kami.
“Jeongmal?” tanyanya saat kusampaikan keinginanku ikut audisi. Ia tampak gembira. “Oppa pasti lolos.” ujernya riang.
“Gomaweo… Tapi… dengan begitu.. kita akan semakin sulit bertemu.”
Ia menggeleng. “Tidak apa-apa. Jika itu impian oppa, maka impian oppa menjadi impianku juga.”
“Bagaimana kalau kau lelah denganku lalu memutuskan untuk berpaling dariku?”
“Oppa cemas?”
Aku mengangguk gamang.
“Bukankah aku yang harusnya cemas.” Ujernya sambil menatap kedua mataku, serasa membaca hatiku. “Nae namja akan semakin banyak punya fans.” Ia menghela napas dan memandang keluar. Di masa trainee nanti banyak yeoja yang cantik. Oppa… pasti akan berpaling..” sambungnya setengah berbisik.
“Annio~,” tegasku segera. “Kau satu-satunya!
Jika dimulai dengan indah, kita harus akhiri dengan indah juga kan oppa?
“Ya~! Jangan berkata seolah-olah kita putus. Aku janji aku akan usahakan menelponmu setiap hari.”
Ia tersenyum dan mengangguk.
Namun ternyata, aku tak bias memenuhi janjiku. Aku hanya bias mengirim pesan dan kalau usai latihan aku sempatkan mengirin pesan suara padanya.

Setelah debut, aku cuma bias menemuinya tiga kali dalam setahun. Saat ulang tahunnya, ulang tahunku (yang ini terkadang aku harus menyelesaikan pesta yang dibuat temanku baru menemuinya) dan hari jadian kami. Jadwal yang padat membuat dia yang lebih banya mengirim pesan suara padaku. Kadang, aku merasa bersalah padanya…
Aku mendapat image playboy di grupku. Aku cemas. Bagaimana kalau dia mengira aku seperti itu? Bagaimana jika hal itu membuatnya putus denganku? Namun dia tak pernah sekalipun membahasnya. Ketika kutanya dia menjawab, “Tidak apa-apa oppa. Asal jangan kenyataannya saja. Aku harap aku tetap di posisi ketiga setelah Tuhan dan orang tua oppa.”
Senyumku mengembang seketika.

Cemas itu masih ada. Kami yang berjauhan. Punya waktu senggang yang tak sama. Akankah perasaannya bertahan?
Aku gembira bukan main ketika dia mengirim pesan suara yang isinya,
“Oppa… aku sudah lihat banjun drama kalian. Whaa~ oppa kau keren sekali. Andai aku jadi tokoh utama wanitanya… Oppa, boleh aku bilang kalau aku cemnburu? Mianhae…oppa. Perasaan itu… benar-benar tak bias kukendalikan... Ottokhe?”
Segera aku menghubunginya dan meminta bertemu.
-End Yoochun POV-

“Whoaa….” Koor terpesona kami berkumandang bersamaan.
“Ingat ketika aku buru-buru keluar dan bilang keadaan darurat namun wajahku terlihat ceria.”
“O! yang waktu itu,” pekik Jae Joong.
“Nde. Hyung bilang aneh, kalau darurat seharusnya aku cemas. Hari itu hari di mana pertama kalinya dia bilang cemburu padaku.”
“O~” koor kami berkumandang lagi.

-Yoochun POV-
Aku menemui Hyun Ae di tempat rahasia kami.
“Oppa… apa kalimatku tadi membuat oppa cemas?” ujernya takut.
Aku mendekat.
“Mi-“
Aku memeluknya. Membuat kata-katanya terhenti.
“O… oppa?” ia terkejut.
Aku memeluknya erat. “Dari kemarin aku mencium bau yang terbakar.” ujerku sambil merebahkan kepalaku di pundaknya.
“Eh?”
“Ternyata itu hatimu ya…”
“Oppa~,” ia memukul bahuku. Aku tahu ia malu.
“Aish.. Berisik sekali. Apa kau mendengarnya?”
“Um..Nde!”
Eh? Di sini tidak ada bunyi berisik. Apa dia tahu maksudku?
“Bukankah itu bunyi debaran hati oppa?” lanjutnya.
Ah, ternyata dia tahu!! “Seharusnya aku yang bilang begitu kan? Kau berdebar hebat ketika kupeluk.”
Ia lagi-lagi memukul bahuku. Aku tertawa girang.
“Gomaweo…” ujerku.
“Eh?”
“Gomaweo karena selalu mencemaskanku.”
Kurasakan dia mengangguk.
“Gomaweo… karena sudah cemburu untukku.” *gyaaa~~~~*
“Oppa~” ia mencubitku. Kebiasaannya ketika rasa malunya memuncak.
“Itu melegakanku, Hyun Ae-ah..” bisikku.
Hyun Ae tak menjawab. Aku tak perlu jawaban langsung darinya. Pelukannya yang erat sudah menjawab semuanya.
“Jeongmal saranghae oppa…” bisiknya pelan.

Debut di jepang, hal paling menyiksaku. Membuatku tak bisa menemuinya di hari jadian kami. Aku memutuskan menelponnya.
“Kau di mana?” tanyaku usai menanyakan kabarnya.
“Oppa tidak tahu?” ia balik bertanya.
“Maksudmu?”
“Bukankah selama ini aku ada di hati oppa?” Dia menggodaku.
“Ya~.” Senyum bahagiaku merekah seketika.
“Aku sedang di kamar, oppa.” Ujernya usai tergelak.
“Sedang mengerjakan apa?”
“Umm… tugas rutin.”
“Tugas rutin?” ulangku.
“Hm-mm. Tugas memikirkan oppa sepanjang waktu.”
“Ya~”
Hyun Ae tertawa lagi.
“Kenapa justru kau yang menggodaku.” ucapku setengah bergumam. Gelak tawa Hyun Ae makin keras terdengar. Membuat dadaku terasa hangat.
-End Yoochun POV-

“Wowww….” Ujer Junsu. Matanya jelas terlihat sangat kagum dengan kisah cinta yang manis dari Yoochun.
“Suit-suit!” Changmin bersuit heboh.
Kulihat wajah Yoochun memerah. Ia terlihat bahagia sekali mengingat kisah manisnya dengan gadis itu.
“Ia juga membuat syal dan mengirimnya. Ingat ketika changmin bilang kenapa cuma satu syal saja yang kupakai?”
“Jangan-jangan…” Changmin menduga-duga.
Yoochun tersenyum hangat. “Itu hasil rajutannya.” Suaranya pelan.
“Whoaa.. Yoochun-ah… kau benar-benar suka padanya ya?” kata Junsu takjub.
Buhg!
Pukulan pelan mendarat di kepala Junsu.
“Kenapa kau menanyakan hal sebodoh itu??” ujer Jae Joong. “Itu sudah tentu kan?!!”
Yoochun tertawa. “Kalian mau melihat fotonya?” tawarnya.
“Boleh kah?” tanyaku tak percaya.
Yoochun mengangguk. Ia beranjak ke kamarnya dan kembali sambil membawa HPnya. Ia mengganti memori stick HPnya dengan yang baru di ambilnya di kamar.
“Ini dia,” ujerya setelah mendapatkan album foto bertuliskan ‘Nae Yeoja’.
Kami mendekat dan menatap foto yang ada di HP tersebut. Seorang gadis berambut lurus dan tebal. Matanya yang sedikit menyipit dengan lengkungan lembut dan hangat tercipta di bibirnya. Pipinya merona. Tampak seperti tersipu malu. Kulitnya yang putih cerah semakin mempesona kami.
“Cantik, hyung,” komentar Changmin.
Aku mengangguk menyetuji pendapatnya.
“Hm-mm,” Junsu ikut mnendukung komentar Changmin barusan. “Kenapa kau bilang biasa saja?” tanyanya.
Yoochun tertawa. “Sengaja. Agar kalian jujur menilainya, hahaha.”
-end flashback-

Hari yang bahagia setelah itu. Yoochun selalu menceritakan apa yang ia bicarakan dengan Hyun Ae usai menelpon. Dan kebahagiaan itu semakin kami rasakan meningkat ketika Yoochun bilang dia mau melamar gadis itu tiga bulan lalu.

-flasback-
“Apa manajemen mengijinkan?” tanyaku ketika Yoochun bilang dia mau melamar Hyun Ae.
“Nde.. sebenarnya manajemen juga sudah tahu sejak dua tahun lalu.
“MWO???” kami terkejut bersamaan.
Yoochun mengangguk. “Manajer yang bilang. Dari pada ketahuan lebih baik diberitahukan lebih dulu. Pemimpin melihat kesungguhanku. Ketika kubilang ‘lebih baik kehilangan karirku dari pada kehilangan dia’ pemimpin berkata ‘Jaga dia baik-baik. Kalau sampai fans tahu, aku tidak akan turun tangan untuk melindunginya’.”
“Jika itu kebahagiaanmu, maka itupun kebahagiaan kami juga. Good luck, Yoochun-ah.” Ujerku.
“Hwaiting, hyung!” Changmin semangat mengatakannya.
“Kabari kami segera apa jawaban Hyun Ae ya?” pinta Jae Joong.
Yoochun mengangguk.
Sejam kemudian dia menelpon dan jawaban gadis itu serta kedua orang tuanya adalah ‘Ya’.
Kami bersorak gembira. Seolah kamilah yang mau menikah.

Waktu berlalu. Segala persiapan dimulai.
Manajemen mengatur konferensi pers pernikahan Yoochun yang akan berlangsung dua minggu lagi. Mereka juga memperlihatkan foto-foto pra wedding Yoochun dengan Hyun Ae.
Semua berjalan lancer. Fans merestui hubungan mereka. Ikut bahagia dengna kebahagiaan Yoochun. Bahkan ada yang langsung memanggil Hyun Ae dengan sebutan ‘Onnie’. Kami lega.
-end Flasback-

Kami bahagia. Hingga membuat kami lupa untuk waspada terhadap fans fanatic kami.
Hari itu, seminggu sebelum pesta.

-Flashback-
Yoochun dan Hyun Ae mencoba jas dan gaun pengantin. Banyak fans yang mengikuti ke mana saja mereka pergi. Mereka heboh menyebarkan kegiatan yang Yoochun dan Hyun Ae lakukan. Tak kalah hebohnya dengan wartawan.
Merasa kehausan, Hyun Ae pamit ingin membeli minuman dingin di minimarket seberang. Yoochun masih mencoba jasnya yang lain. Sepertinya ukurannya ada yang kurang pas.
“Biar aku saja.” Tawarku ketika ia hendak keluar.
“Anni. Fans diluar cukup banyak. Nanti oppa malah tidak bisa lewat.”
“Tapi-“
“Gwenchana,” potongnya. Ia tersenyum meyakinkan. Aku mengalah. Membiarkannya keluar. Semoga tidak apa-apa.
Sesaat kecemasan melandaku. Ketika fans menyapa Hyun Ae dengan sebutan ‘onnie’ aku lega. Kulihat Hyun Ae membalas sapaan mereka. Kudengar juga mereka berpesan untuk menjaga Yoochun dengan baik.
Hyun Ae menjawab permintaan mereka sembari tersenyum dan terus berjalan ke seberang.
Yoochun menatapnya ketika ia keluar dari minimarket dengan sekantung plastikl kecil berisi minuman di tangannya.
“HYUN AE-AH??!!” teriakan Yoochun mengagetkan kami.
“KYAAAAA!!!” paru-paruku serasa lemas mendengar fans di luar menjerit. Satu sosok bersimbah darah di aspal membuat jantung kami seperti berhenti berdetak.
Yoochun dan kami berempat keluar.
Hyun Ae tampak tak bergerak.

Ambulan membawa Hyun A eke rumah sakit. Yoochun ada di dalamnya. Kami mengikuti di belakang dengan mobil kami.
Rumah sakit tampat mencekam. Kami baru menyadari hal itu ketika melihat lorong UGD. Aku merasa bisa mendengar detak jantung member yang lain.
Suara tangis terdengar ketika kami di dekat ruang gawat darurat itu.
“Hyun Ae-ah!!!” teriakan Yoochun menyayat-nyayat hati kami. Ia menangis sambil memeluk sosok kaku di pembaringan. “Kajjima~” suaranya pilu sekali.
Aku merasa sulit untuk bernapas. Ini… ini bukan kenyataan kan?
“Jawab aku Hyun Ae-ah!” Yoochun tergugu. Bahunya bergetar. Ia mengguncang-guncang tubuh Hyun Ae yang tidak bergerak. Seketika air mata kami jatuh. Hyun Ae, gadis yang begitu dicintai Yoochun, telah tiada.

“Wae hyung?” lirih Yoochun ketika upaca pemakaman usai.
“Wae…” isaknya tertahan. Ia berlutut di depan makan Hyun Ae dan kembali menangis hebat.
Kami baru bisa membawanya ke mobil dan pulang saat tangisnya melemah dan ia sudah tak bisa melawan, kelelahan.
-end flashback-

Kami mengetahi pelaku tabrak lari Hyun Ae adalah salah satu fans fanatic kami. Di pengadilan dengan jujur dia bilang tak rela Yoochun menikah dengan orang lain.
Apa kalian tahu, Yoochun pernah bilang padaku, “Jika menjadi idola membuatku harus kehilangan Hyun Ae, maka aku lebih memilih tidak pernah menjadi idola, hyung.”
Apa kalian tahu? Lebih dari enam tahun ia diam demi Cassiopeia. Menjaga hati Cassiopeia agar tidak terluka.
Hyun Ae yang bahkan sudah sejak delapan tahun selalu ada di samping Yoochun. Menudukung segalanya. Percaya padanya. Bertahan untuknya. Setia padanya.
Lalu kenapa? KENAPA??
Kalian bilang mencintai Yoochun. Tapi apa? Apa yang sudah dilakukan salah satu dari kalian? Kenapa menyakiti idola kalian? Bukankah cinta yang sesungguhnya tak akan menyakiti orang yang dicintainya?
Ah, mian… aku malah marah-marah seperti ini. Ini bukan salah kalian. Tapi salah pelaku itu.
Kami sungguh sangat berterimakasih atas segala cinta kalian yang begitu besar untuk kami. Tapi tolong jangan sesadis orang itu.
Sebulan lalu orang itu mengirim surat yang isinya minta maaf dan dia sangat menyesal. Tahukah kalian apa balasan Yoochun?
“Apa dengan menerima maafmu, Hyun Ae-ku kembali?”
Bahkan orang tua pelaku itu datang dan meminta maaf pada Yoochun langsung. Jawaban Yoochun masih sama.
“Apa dengan memaafkan, Hyun Ae-ku kembali?”
Ia meninggalkan orang tua pelaku itu begitu saja.
--
“Hyung?” jemariku terhenti ketika mendengar suara serak Yoochun memanggilku.
Aku menoleh dan melihatnya sedang memandangi langit yang muram.
“Apa dengan memaafkan orang itu, Hyun Ae-ku bisa kembali?”
Apa yang harus kujawab?
--End—

Tidak ada komentar:

Posting Komentar