Kamis, 17 Mei 2012

Sinopsis Rooftop Prince Episode 10

Sinopsis Rooftop Prince Episode 10
Sinopsis Rooftop Prince Episode 10
Park Ha melihat mereka, tapi ia langsung berbalik meninggalkan mereka tak mau melihat kelanjutannya. Setelah Park Ha pergi, Se Na melepaskan pelukannya dan mengajak Yi Gak ke Namsan Tower.


Di Namsan Tower, ia baru tahu kalau Yi Gak belum pernah mengunjungi Namsan Tower. Entah jujur atau tidak, Se Na mengatakan kalau ia juga belum pernah naik ke atas karena tak asyik kalau naik ke atas sendirian. Apalagi bersama orang yang sudah pernah naik ke Namsan Tower. Karena ia dan Yi Gak sama-sama belum pernah naik, sekarang ia mengajak Yi Gak untuk ke atas sekarang. Yi Gak menuruti permintaan Se Na.
Pemandangan di atas sangat indah dengan kerlap-kerlip lampu yang menerangi kota Seoul yang menurut Se Na, orang bersembunyi di balik kilaunya sinar. Dari kejauhan mereka tampak bahagia, tapi jika  dilihat dari dekat, banyak orang yang sedih, kesepian dan penuh pertengkaran. Begitu pula dengan bintang yang hanya indah di kejauhan saja.
Yi Gak pun bertanya, “Bagaimana denganmu? Apakah kau lebih cantik dari kejauhan? Atau dari dekat?”
Se Na tersipu-sipu, “Aku tak tahu. Aku tak dapat menbandingkan diriku sendiri. Tapi bagaimana denganmu? Apakah kau suka memandang dari kejauhan atau dari dekat?”
“Kupikir aku akan menyukai sesuatu yang kelihatan indah dari kejauhan. Dan jika dari dekatpun sama indahnya, pasti akan lebih baik lagi. Begitu pula saat menilai seseorang.”
Yi Gak mengatakan kalau malam sudah mulai larut, tapi Se Na malah mengajak naik kereta gantung. Yi Gak sedikit ragu, tapi tetap menurutinya.
Park Ha mencoba melupakan kegalauan hatinya dengan berjalan-jalan. Saat melewati lapangan basket, ia melihat bola yang tergeletak dan timbul keinginannya untuk bermain basket sendiri.
Kebetulan ketiga Joseoners  melewati lapangan itu dan melihat Park Ha sudah sehat kembali, malah  bermain bola. Dengan riang mereka pun menghampirinya dan bertanya mengapa Park Ha hanya sendirian? Bukankah seharusnya Park Ha merayakan ulang tahun bersama Yi Gak?
Sinopsis Rooftop Prince Episode 10
Park Ha pura-pura tak tahu dan mengatakan kalau ia pergi makan dengan teman-temannya. Dan ia mengalihkan perhatian mereka dengan mengajak mereka bermain basket. Mula-mula ia mengajari mereka untuk melempar bola.
Bola telah di tangan Young Sul, dan Park Ha menyuruhnya untuk memasukkan ke dalam keranjang. Young Sul pun mematuhi instruksi Park Ha. Ia berlari dan melompat, sepertinya ia menggunakan kemampuan beladirinya, karena ia melompat cukup tinggi dan.. slam dunk!
“Daebak,” puji Park Ha diiringi tepuk tangan Man Bo dan Chi San.
Heheh.. kalau ada agen NBA lewat, bisa-bisa Young Sul langsung dikontrak jadi pemain nih.. Bisa mengikuti jejak Jeremy Lin.
Yi Gak dan Se Na mengantri naik kereta gantung. Tapi saat mereka di antrian paling depan, Yi Gak yang selama ini ragu, tiba-tiba memutuskan untuk mengakhiri pertemuan mereka. Se Na mencoba menahan Yi Gak karena mereka sudah ada di antrian terdepan dan ia ingin naik kereta gantung.
Yi Gak mempersilahkan Se Na untuk naik ke kereta dan iapun buru-buru pergi.
Haha.. Se Na tak menyangka kalau Yi Gak meninggalkannya.
Yi Gak menelepon Chi San, menanyakan keberadaan mereka dan iapun menuju ke sana. Dari kejauhan Yi Gak melihat ketiga pengikutnya asyik bermain dengan Park Ha. Ia terdiam, tak mendekat.
Hmm.. sepertinya ia berpikir, ‘katanya sakit dan tak bisa bertemu denganku, tapi kok sekarang malah main bola?’
Park Ha melihat Yi Gak. Ia menutupi perasaannya dengan melambaikan tangannya riang pada Yi Gak , mengajaknya bermain basket. Dan sekarang waktunya bertanding! Hadiahnya adalah pihak yang kalah harus mau menuruti permintaan pihak yang menang.
Chi San mengeluh lelah dan memilih menjadi wasit saja. Tinggal empat orang, dan Man Bo langsung memilih Young Sul sebagai teman satu tim, yang berarti Park Ha setim dengan Yi Gak. Park Ha tak mau, ia ingin memilih Young Sul sebagai teman satu tim. 
Yi Gak melotot mendengar Park Ha tak mau setim dengannya. Maka ia memerintahkan Young Sul untuk menjadi teman setimnya.
Akhirnya mereka memutuskan untuk hompimpa tapi hompimpanya dengan tiap orang memlih berdiri atau duduk dan yang sama posisinya akan menjadi teman satu tim. Semua setuju.
Yi Gak melirik Young Sul dan mengisyaratkan kalau ia harus duduk. Young Sul mengerti isyarat Yi Gak.
Aba-aba dimulai. Satu.. dua.. tiga!
 
Yi Gak , Man Bo dan Young Sul menurunkan tubuhnya. Tapi Park Ha tetap berdiri, membuat Young Sul yang sedang setengah jongkok reflek ikut menegakkan tubuhnya.
Jadi Yi Gak dan Man Bo akan melawan Park Ha dan Young Sul.
Yi Gak mendelik pada Young Sul. Berani-beraninya Young Sul melawan titahnya?! Tapi Young Sul terdiam dan memilih menatap langit, pura-pura tak tahu kalau Yang Mulia Pangeran Yi Gak sedang memelototinya.
LOL.
Mereka pun bermain. Dengan adanya Young Sul di pihak Park Ha, mereka dengan mudah mengalahkan tim Yi Gak.
Sinopsis Rooftop Prince Episode 10
Yi Gak kesal bukan main. Tapi janji tetap janji.  Maka ia mengeluarkan kartu kreditnya dan mengatakan ia akan menuruti permintaan Park Ha dan Young Sul.
Park Ha menggeleng dan berkata, “Aku ingin memukulmu sekali saja.”
Sekuat tenaga, Park Ha meninju perut Yi Gak hingga Yi Gak terjatuh. Ia tersenyum, dan meninggalkan mereka. Yi Gak mengernyit kesakitan, menyumpahi Park Ha, “Aku akan menghancurkan keluargamu tiga turunan!”
Heheh.. ancamannya khas raja banget.
Ketiga abdinya langsung berlutut meminta maaf, bahkan Young Sul mengatakan kalau ia pantas mati. Yi Gak menatap punggung Park Ha dengan penuh dendam, “Ini bukan yang pertama atau kedua kalinya ia melakukan ini. Ugh.. menyebalkan!”
Di rumah, mereka mengadakan pesta ulang tahun untuk Park Ha. Park Ha yang sudah merasa gembira lagi, menikmati lagu ulang tahun yang dinyanyikan oleh ketiga Joseoners (lengkap dengan gaya jayusnya). Yi Gak hanya bisa cemberut, tak mau menyanyi .
Saat ditanya apa hadiah Yi Gak untuk Park Ha, Yi Gak mengambil kado dari jaketnya. Tapi niat itu ia urungkan, malah mengatakan kalau kue itu sudah cukup mewakili. Dengan alasan ia sudah lelah, ia pun meninggalkan mereka.
Ketiga pengikutnya heran karena tak biasanya Yi Gak menolak hidangan yang manis-manis. Mereka menebak kalau perut Yi Gak pasti masih sakit karena dipukul. Young Sul meminta Park Ha untuk tak menyentuh tubuh junjungan mereka seperti tadi.
Di kamar, Yi Gak mengeluarkan kado yang ia siapkan dan memasukkannya ke dalam laci. 
Rupanya Pangeran baru sekarang merasakan diacuhkan oleh seseorang.
Namun begitu pula yang dirasakan oleh Park Ha. Saat sendirian, ingatan akan Se Na yang mencium Yi Gak terputar lagi di kepalanya.
Di kantor, Se Na meminta Taek Soo agar ia bisa bergabung dengan tim Taek Soo dengan alasan ia ingin belajar dari awal lagi. Taek Soo gembira dengan kesediaan Se Na dan berjanji akan menanyakan pada Nenek.
Ayah Tae Moo tak sengaja mendengarnya. Setelah Taek Soo pergi, ayah memuji Se Na yang langsung bergerak cepat. Tak berhasil mendapatkan Tae Moo, Se Na langsung berpindah kubu ke Tae Young. Ia mengancam Se Na, “Jika kau tak mengundurkan diri hari ini, aku akan bertindak tegas.”
Ancaman itu malah membuat Se Na semakin marah pada Park Ha. Di kamar mandi ia bertemu dengan Park Ha dan langsung menuduhnya membocorkan rahasia keluarga mereka pada ayah Tae Moo.
Park Ha tak mau dituduh seperti itu. Se Na yang melakukan kebohongan, dan saat kebohongan itu terbongkar, kenapa Se Na menyalahkan orang lain?
Bener, tuh.. Tapi Se Na tetaplah Se Na yang menganggap dunia berputar karenanya.
Ia mengintimidasi Park Ha dengan membuang mangkuk buah-buahan yang dibawa Park Ha, membuat Park Ha menjadi marah, mendorong Se Na dan berteriak, “Apa yang harus kulakukan agar semua ini berakhir? Apa?!”
Se Na balas mendorong Park Ha dan mengancam, “Aku akan mengambil semuanya darimu. Semuanya.”
Ayah Tae Moo melaporkan pada nenek kalau banyak keluhan pegawai tentang kinerja Tae Young yang menganggap ia tak becus walaupun ia adalah cucu dari pemilik perusahaan. Nenek bertanya apa yang harus dilakukan Tae Young agar dapat meredam keluhan itu?
Ayah Tae Moo mengusulkan agar Tae Young harus mulai menghasilkan untuk perusahaan. Tapi  Taek Soo merasa hal itu terlalu dini dan menyindir pegawai mana yang mengeluh akan kinerja Tae Young?
Tapi nenek telah memutuskan, untuk meredakan gosip miring. Tae Young akan ditugaskan untuk mencari produk baru, membuat kontrak dengan pemilik produk, mengiklankan dan menjual produk tersebut.
Ayah Tae Moo dan Taek Soo keluar dari ruangan Nenek dan tak dapat pura-pura bersikap manis lagi. Mereka saling menghina, dan jika ada yang mendengar, pasti telinganya akan pedas.
Dan ternyata ada telinga yang terasa pedas, yaitu telinga Tante. Ia yang ingin menemui nenek tak sengaja mendengarnya dan langsung menyuruh keponakannya untuk minta maaf pada pamannya (yang berarti Taek Soo adalah suaminya).
Ayah Tae Moo terkejut akan kenyataan yang baru saja didengarnya, namun ia malah tertawa mengejek Taek Soo. Ketahuan menyimpan rahasia, Taek Soo hanya bisa berkelit membantah kata-kata Tante, “Aku tak sudi menjadi pamanmu.” 
Dan Taek Soo pun pergi meninggalkan Tante yang marah-marah, kali ini padanya.
Pada Yi Gak, Taek Soo menjelaskan tugas dari Nenek, menemukan produk baru dan bersama ketiga anah buahnya membuat strategi pemasaran produk tersebut. Se Na masuk dan mengatakan kalau nenek mengijinkannya masuk ke dalam tim Tae Young. Yi Gak tentu saja menyambutnya.
Dan Se Na masuk ke dalam tim dengan membawa produk baru yang selama ini ia sembunyikan. Ia mengajak Yi Gak untuk pergi menemui pemiliki perusahaan kosmetik yang memproduksi masker kecantikan, dan hasilnya tak mengecewakan.
Masalah pekerjaan telah selesai. Di cafe, Se Na kemudian membicarakan kejadian semalam dan mengatakan kalau ia tak enak telah memaksa Yi Gak untuk menemaninya naik kereta gantung. Yi Gak menenangkannya, ia bukannya tak mau, tapi karena ada hal yang perlu dikerjakan di rumah.
Se Na menebak kalau itu berkaitan dengan Park Ha, karena saat di kantor tadi ia baru mengetahui kalau kemarin hari ulang tahun Park Ha dan akhirnya menyadari alasan Yi Gak ingin pulang cepat. 
Se Na pun bertanya pada Yi Gak, apakah Yi Gak memiliki hubungan khusus dengan Park Ha? Kemarin ia telah mengakui perasaannya pada Yi Gak. Namun jika Park Ha dan Yi Gak memiliki hubungan khusus, ia khawatir akan mengganggu hubungan Yi Gak dan Park Ha, maka, ia minta maaf dan memilih mundur.
Hhh… Jelas Se Na melakukan psikologi terbalik dan Yi Gak akan masuk perangkapnya.
Tentu saja Yi Gak mengatakan  kalau Se Na tak perlu mengkhawatirkan hal itu karena hubungannya dengan Park Ha tak sesuai dengan dugaan Se Na.
Chi San mendatangi Park Ha dan memintanya untuk memilih tempat makan kesukaannya. Park Ha Ha langsung curiga. Apakah mereka melakukan kesalahan lagi? Buru-buru Chi San menyangkalnya. Hari ini adalah hari gajian mereka dan mereka akan mentraktir Park Ha makan enak. Park Ha gembira mendengarnya dan menyebut Chi San sangat menggemaskan.
Taek Soo memberikan gaji pertama ketiga Joseoners secara tunai karena mereka tak punya rekening bank. Satu per satu, mereka menerima gaji mereka, dan satu per satu memberikan beberapa lembar uang berwarna hijau pada Taek Soo. Hanya Young Sul memberikan selembar uang berwarna hijau dan selembar uang berwarna kuning. 
Taek Soo bingung atas kelakukan mereka. Apakah mereka memberi tip untuknya? Ia menyindir, haruskah ia berjoget untuk mendapatkan tip lagi? Taek Soo berjoget dan Man Bo memberinya lembaran hijau lagi.
Young Sul kemudian menyadari kesalahannya yaitu memberikan uang berwarna kuning. Ia mengambilnya dan menggantinya dengan uang yang berwarna hijau.
Dan setelah itu Taek Soo meledak marah, karena mereka bertiga masih saja mempelajari hal yang diluar kebiasaan.  Ia pun pergi meninggalkan mereka.
LOL. Di luar kebiasaan Korea masa kini tentunya.
Man Bo dan Chi San langsung menyalahkan Young Sul, karena memberikan uang yang jumlahnya terlalu sedikit pada Taek Soo sehingga Taek Soo marah.
Saatnya pertandingan squash. Se Na mengantarkan Yi Gak ke arena squash dan menonton tanding ulang antara Yi Gak dan Tae Moo. Kali ini Yi Gak berhasil mengimbangi permainan Tae Moo. Usai bertanding, Yi Gak berkata kalau sepertinya tubuhnya sudah mampu mengingat bagaimana cara bermain squash.
Tae Moo melihat Se Na yang menunggui Yi Gak. Se Na langsung beralasan kalau kebersamaannya dengan Yi Gak karena, ia diperintahkan oleh nenek untuk bekerja satu tim dengan Yi Gak. Tae Moo menyarankan agar Se Na berhati-hati pada sepupunya. Ia merasa yakin kalau Tae Young yang ia hadapi sekarang bukanlah sepupu aslinya.
Park Ha bertemu dengan ketiga Joseoners yang sudah menunggunya cukup lama. Matanya mencari-cari keberadaan Yi Gak. Chi San mengatakan kalau Yi Gak sedang ada tugas luar dengan Se Na. Park Ha menutupi kekecewaannya dan bertanya pada mereka, apa yang akan mereka lakukan pertama kali? Makan? Minum?
Makan dan minum. Tapi sebelumnya mereka ingin melakukan ritual orang jaman sekarang. Katanya jika mendapat gaji pertama, mereka harus memberikan hadiah untuk keluarga mereka. Park Ha membenarkan. Tapi mereka ingin membeli apa? Memang mereka memiliki keluarga?
Mendengar hal ini, ketiganya nampak sedih. Man Bo berkata kalau mereka memiliki keluarga di jaman mereka. Park minta maaf karena tak berpikir sejauh itu. Ia benar-benar minta maaf.
Chi San menenangkannya dan mengatakan kalau mereka sekarang akan berpencar untuk membeli hadiah.
Beberapa saat kemudian mereka kembali dengan membawa bingkisan.
Chi San membeli sekotak koyo untuk ibunya yang menjadi tukang bersih-bersih di sebuah rumah bangsawan. Ibunya selalu pulang dengan badan pegal-pegal dan ia ingin memberikan koyo itu untuk menghilangkan pegal yang dirasa ibunya. 
Man Bo membelikan kosmetik bagi adik perempuannya yang berusia 16 tahun. Sekarang adiknya pasti sedang meratapi kakaknya yang hilang. 
Sedangkan Young Sul membelikan sekotak dendeng untuk ayahnya. Setelah adik dan ibunya tewas di tangan seorang bangsawan, ayahnya sering sakit-sakitan. Jika saja ia selalu minum sup daging hangat dengan nasi, kesehatannya pasti akan berangsur-angsur pulih kembali. Tapi mereka tak memiliki makanan seperti itu. Dan ia dengar ada dendeng yang dapat tahan lama, jadi ia membelinya.
Tanpa sadar, Park Ha menangis mendengar cerita teman-temannya. Chi San memintanya agar tak menangis, karena mereka juga telah berjanji tak akan menangis. Park Ha buru-buru menghapus air matanya, “Aku tak akan menangis.”
Chi San pun melanjutkan dengan mengatakan kalau mereka juga punya hadiah khusus untuk Park Ha. Aww.. Park Ha merasa tersentuh dan menerima bungkusan itu dari Chi San.
Dengan rasa ingin tahu, ia mengambil hadiah yang ada di dalam tas. Ia terbelalak melihat isinya dan langsung memasukkannya kembali karena malu. 
Bwahahaha.. ternyata hadiah itu adalah baju tidur sexy berwarna hitam transparan. Kenapa mereka memberikan hadiah ini padanya?
Chi San berkata kalau mereka ingin membelikan  baju tidur untuk Park Ha. Dan pelayan toko dapat memilihkan baju tidur sesuai dengan kepribadian si penerima.
“Memang kepribadianku seperti apa?” tuntut Park Ha.
 “Menurut Yang Mulia, Noona suka memiliki pikiran yang aneh-aneh. Maka aku katakan saja begitu pada pelayan toko.” 
LOL.
Buru-buru Park Ha mengalihkan perhatian dengan mengajak mereka bersulang.
Setelah makan, mereka makan es potong. Man Bo bertanya pada teman-temanya, jika boleh memilih mana yang lebih disuka? Melanjutkan hidup di jaman sekarang atau kembali ke jaman Joseon?
Chi San menjawab, walaupun masa depan sangatlah nyaman,  tapi rasanya sangat jauh dari rumah. Young Sul mengamini pendapat Chi San.
Park Ha terlihat sedih mendengarnya, dan Chi San buru-buru berkata,”Walaupu kami tak tahu kapan kami akan kembali ke Joseon, tapi kami tahu kalau kami akan hidup dengan bahagia selama kami tinggal di sini. Banyak hal menarik yang dapat kami lakukan di sini.”
Chi San pun mencontohkan dengan menunjuk sebuah photo box, dan menuju ke sana dengan menunggangi Young Sul.
LOL, kayak kuda. Dan lagian kudanya penurut banget..
Masing-masing melakukan pemotretan dan setelah selesai mereka membandingkan hasilnya. Chi San mengomentari wajah Young Sul yang sangat besar. Ia menyarankan untuk mengempiskan pipinya agar wajahnya terlihat kecil.
Young Sul langsung menyentaknya, “Kenapa aku harus mengecilkan wajahku? Bukankah lebih bagus kalau wajah besar sehingga kelihatan dari jauh?”
LOL. Young Sul polos banget, pasti belum pernah ketemu dengan Kim Tae Hee yang wajahnya sebesar kepingan CD, deh..
Man Bo mengeluhkan fotonya yang memperlihatkan flek hitam di wajahnya. Park Ha tersadar, kan semua itu bisa diakali. Maka Park Ha menunjukkan sihir masa kini, yaitu photoshop!
Flek di wajah Man Bo hilang. Begitu pula mata Chi San. LOL. Rupanya Park Ha ingin melebarkan mata Chi San, malah tak sengaja menghilangkannya.
Di tempat yang sama, Chi San dan Young Sul menemukan mainan kesukaannya. Chi San dengan mainan ketangkasan, Young Sul bermain kekuatan. Park Ha bertanya kapan mereka dapat kembali ke Joseon? Man Bo menjawab tak tahu.
“Kudengar kalau kedatangan kalian kesini sebenarnya untuk menemui seseorang. Apakah kalau kalian telah bertemu, kalian bisa pulang?” tanya Park Ha lagi.
Man Bo cukup kaget mengetahui junjungannya memberi tahu misi mereka pada orang lain, tapi ia membenarkan hal itu. Park  Ha bertanya apakah mereka telah berhasil menemukannya?
Man Bo membenarkan lagi. Park Ha bertanya, siapakah dia? Man Bo menjawab, “Yang Mulia datang ke sini untuk menemui Putri Mahkota.”
“Putri Mahkota?” tanya Park Ha. Ia terkejut saat mendengar kalau Putri Mahkota, istri Pangeran Yi Gak juga telah bereinkarnasi di jaman sekarang.
Man Bo menjelaskan kalau seseoang yang berreinkarnasi tak akan memiliki kenangan akan kehidupan sebelumnya, jadi Putri Mahkota juga tak dapat mengenali  Pangeran. Tapi jika Pangeran menikahinya lagi di jaman sekarang, maka mereka mungkin dapat memecahkan misteri yang mereka hadapi. Mereka akhirnya dapat kembali ke jaman Joseon.
Park Ha ragu-ragu bertanya, “Putri Mahkota itu.. siapakah dia?”
“Putri Mahkota adalah Sekretaris Hong Se Na.”
Park Ha tak dapat mendengar kata-kata Man Bo selanjutnya. Suara riuh dari arena permainan juga tak ia hiraukan. Dunia seakan menciut dan menghilang. Ia hanya dapat duduk termangu,  mengingat ketika Yi Gak meminta diajari menalikan boneka kayu, ketika Yi Gak membeli gelang yang ia sukai, dan melihat gelang itu ada di tangan Se Na. Semuanya sudah jelas baginya sekarang.
Namun ia juga teringat betapa liciknya Se Na yang menumpahkan semua kesalahan padanya dan ancamannya, “Aku akan merebut semuanya darimu.”
Di rumah, Park Ha melihat Yi Gak keluar dari mobil Se Na. Ia juga dapat melihat betapa akrabnya mereka berdua. Yi Gak yang sudah mau naik tangga dipanggil Se Na karena handphonenya ketinggalan. Sambil menyerahkan handphone Yi Gak, Se Na berterima kasih karena senang dapat menghabiskan waktu bersamanya. Yi Gak tersenyum dan meminta Se Na untuk berhati-hati dalam berkendara.
Yi Gak naik ke atas dan menyapa Park Ha yang berdiri di halaman. Tapi Park Ha malah mengacuhkannya. Ia duduk di kursi taman, mencoba membuka percakapan lagi. Ia bertanya dimanakah yang lainnya? 
“Bermain basket,” tukas Park Ha pendek.
Yi Gak bertanya lagi, “Kudengar hari ini kalian merayakan gajian pertama. Apa yang tadi kalian lakukan?”
Yi Gak tak mendengar jawaban Park Ha karena Park Ha keburu pergi meninggalkan Yi Gak yang bingung juga kesal karena tingkah Park Ha.
Di tengah jalan Se Na bertemu dengan ketiga Joseoners dan menyapa mereka. Ketiga Joseoners berlaku sangat hormat pada Se Na. Se Na mengajak mereka untuk membuat barbekyu besok siang yang diiyakan oleh ketiga Joseoners dengan sopan.
Sepeninggal Se Na, mereka berunding. Sepertinya hubungan Pangeran dan Putri Mahkota sudah semakin dekat.  Jika hubungan mereka bisa diteruskan dengan pernikahan, mungkin alasan sebenarnya mereka datang ke jaman sekarang dapat diketahui. Misteri pembunuhan putri mahkota akan terpecahkan, dan mereka dapat kembali ke era joseon dan menangkap pembunuhnya.
Man Bo mengajak semuanya untuk bekerja sama mendekatkan SeNa dan Pangeran Yi Gak. Young Sul mengusulkan untuk mengunci mereka berdua di dalam sebuah ruangan tapi Man Bo tak menyetujuinya. Yang terbaik adalah membiarkan saja hubungan mereka berdua seperti sekarang. Walaupun sepertinya junjungannya belum mengetahui kalau Park Ha bisa menghambat kemajuan hubungannya dengan Se Na.
Yang dikatakan Man Bo benar juga. Karena Yi Gak bingung dengan sikap Park Ha yang tiba-tiba mengacuhkannya. Saat Park Ha duduk di kursi dan minum bir, Yi Gak mendekatinya dan membuka percakapan, Park Ha malah menyudahi minumnya.
Apakah Park Ha menghindarinya? Dengan acuh Park Ha mengatakan ia tak pernah merasa menghindari Yi Gak, kok.
Park Ha pun bangkit dan pergi meninggalkan Yi Gak sendiri.
Se Na pulang ke rumah dan mendapati kalau rumahnya telah kosong. Ia teringat pada ancaman ayah Tae Moo yang akan bertindak tegas padanya. Tae Moo yang buru-buru datang, meminta Se Na untuk tetap tinggal di apartemennya. Tapi Se Na tak mau, karena apartemen ini dibawah nama Tae Moo, yang berarti ayahnya dapat melakukan hal seperti ini lagi.
Tae Moo menawarkan untuk tinggal di hotel dan ia akan ikut pindah menemani Se Na. Setelah itu mereka akan mencari rumah baru. Tapi Se Na tetap tak mau. Ia tetep bersikeras untuk pergi.
Tak ada tempat lain yang dituju, Se Na akhirnya pulang ke rumah ibunya dengan alasan kalau ia berencana untuk menyewakan apartemennya tapi ternyata sudah ada penyewa sebelum ia berpindah ke apartemen baru. Ibu senang menerima Se Na lagi. Ia sibuk mempersiapkan sabun, handuk dan yang lain untuk kebutuhan buah hatinya. Tapi Se Na meminta ibu tak perlu repot-repot karena ia bisa sendiri. 
Sepanjang malam, kata-kata Man Bo selalu terngiang-ngiang di telinga Park Ha. Pangeran datang ke masa depan untuk menemui Putri Mahkota. Jika ia menikahi Putri Mahkota, maka kami dapat pulang ke masa kami. Sayangnya, ia tak dapat mengenyahkan kata-kata itu dari pikirannya.
Taek Soo mendengar dari Tante kalau sekarang Tae Young sedang berkencan dengan Sena. Taek Soo bingung dengan sikap Tante yang tiba-tiba membicarakan kencan. Apakah Tante ingin bertemu dengannya hanya untuk membicarakan masalah pacaran? Taek Soo pun meninggalkan Tante yang marah-marah karena dicuekkan.
Akhir pekan, semua orang ada di rumah. Park Ha menawarkan pada ketiga Joseoners ingin makan apa, karena ia akan memasakkan untuk mereka. Tapi mereka mengatakan kalau Park Ha tak perlu memasak apapun karena Sekretaris Se Na akan memasakkan untuk mereka.
Park Ha sedikit kecewa mendenganya. Ia yang tak ingin melihat kedekatan Se Na dan Yi Gak memilih jalan-jalan keluar dan meminjam sepeda dari Becky dan Mimi. Becky dan Mimi menyadari perasaan Park Ha yang sedih, meminta Park Ha untuk tak menaiki sepeda terlalu lama karena pantatnya akan terasa sakit. Tapi Park Ha berkata kalau ia ingin bersepeda untuk menjernihkan pikiran.
Ketiga Joseoners sedang mempersiapkan kebutuhan barbeque saat Yi Gak muncul dan mencari Park Ha. Man Bo menjawab kalau ia tadi melihat Park Ha turun ke bawah. Chi San mengingatkannya kalau sebentar lagi Se Na akan datang, tapi Yi Gak tak mendengar dan buru-buru pergi.
Park Ha menaiki sepeda mengelilingi taman dan Yi Gak juga bersepeda mencari sosok Park Ha di tengah keramaian. Akhirnya ia menemukan Park Ha yang tetap tak melambatkan laju sepedanya walau melihatnya dan bertanya kenapa Park Ha tak ada di rumah padahal di rumah ada makanan favoritnya? 
“Perutku sedang tak enak,” jawab Park Ha memberi alasan. “Dan jangan mengikutiku.”
“Aku tak mengikutimu!” teriak Yi Gak pada Park Ha yang meninggalkannya. Dan ia pun menaiki sepedanya lagi dan mengejar Park Ha.
LOL.
Setelah kejar-kejaran, akhirnya Park Ha berhenti dan memilih istirahat di kursi taman. Yi Gak ikut duduk dan menyuruhnya untuk membelikan minuman karena ia haus. Park Ha tak mau. Ia tak mau disuruh-suruh lagi.
Yi Gak kaget dengan jawaban Park Ha. Tapi ia membiarkannya dan mengambil sesuatu dari saku jaketnya yang kemudian disodorkan pada Park Ha.
“Terimalah.”
“Apa itu?”
“Hadiah ulang tahun dariku,” jawab Yi Gak setenang mungkin.
“Lupakan,” kata Park Ha. “Aku juga tak mau menerima apapun darimu lagi.”
Yi Gak langsung meradang, “Apakah kau sedang marah karena aku terlambat memberikan hadiah ulang tahunmu? Atau kau memang tak menyukainya?”
“Aku tak pernah marah,” kata Park Ha membela diri.
“Bukankah kau marah padaku sejak kemarin?” tuduh Yi Gak. “Kau benar-benar aneh. Kau membuatku merasa tak tenang dan harus mengikutimu sampai ke sini. Dan itu sangat menyebalkan buatku. Sebenarnya aku bukan orang yang gampang peduli dengan orang lain. Jadi aku tak tahu mengapa aku harus mengikutimu.”
“Siapa suruh untuk mengikutiku?” sindir Park Ha.
Yi Gak menatap Park Ha kesal, “Mulai sekarang aku tak akan memperhatikanmu lagi.” Dan ia pun meninggalkan Park Ha dengan menaiki sepedanya.
Park Ha menatap kepergian Yi Gak dan berkata dalam hati, “Walaupun kau tak datang untuk menemuiku pun aku akan tetap menyukaimu.”
Ia mengambil handphonenya dan mengetik, “Aku menyukaimu.” Ia menambahkan lagi, “Aku mencintaimu.”
Dan Send.
Sepesekian detik kemudian ia tersadar. Ia tak ingin mengirimkan pesan itu! 
Ahhh!!! Park Ha kebingungan, bagaimana mungkin ia mengirimkan pesan itu? Ia panik dan mencoba membatalkan perintah send tadi. Ia memencet-mencet semua tombol di handphonenya. Tapi pesan telah terkirim. Bagaimana ini? Bagaimana ini? Apa ia harus menyusul Yi Gak?
Tiba-tiba ia melihat Yi Gak kembali lagi dengan sepedanya. Park Ha semakin panik. Ia ingin kabur tapi sudah terlambat. Apakah Yi Gak sudah membacanya? Tapi Yi Gak kembali untuk berkata, “Sepertinya kita harus bicara lebih banyak lagi.”
Park Ha bingung dengan kata-kata Yi Gak. Apakah itu berarti Yi Gak sudah membacanya? Tapi dari ekspresi Yi Gak, sepertinya Yi Gak belum tahu. Yi Gak menyuruh Park Ha untuk menunggunya selama ia pergi membeli minum.
Yi Gak pergi setelah menaruh jaketnya di bangku taman. Park Ha kembali bertanya-tanya apakah Yi Gak belum membaca pesannya? Ternyata belum karena ada bunyi dering SMS dari handphone Yi Gak yang ada di jaket Yi Gak. Buru-buru ia mengambil handphone dan memeriksanya. Ternyata benar, Yi Gak belum membacanya.
Ia mencoba menghapus SMS itu, tapi ternyata Yi Gak memasang password di handphonenya. Park Ha mencoba memecahkan password itu tapi gagal. Berkali-kali ia memencet asal, tapi handphone Yi Gak tetap terkunci.
Dari kejauhan Park Ha melihat kedatangan Yi Gak. Park Ha semakin panik karena handphone itu harus segera disembunyikan. Maka ia menggali tanah dan menguburnya. Setelah handphone terkubur dengan rapi, ia buru-buru kembali kembali di posisi terakhirnya.
Yi Gak datang membawakan minum untuknya. Park Ha mengajaknya untuk pergi melihat seminya bunga sakura. Tapi Yi Gak tak mau karena ia ingin membicarakan hal tadi. 
“Ayolah, kita pergi sekarang. Aku tak marah padamu,” ajak Park Ha setengah memaksa.
Namun perhatian Yi Gak berpindah pada suara gonggongan anjing yang sangat ribut. Pemiliknya berusaha menghentikan kelakuan anjingnya, tapi pemilik anjing lainnya mengatakan kalau anjingnya sering menggali-gali jika ia merasa ada barang di dalam tanah.
Park Ha yang tak ingin rahasianya ketahuan, mengajak Yi Gak untuk pindah tempat. Tapi Yi Gak tak mau. Ia malah tertarik dengan kelakuan anjing yang menggali dan terus menggali. Park Ha memaksanya untuk pergi, “Memang  apa yang ada didalam tanah? Mungkin hanya kotoran dan tanah saja.”

Tapi anjing itu telah menemukan sesuatu. Park Ha buru-buru memegang wajah Yi Gak untuk tetap menatapnya saja.
Aww.. romantisnya jika saja Park Ha melakukannya bukan karena takut ketahuan, karena pemilik anjing itu sekarang mengangkat barang yang ditemukan anjingnya. Sebuah handphone.
“Itu handphoneku!” teriak Yi Gak terbelalak melihatnya.
Setelah diperiksa ternyata benar dan Yi Gak mendapatkan handphone itu kembali. Ia menatap Park Ha kesal dan langsung menuduhnya, “Apakah kau mengubur handphoneku? Apakah hatimu merasa lebih lega setelah menguburnya? Beginikah caramu untuk membalasku?”
Tiba-tiba handphonenya berbunyi lagi. Sekarang Yi Gak baru melihat ada pesan dari Park Ha dan bertanya, “Apa kau mengirimkan pesan untukku?”
Tak menjawab pertanyaan Yi Gak, Park Ha langsung kabur dengan sepedanya. Kali ini Yi Gak tak mengejarnya, tapi membuka SMS dari Park Ha.
Matanya melebar melihatnya. Dengan sepeda, ia menyusul Park Ha. 
Tanpa kesulitan ia berhasil mengejar Park Ha dan memotongnya sehingga mau tak mau Park Ha harus berhenti. Dan Yi Gak menatap Park Ha yang hanya bisa menunduk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar