Kamis, 17 Mei 2012

Sinopsis Rooftop Prince Episode 15



Sinopsis Rooftop Prince Episode 15

Yi Gak, Park Ha.. Berbahagialah selamanya..
Sinopsis Rooftop Prince Episode 15



“Oy, Yang Mulia,” panggil Park Ha sambil menurunkan tali jemuran.
Yi Gak terpana, sesaat tak dapat berkata apapun. Dan saat ia tersadar, ia hanya mampu mengucap, “Park Ha.. kau adalah Bu Young.”
Sinopsis Rooftop Prince Episode 15
Yi Gak mendekat dan menutupkan tangannya ke wajah Park Ha, mencoba menyakinkan dirinya kalau wajah Bu Young yang tertutup cadar benar-benar adalah wajah Park Ha. Ia terkesima melihat kemiripan itu, “Tak salah lagi. Kau benar-benar Bu Young.”
Park Ha bingung mendengar kata-kata Yi Gak, “Kenapa kau seperti ini? Siapakah Bu Young?”

“Bu Young adalah adik putri mahkota. Dan kau adalah Bu Young,” ujar Yi Gak masih terkesima.
Park Ha terkejut, tapi juga terdengar senang mendengarnya, “Aku juga ada di Joseon?”
Mereka duduk di kursi taman dan Yi Gak menceritakan kalau Park Ha juga hidup di Joseon. “Rasanya seperti bertemu dengan sahabat yang sudah lama tak berjumpa. Senang bertemu denganmu lagi.”
“Jadi maksudmu kita pernah bertemu di Joseon?” tanya Park Ha.
“Bukan hanya pernah bertemu. Tapi hubungan kita juga cukup dekat,” Yi Gak tersenyum memandang Park Ha, seakan masih tak percaya kalau ia bertemu dengan adik iparnya lagi. “Kau adalah Bu Young.”

“Jadi namaku adalah Bu Young,” gumam Park Ha pada dirinya sendiri.Dan ia bertanya pada Yi Gak, “Di Joseon, aku orangnya seperti apa?”
“Bu Young tak pernah berani menatapku langsung dan selalu menjaga jarak denganku,” kata Yi Gak mengingat-ingat adik iparnya.
“Kenapa?” tanya Park Ha. “Kenapa aku tak berani mendekat dan menjaga jarak denganmu?”
“Bukankah tadi kubilang kalau Bu Young adalah adik dari Putri Mahkota? Sejak kecil ia telah masuk ke dalam istana untuk menemani Putri Mahkota.” Yi Gak menceritakan kalau adik iparnya selalu menceritakan berita dari luar istana dengan sangat menarik, “Bahkan walaupun aku sudah pernah mendengar cerita itu dari kasim atau dayang-dayang istana, tapi cerita Bu Young selalu terdengar lebih menarik.”
Yi Gak juga menceritakan kalau kegemarannya adalah main tebak-tebakan, dan Park Ha selalu dapat menebak teka-tekinya, ”Setelah dipikir-pikir lagi, saat itu aku lebih sering berbicara denganmu daripada berbicara dengan putri mahkota. Saat berbicara denganmu, rasanya sangat menyenangkan.”
Park Ha tersenyum senang melihat gambaran dirinya di kehidupan lampaunya. Tapi hal itu tak berlangsung lama karena Yi Gak meneruskan, “Tapi kau sekarang sangat berbeda dengan dirimu di masa lalu. Di Joseon, kau sangat pintar dan bertutur kata halus.”
Wajah Park Ha langsung cemberut dan ia menggerutu, “Aku tahu kau pasti akan menghinaku.”
Tapi godaan Yi Gak hanya membuat Park Ha kesal sesaat. Ia kemudian tersenyum-senyum bahagia lagi.
Tiba-tiba ia teringat kalau ia harus membuat 5 bekal untuk mereka. Rencananya mereka mau menonton pesta kembang api di tepi sungai Han. Tapi Yi Gak langsung menunjuk Park Ha dan dirinya sendiri. Park Ha mengangkat alisnya, apa maksud isyarat Yi Gak?
Sinopsis Rooftop Prince Episode 15
“Kau dan aku.”
Aww.. so cute! Pangeran hanya ingin berdua dengan putri, tanpa ada kasim dan dayang-dayang.
Park Ha tersipu malu dan hanya berkomentar, “Bodoh!” dan berdiri pura-pura menyibukkan diri dengan cuciannya. Yi Gak yang belum mendengar kata ‘Ya’ tak mau menyerah.
Ia mengejar Park Ha dan merebut keranjang baju yang dipegang Park Ha. “Kenapa kau tak mau menjawabku? Ayo kita pergi berdua saja.” Yi Gak menghentakkan kakinya dan merengek dan meggoyangkan badannya memohon. “Haruss. Mau ya?”
Park Ha tak dapat menyembunyikan tawanya melihat Yi Gak merajuk seperti anak kecil.
Mereka berdua masuk rumah dan mendapat ketiga pengikutnya sedang nonton TV. Man Bo mengajak junjungannya nonton TV karena sekarang acara variety show kesukaan Yi Gak sedang diputar. Tapi di luar kebiasaan, Yi Gak mengeluh lelah dan ingin segera tidur.
Dan meninggalkan Park Ha di bawah membereskan semuanya. LOL, enaknya Yi Gak.
Park Ha merebut remote TV dan setengah memarahi mereka karena mereka terlalu banyak nonton TV. Seharusnya mereka banyak membaca buku.
LOL, kayak Park Ha sedang menasehati anak-anaknya yang terlalu banyak nonton TV.
Mereka mematuhi nasehat Park Ha. Tapi Chi San mengingatkan Park Ha kalau nanti malam mereka akan menonton kembang api. Tapi Park Ha langsung mengatakan kalau ia tak bisa pergi, karena matanya sedang iritasi dan dokter melarangnya melihat benda-benda yang bersinar. Untuk membuktikan ucapannya, ia melihat lampu dan menjerit kesakitan, “Aduh, mataku! Mataku”
Double LOL.
Ia beranjak mematikan lampu ruang tengah plus mengeluh lagi, “Apa kalian tahu tagihan listrik kita bulan lalu membengkak? Ayo, tidur sekarang! Kalian pasti sudah lelah semuanya. Malam ini kita tidur cepat, ya!”

Dan ceklik! Lampu mati dan ketiga Joseoners itu bengong di tengah ruangan yang menjadi gelap. Hehe.. dan sekarang baru jam berapa? Bukannya baru saja Park Ha dan Yi Gak menjemur baju?
Se Na dan CEO Jang duduk berdua. Dengan mata berkaca-kaca, Se Na meminta agar ia dapat memanggil CEO Jang dengan sebutan ‘ibu’. Ia merasakan sebuah perasaan khusus saat CEO Jang memberikan cincin biru kepadanya dan Se Na bertanya apakah ibunya memiliki perasaan yang sama?
CEO Jang hanya tersenyum dan mengatakan mungkin. Ia menceritakan asal nama In Joo adalah gabungan antara nama ayahnya dan namnya, Park In Chul dan Jang Sun Joo sehingga menjadi In Joo.
Se Na tersenyum dan membenarkan kalau ayahnya sering menceritakan hal itu kepadanya.
Dan wajah CEO Jang mengeruh seketika. Dalam hatinya ia berkata, “Sena, yang kukatakan tadi tak benar. Nama In Joo sebenarnya karena kami salah menuliskan nama. Seharusnya nama itu adalah Jin Joo (mutiara).”
CEO Jang beralasan kalau ia sudah lelah dan ingin kembali ke kamar. Se Na mengantarkannya ke dalam kamar dan melihat betapa mewahnya kehidupan yang dijalani CEO Jang dan merasa kalau Park Ha tak layak menjadi putri CEO Jang yang kaya. Dan dalam setelah meninggalkan CEO Jang, Se Na bertekad untuk mengambil semua yang dimiliki oleh Park Ha.
Park Ha menuruni tangga dengan berjingkat-jingkat. Yi Gak yang sudah tak sabar menunggunya bertanya, “Mengapa kau lama sekali?” Tapi ia melihat sesuatu yang berbeda dengan Park Ha dan ia bertanya lagi, “Apakah kau sekarang sedang memakai make up?”
Park Ha pura-pura kaget mendengarnya dan langsung membantahnya, “Tidaakk.. siapa yang memakai make up?”
Yi Gak geli mendengarnya, tapi enggan memperpanjang masalah itu. Ia menggenggam tangan Park Ha dan mengajaknya segera pergi. Saling berpegangan tangan, mereka lari menuju sungai Han.
Di tepi sungai Han sudah banyak orang yang menunggu pertunjukkan kembang api itu. Sebelum pertunjukkan mulai, Park Ha memberitahukan kalau kembang api ini berbeda dengan kembang api yang mereka nyalakan saat di rumah loteng.
Benar saja. Saat kembang api memancar di langit, Yi Gak terkesima melihatnya. Park Ha tersenyum melihat Yi Gak yang terkesima. Berdua mereka menikmati indahnya pijar api yang menyinari langit.
Karena asyik menatap langit, mereka tak menyadari kalau tubuh Yi Gak mulai menghilang. Hanya sesaat, namun kemudian tubuhnya muncul lagi. Menghilang lagi dan muncul lagi.
Yi Gak tak menyadarinya. Park Ha tak melihatnya. Sesaat setelah tubuh Yi Gak memadat lagi, Park Ha menyandarkan kepalanya di bahunya, seperti saat di bis dahulu. Merasakan kedekatan itu, Yi Gak tersenyum bahagia.
Sementara itu, ketiga Joseoners ada di kamar mereka. Walaupun dengan moengomel, mereka mengikuti nasehat Park Ha. Man Bo dan Young Sul membaca buku dan Chi San menyulam.
LOL. Rupanya, bagi Chi San kain adalah buku dan benang adalah tinta. Dan sekarang Chi San sedang menulis buku. 
Dengan ingatan seperti Rain Man, Man Bo cepat menghafal seluruh isi buku dan ingin diuji oleh Yi Gak. Diikuti oleh Young Sul dan Chi San, mereka mengetuk pintu kamar Yi Gak. Tak mendengar ada jawaban, mereka masuk ke dalam kamar. Di tempat tidur Yi Gak terbaring berbungkus selimut.
Mereka membangunkan Yi Gak, tapi Yi Gak tetap diam tak bergerak Dengan rasa hormat, Man Bo meminta ijin pada Yi Gak untuk membuka selimutnya.
Saat selimut dibuka, mereka terkesiap kaget. Di tempat tidur Yi Gak, hanya ada tumpukan bantal dan guling. Reflek dari mulut Man Bo terucap kata, “Oh My God!”
LOL. Man Bo sekarang fasih berbahasa Inggris.
Yi Gak dan Park Ha pulang bergandengan tangan dengan perasaan bahagia. Tapi kegembiraan mereka tak berlangsung lama, karena sudah ada tiga orang yang menunggu kepulangan mereka dengan kesal.
Kesal karena disuruh membaca buku, kesal karena ditinggal di rumah sendirian, kesal karena tak bisa menonton kembang api. Kesal karena ditipu habis-habisan oleh Yi Gak yang mengaku lelah dan Park Ha yang sakit mata.
Yi Gak terbelalak melihat mereka. Ia dan Park Ha saling melirik, panik seperti anak yang ketahuan guru kalau ia membolos dengan pacarnya. Tiba-tiba ia menarik tangan Park Ha dan segera berbalik kabur.
Ketiga pengikutnya tak mau kehilangan sang target. Mereka mengejar junjungannya dan meminta agar Yang mulia berhenti lari.
Setelah mereka duduk dengan tenang, Yi Gak menceritakan kalau Park Ha juga hidup di jaman Joseon dan Park Ha adalah adik iparnya, Bu Young. Tentu saja ketiga abdi Yi Gak terkejut mendengarnya. Mereka melihat Park Ha yang datang membawa kaleng minum dengan pandangan yang baru.
Walaupun mereka belum pernah bertemu langsung dengan Bu Young yang hidup di jaman yang sama, mereka senang karena berarti mereka telah mengenal Park Ha untuk waktu yang sangat lama.
Park Ha gembira dan menyapa mereka seperti menyapa sahabat lama, “Aku juga senang bertemu dengan kalian lagi.”
Dan mereka bersulang atas pertemuan ini.
Sepeninggal Se Na, CEO Jang berpikir mengapa Se Na harus berpura-pura menjadi putrinya. Apa alasannya.
Begitu juga Yi Gak yang berpikir sepanjang malam diikuti ketiga pengikutnya yang sudah terkantuk-kantuk. Mereka meminta Yi Gak untuk segera tidur. Chi San bahkan mengeluarkan kata-kata bijak, “Masalah dalam berpikir adalah  semakin kita berpikir, semakin banyak pikiran yang harus kita pikirkan. Jadi hal yang terbaik adalah jangan memikirkannya sama sekali.”
LOL. Kata-kata bijak Chi San seperti kata-kata bijak yang pernah saya dengar waktu sekolah dulu : Banyak belajar, banyak lupa. Tidak belajar, tidak akan lupa.
Tak mempedulikan ucapan abdinya, Yi Gak berkata kalau semuanya tak cocok satu sama lain. Hal yang pasti adalah : Se Na adalah putri mahkota dan Park Ha adalah Bu Young. Tapi mengapa kepribadian putri mahkota berbeda dengan kepribadian Se Na yang jahat?
Chi San akhirnya memberitahukan kalau yang menjadi putri mahkota sebenarnya adalah Bu Young. Tapi menurut gossip, putri mahkota yang sekarang melukai wajah Bu Young dengan setrika sehingga putri mahkota yang terpilih adalah kakaknya.
Mendengar hal itu Yi Gak membentak marah, bahkan membangunkan Young Sul yang sudah tertidur, “Kenapa kau baru memberitahukanku sekarang?!”
Mereka bertiga langsung bersujud pada Yi Gak, meminta maaf. Tapi hal ini memperjelas kebingungan Yi Gak. Bagi Yi Gak masih ada yang membuatnya bingung. Di Joseon, Putri mahkota dan Bu Young adalah saudara kandung. Tapi mengapa di sini Se Na dan Park Ha adalah saudara tiri?
Yi Gak meminta ketiga abdinya untuk memberikan pikiran atau pertanyaan yang belum dapat terjawab.Mendengar itu mereka pun menyuarakan pendapatnya.
Chi San : “Di Joseon, Yang Mulia jatuh cinta pada putri mahkota, lantas kenapa di sini YangMulia mencintai Park Ha?
Man Bo : “Dan mengapa kita jatuh di rumah Park Ha, bukannya di rumah Putri Mahkota?”
Young Sul : …. (terkantuk-kantuk tidur)
Yi Gak juga heran akan hal itu. Putri Mahkota meninggal setelah makan manisan kesemek. Karena menyelidiki hal itu, mereka melintasi waktu. Seharusnya mereka jatuh di rumah Putri Mahkota. Tapi mengapa mereka jatuh di rumah Park Ha? Yi Gak yakin ada sesuatu yang berkenaan dengan Park Ha yang belum mereka ketahui.
Keesokan harinya, Yi Gak dan Park Ha makan siang dengan CEO Jang yang ingin mengucapkan terima kasih karena ia diberi tempat untuk beristirahat saat ia sakit. Walaupun mungkin makan siang yang ia belikan ini rasanya tak sebanding dengan sup seafood yang Park Ha buatkan malam itu.
Yi Gak juga memuji Park Ha yang pandai memasak. CEO Jang malah mengatakan kalau Park Ha tak hanya pintar memasak, tapi juga berbakti pada orang tua, karena ia merawat ibunya dengan baik saat ibu Park Ha di rumah sakit. Park Ha malu mendengarnya. Ia beralasan kalau ia melakukan hal ini karena ia pernah hidup terpisah dengan ibunya dan saat itu ibunya selalu mengkhawatirkannya. Maka sekarang ia ingin berbuat baik pada ibunya.
CEO Jang mengangguk dan mengatakan kalau setiap orang tua pasti selalu mengkhawatirkan anaknya. Ia bertanya apakah Park Ha sekarang tidak bekerja?
Park Ha menjelaskan kalau ia sebelumnya bekerja di sebuah kota yang agak jauh dari Seoul “Tapi karena seseorang, saya harus keluar dari pekerjaan itu dan kembali ke Seoul,” ia melirik Yi Gak sebal.
Yi Gak tak merasa bersalah dan malah menjawabnya, “Karena itu sekarang aku menjagamu.”
“Bukannya kau sekarang menjadikanku sebagai budakmu?” tanya Park Ha menunjukkan kenyataan aslinya.
“Ho ho!” Yi Gak mulai bertingkah seperti raja. “Kau ini pasti ingin dihukum, ya.“
CEO Jang tersenyum geli melihat perkelahian tamunya yang seperti anak kecil. Tapi walaupun mereka seperti itu, ia merasa sangat nyaman dan selalu ingin bersama dengan mereka. Karena Park Ha sekarang tak bekerja, ia menawarkan Park Ha untuk bekerja sebagai sekretarisnya selama ia berada di Korea. Park Ha kaget namun senang dengan tawaran CEO Jang.
Dan setelah makan siang, di lobi hotel Yi Gak menjelaskan ‘bakat-bakat’ Park Ha yang harus diperhatikan CEO Jang selama Park Ha menjadi sekretarisnya. Park Ha terbiasa menyetir truk, jadi ia menyetir dengan kasar. Mendengar itu CEO Jang tersenyum mengangguk dan menjawab, “Aku memastikan akan selalu memakai sabuk pengaman.”
Yi Gak juga berpesan kalau CEO Jang harus memberikan perintah yang singkat dan sederhana, karena Park Ha sedikit lambat dalam berpikir. Ia juga mengatakan kalau Park Ha lapar, ia menjadi pemarah.

Park Ha tentu saja kesal mendengar kata-kata Yi Gak yang menjelek-jelekkannya, “Awas ya, kalau kita nanti sampai di rumah,” ancam Park Ha.
CEO Jang malah ikut menggodanya, “Astaga, Park Ha. Apakah kau sedang marah sekarang? Apakah kau lapar? Perlukah kita sekarang makan lagi?”
Park Ha tersipu malu mendengar CEO Jang yang malah ikut menggodanya. Yi Gak tertawa dan mulai berkata lagi, tapi Park Ha memegang lengan Yi Gak dan berkata mengancam dengan mulut terkatup, “Kenapa kau ini?  Kalau ada satu kata lagi..”
Hehe.. mereka itu pacaran atau teman bertengkar, ya?
CEO Jang tertawa melihat Park Ha dan Yi Gak yang bertengkar. Mereka tak menyadari kalau Se Na dan Tae Moo datang. Se Na dan Tae Moo yang ingin menemui CEO Jang kaget karena melihat CEO Jang ngobrol santai dengan Park Ha dan Yi Gak. Buru-buru mereka pergi sebelum terlihat oleh Park Ha.
Tapi hal itu membuat Se Na marah. Kenapa Park Ha bisa bersama CEO Jang? Tae Moo menyarankan untuk menelepon Park Ha. Berpura-pura ingin minta tolong pada Park Ha, Se Na menanyakan apa yang sedang Park Ha lakukan sekarang. Betapa kagetnya ia mendengar kalau Park Ha tak dapat membantunya karena sekarang ia menjadi sekretaris seseorang yang sedang tinggal sementara di Seoul.
CEO Jang mengantar Park Ha dan Yi Gak yang sudah mau pulang. Sambil lalu ia bertanya pada Park Ha apakah kakaknya memiliki teman yang bernama Park In Joo? Park Ha mengatakan tak ada.
Malam harinya, Se Na menemui CEO Jang dengan membawakan rangkaian bunga dari Tae Moo dan memuji Tae Moo sebagai orang yang yang berjasa karena membuat mereka bertemu. Se Na bertanya apa mereka tak seharusnya membalas jasa pada Tae Moo?
CEO Jang mulai meraba motif Se Na dan bertanya apa yang sebaiknya mereka lakukan untuk Tae Moo.
Se Na menjawab, “Saat rapat pemegang saham besok, bisakah ibu memberikan suara untuk Tae Moo sebagai CEO berikutnya?”
CEO Jang mengangguk mengerti. Ia akhirnya mengerti alasan Se Na berpura-pura menjadi putrinya.
Sementara itu Se Na melaporkan keberhasilan misi mereka pada Tae Moo yang menunggunya di mobil.
Ibu dan Park Ha sarapan bersama. Ibu telah menyiapkan hidangan yang sangat banyak, terutama hidangan favorit Se Na. Tapi ternyata Se Na tak mau makan siang bersama. Park Ha tak tega melihat kekecewaan ibu, dan menghiburnya kalau ia akan  makan 2 piring .. eh.. tidak. Ia akan makan 3 piring karena makanan ibu sangat enak.
Kata-kata Park Ha menyenangkan ibu dan ibu bertanya apakah Park Ha akan bekerja sebagai sekretaris temannya mulai hari ini? Park Ha mengiyakan dan menyebut CEO Jang dengan tante. Ibu berpesan agar Park Ha membantu CEO Jang dengan baik.
Ternyata Se Na tak mau datang ke rumah ibu karena ingin sarapan bersama CEO Jang. Ia mengungkit jasa Tae Moo yang mempertemukan mereka dan meyakinkan ‘ibu’nya lagi agar memilih Tae Moo saat pemungutan suara nanti. CEO Jang tersenyum dan bertanya apa ada hal lain yang Se Na inginkan?
Se Na tersenyum dan berkata, “Aku benar-benar menyayangi ibu. Memiliki ibu di sampingku membuatku merasa tenteram. Tak ada hal lain yang aku inginkan.”
Bersamaan dengan itu Park Ha datang menemui CEO Jang untuk memulai tugasnya sebagai sekretaris dan ia sempat mendengar Se Na yang memanggil ibu pada CEO Jang.
Ia langsung duduk menghadapi Se Na, “Apakah kau gila? Siapa yang kau panggil ibu?”
Se Na kaget karena Park Ha mendengar ucapannya. Tapi ia menyuruh Park Ha agar tak ikut campur akan urusannya. Tapi Park Ha harus ikut campur, karena sepanjang malam ibu mereka memasak makanan kesukaan Se Na dan tak tahu kalau di sini Se Na memanggil wanita lain dengan sebutan ‘ibu’.
“Apa kau sekarang mengguruiku?” tanya Se Na marah.
Park Ha menyambar gelas di depannya dan menyiram wajah Se Na. Ha! Sekarang Park Ha baru membeli pelajaran. “Sadar diri, dong! Setelah kau memaku hati ibu, apakah kau mampu hidup dengan baik?”
Se Na geram karena Park Ha berani menyirammnya, “Beraninya kau.. “ ia menyambar gelas miliknya dan hendak membalas Park Ha.
Tapi kali ini Park Ha lebih cepat merebut gelas itu dan menyiram gelas kedua ke wajah Se Na hingga wajah Se Na basah kuyup, “Setelah kau memakunya, walau kau bisa mencabut paku itu, hati ibu tetap akan berlubang karenamu. Jika kau malu menjadi putrinya, jangan jadi putrinya. Aku yang akan melakukannya.”
Yay, attagirl!
Park Ha melakukan hari pertamanya menjadi sekretaris CEO Jang. Salah satunya adalah ia harus mengantarkan dokumen ke rapat pemegang saham di Home & Shopping.
Di Home & Shopping diadakan rapat pemilihan CEO baru telah dimulai. Pemungutan suara telah dilakukan dan posisi sekarang adalah berimbang, Keputusan ada di tangan CEO Jang yang tak kunjung datang.
Ayah Tae Moo mulai cemas karena CEO Jang yang diharapkan tak kunjung datang. Akhirnya Park Ha, sebagai sekretaris CEO Jang, datang dengan membawa dokumen, membuat lega hati Tae Moo dan ayahnya.
Tak disangka CEO Jang memilih Tae Young sebagai CEO berikutnya, membuat Nenek dan Taek Soo girang, tapi ayah  marah karena usaha mereka gagal.
Se Na menemui CEO Jang untuk bertanya mengapa CEO Jang tak memenuhi permintaannya. Dan dengan dingin CEO Jang berkata, "Karena kau bukan In Joo. Apakah kau pikir bisa membohongiku?”
Se Na terkejut mendengarnya. Ia hanya dapat terdiam karena tak ada jawaban yang membenarkan sikapnya. CEO Jang kemudian menyuruh Se Na pergi karena ia tak ingin berbicara lagi.
Di luar gedung, bukannya menyelamati Yi Gak menjadi CEO baru, Park Ha malah mengkhawatirkan Yi Gak yang akan bertambah bebannya. Tapi Yi Gak menenangkan Park Ha. Walaupun ia ingin memecahkan misteri kematian putri mahkota, tapi ia merasa ia juga harus memecahkan misteri di balik kematian Tae Young. Maka ia akan berbuat sebaik mungkin untuk menjadi pengganti Tae Young.
Tapi kekhawatiran itu masih tetap terpancar dari wajah Park Ha, hingga Yi Gak mendorong dahi Park Ha dan berkata, “Jangan khawatir. Kau kelihatan jelek kalau seperti itu. Ayolah, tersenyum.”
Park Ha akhirnya menyunggingkan senyumnya untuk Yi Gak.
Park Ha menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh CEO Jang dengan Yi Gak yang mengikutinya. Park Ha tak ingin Yi Gak mengikutinya, bukankah ia tadi mengatakan kalau pekerjaannya hanya butuh waktu sebentar. Mengapa Yi Gak berkeras untuk mengikutinya?
“Siapa yang mengikutimu?” bantah Yi Gak membela diri. “Aku hanya ingin mengawasi pekerjaanmu.”
LOL.
Mereka melewati sebuah kios yang menjual cincin yang menurut kertas promosinya akan mengabulkan harapan. Park Ha mengajak Yi Gak untuk membelinya. Dengan suara keras, Yi Gak mengatakan kalau itu itu hanya tipuan semata. Penjual cincinnya langsung cemberut mendengar kata-kata Yi Gak.
Park Ha meminta Yi Gak membelikan cincin untuknya dan ia akan membelikan cincin untuk Park Ha. Ia sudah memasukkan cincin ke jarinya dan memasukkan satu lagi ke jari Yi Gak. Tapi Yi Gak hendak melepas cincin itu karena menurutnya pria tak memakai cincin.
“Setiap pasang kekasih harus memakai cincin yang sama,” kata Park Ha, membuat Yi Gak mengurungkan niatnya.
Di bukit tempat mereka biasa duduk, Park Ha bertanya apa harapan yang harus mereka ucapkan? Yi Gak tak mau melakukannya, akhirnya Park Ha berdoa sendirian. Yi Gak geli melihat Park Ha serius dengan cincin itu. Ia memperhatikan Park Ha yang berdoa dengan khusyuk.
And I feel love from his eyes to his girlfriend.
Park Ha telah selesai berdoa, dan menatap Yi Gak.
Yang menghilang..
Dan muncul lagi..
Dan menghilang lagi..
Park Ha terpana melihat Yi Gak yang tersenyum menatapnya perlahan-lahan hilang hanya tinggal bayang-bayang samar.
Yi Gak tak menyadarinya. Tapi kali ini Park Ha melihatnya.
Namun hilangnya Yi Gak hanya sesaat. Karena Yi Gak kembali lagi, memadat, menjadi sosok utuh yang dapat disentuh.
Buru-buru Park Ha memeluk Yi Gak erat, takut kalau Yi Gak hilang lagi. Yi Gak tersenyum walaupun bingung akan tindakan Park Ha.
“Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?”
Park Ha tak mau menjawabnya. Ia malah semakin mempererat pelukannya, seakan tak ingin melepaskannya.
Malam hari, ketiga Joseoners mengendap-endap masuk ke ruangan kerja Tae Moo. Mereka ingin menyelidiki kepergian Tae Moo yang mendadak ke Chicago. Ruangan kerja Tae Moo gelap, tapi Young Sul menyadari keberadaan orang lain di ruangan itu. Ia langsung waspada dan hendak menyerangnya.
Ternyata Taek Soo yang duduk dan tersenyum menatap mereka.
Bersama dengan Yi Gak mereka duduk dan diinterogasi oleh Taek Soo. Taek Soo mulai menginterogasi Yi Ga yang ia tuduh sebagai Tae Young palsu. Tak ada jalan lain, Yi Gak mengakuinya. Tapi bagaimana Taek Soo bisa tahu?
Karena Taek Soo mengetahui kalau Tae Young yang asli masih hidup. Keempat Joseoners kaget mendengarnya. Masih hidup? Tapi mengapa Taek Soo tak membuka kedok Yi Gak?
Itu karena Taek Soo merasa Yi Gak tak bermaksud jahat, malah ikut menyelidiki peristiwa hilangnya Tae Young 2 tahun yang lalu. Tapi yang terpenting adalah Tae Moo berencana untuk membawa Tae Young kembali ke Seoul, sehingga mereka harus bergerak cepat.
Tae Moo pasti berencana untuk mengambil posisi CEO kembali. Jadi kali ini Taek Soo membutuhkan bantuan Yi Gak dan Yi Gak juga membutuhkannya.
Maka ketiga Joseoners memata-matai kedatangan Tae Moo di bandara. Mereka melihat kalau Tae Moo naik ambulans dan mulai membuntutinya.

Young Sul yang menyetir. Chi San yang menyuruhnya agar mempercepat laju mobilnya agak mereka tak kehilangan jejak. Dan Man Bo menyuruhnya agar tak terlalu dekat dengan ambulans itu agar tak ketahuan.

Perintah yang berganti-ganti malah membuat mereka tak menyadari kalau ambulans sudah berbelok ke kanan. Mereka pun kehilangan ambulans itu. Man Bo dan Chi San keluar mobil dan memarahi Young Sul yang tak becus menyetir.
Young Sul kesal karena dimarah-marahi terus, “Apa kalian menyetir dengan mulut kalian?” dan Young Sul masuk mobil lagi, diikuti oleh Chi San dan Man Bo yang masih mengomel.
Tapi omelan mereka berhenti karena pintu mobil tak dapat dibuka. Mereka menggedor-gedor pintu mobil, tapi Young Sul tak mau membukanya. Ia malah menjalankan mobilnya dengan kencang hingga Chi San terjatuh.
LOL. Siapa suruh menyetir dengan mulut?
Mereka berlari mengejar Young Sul, dan setelah beberapa lama Young Sul menghentikan mobilnya. Man Bo dan Chi San menghampiri mobil dengan terengah-engah. Young Sul mengancam mereka kalau lain kali mereka berhenti menyuruh-nyuruhnya saat ia sedang menyetir.
Mereka mengerti. Tapi sekarang bagaimana dengan Tae Moo? Mereka sudah kehilangan ambulans yang dinaiki Tae Moo walaupun Man Bo masih mengingat nomor polisinya. Tiba-tiba Young Sul mendapat ide dan mengajak mereka masuk ke dalam mobil.
Ia menjalankan mobilnya dengan kencang, hanya untuk ditabrakkan ke pembatas jalan. Man Bo dan Chi San keluar dengan badan sakit karena tabrakan mobil itu. Apa Young Sul sekarang sudah gila? Young Sul tidak gila. Bahkan inilah idenya, membuat mobil tabrakan dan melaporkannya pada polisi dengan laporan : mobil mereka tabrak lari dengan sebuah ambulans yang bernomor polisi yang diingat oleh Man Bo.
Mereka terkesima dengan pemikiran Young Sul dan memujinya. Tapi mengapa mereka berdua juga harus masuk ke dalam mobil? Kan lebih baik hanya Young Sul saja yang melakukannya.
Young Sul mendekat dan berkata, “Agar terlihat realistis.”
Hehe.. bilang saja mau balas dendam.

Tae Moo menelepon dan meminta ayahnya untuk mengadakan rapat pemegang saham ulangan sore ini. Cukup 2/3 pemegang saham sudah cukup. Tujuan diadakannya rapat adalah pencopotan CEO yang baru. Maka ayah dengan bersemangat menghubungi para pemegang saham.
Taek Soo yang mendengar kabar ini buru-buru lari menuju kantor, hingga terjungkal jatuh. Ia kesal karena di saat yang penting ia malah mempermalukan dirinya sendiri di depan orang banyak.
Hari itu Park Ha berjalan-jalan sendiri melihat-lihat kota. Ia tak menyadari kalau Yi Gak membuntutinya.
Yi Gak menikmati aktivitas ini, menikmati saat-saat ia bisa memperhatikan Park Ha selama ia mau. Memperhatikan apa yang diperhatikan Park Ha. Melakukan apa yang dilakukan Park Ha.
Saat Park Ha duduk di taman menikmati alunan musik pengamen jalanan, Yi Gak menaruh jasnya dan menelepon Park Ha. Sambil mengintinya, Yi Gak berkata kalau ia akan sedikit terlambat menemui Park Ha.
Park Ha tak mempermasalahkannya karena ia juga masih adal di jalan. Yi Gak tersenyum mendengarnya. Park Ha sedang berbohong.
“Aku akan sampai lima menit lagi,” kata Yi Gak.
“Aku juga akan sampai lima menit lagi. Kau tak perlu terburu-buru,” Park Ha mengangguk-angguk menikmati lagu yang dinyanyikan pemusik jalanan itu.
“Kalau kau sudah datang, tunggu aku sambil makan es krim, ya,” pancing Yi Gak. Sesaat Park Ha tak menjawab, hanya menatap es krim yang sedang ia makan dan mengangguk-angguk lagi mengiyakan. Yi Gak pun melanjutkan, “Dan jangan duduk sambil menggoyang-goyangkan kakimu. Berdiri dan tunggulah aku dengan sabar.”
Kaki Park Ha berhenti bergoyang dan matanya mencari-cari Yi Gak, “Kau ada dimana? Kau pasti sedang melihatku, ya?”
Yi Gak tersenyum geli, “Jangan selalu beranggapan kalau aku selalu melihatmu.”
Tak menemukan sosok Yi Gak, Park Ha pun duduk lagi sambil menyilangkan kaki, “Sudah ya, aku tutup tutup telelponnya.. “
“Dan jangan menyilangkan kaki seperti itu.”

Park Ha sontak berdiri lagi dan celingak-celinguk mencari Yi Gak, “Kau ada dimana?” 
Hampir saja Yi Gak ketahuan. Ia geli melihat Park Ha yang kebingungan. Ia masih ingin menggoda Park Ha
 lagi, tapi ada telepon masuk untuknya. Dari Taek Soo.

Ia hanya mendengarkan sebentar dan langsung berlari menuju mobil, mengabaikan Park Ha yang masih kebingungan mencarinya.
Park Ha mulai berkeliling mencari sosok Yi Gak. Tapi sosok itu tak ditemukan. Ia hanya menemukan sebuah jas yang tergeletak di atas bangku. Di sakunya tersembul saputangan yang ia kenal. Saputangan kupu-kupu. Saat menelepon, Yi Gak pasti ada di taman ini. Tapi dimana Yi Gak sekarang?
Tae Moo menemui ayahnya lagi untuk mematangkan rencana mereka. Dan ayah menyuruh Tae Moo untuk mulai menjalankannya. Tae Moo pun bergegas menuju rumah sakit.
Begitu pula Yi Gak yang mempercepat laju mobilnya, seakan saling berpacu siapa yang lebih cepat sampai. Ia tak memperhatikan kalau Park Ha meneleponnya.
Park Ha menunggu Yi Gak mengangkat teleponnya. Tapi tetap tak diangkat oleh Yi Gak. Tiba-tiba Park Ha teringat akan saat Yi Gak menghilang dari hadapannya. Tubuhnya lemas, takut kalau hal itu terulang lagi.
Dan mungkin untuk selamanya.
Ia hanya dapat memeluk jas Yi Gak dengan erat. Dan ia berdiri menunggu di taman, seperti yang Yi Gak perintahkan padanya.
Yi Gak sampai di rumah sakit. Di tempat parkir, Young Sul dan Chi San yang menyamar menjadi paramedis dan suster telah menunggunya. Mereka memberitahukan kalau Tae Moo belum datang.
Hanya beda beberapa saat, Tae Moo tiba di rumah sakit. Man Bo yang memata-matai dari lobi depan, memberitahukan hal ini pada Chi San.
Yi Gak yang masuk lewat tangga darurat, menyuruh Man Bo untuk memperlambat kedatangan Tae Moo. Man Bo pun mempersiapkan diri. Namun ia malah dihadang oleh seorang nenek yang menanyakan arah padanya. Man Bo berusaha menghindarinya, tapi nenek itu malah semakin bersikeras meminta Man Bo menunjukkan jalan untuknya.
Saat Man Bo berhasil melepaskan diri dari nenek itu, Tae Moo telah masuk ke dalam lift.Buru-buru Man Bo naik mengejar Tae Moo melalui tangga daruruat. 
Tim Yi Gak berhasil mendahului masuk ke ruangan Tae Young. Young Sul dan Chi San memindahkan tubuh Tae Young ke dipan beroda. Yi Gak memandangi reinkarnasinya sebelum Young Sul dan Chi San membawanya pergi.
Young Sul dan Chi San keluar dari ruangan bertepatan Tae Moo dan juru kamera yang keluar dari lift. Buru-buru mereka menundukkan wajah dan mendorong tempat tidur Tae Young. Mereka terkesiap kaget saat Tae Moo memanggil mereka.
Ternyata Tae Moo memungut name tag Chi san yang terjatuh dan memberikannya pada Chi San. Masih tetap menunduk Chi San mengerima name tag-nya. Mereka pergi, berhasil meloloskan Tae Young tepat di bawah hidung Tae Moo.
Tae Moo hendak masuk ke dalam ruangan, tiba-tiba seorang dokter menghentikannya. Dokter itu meminta Tae Moo untuk mengikutinya. Tae Moo mengatakan kalau dokter itu salah orang. Dokter itu menatap Tae Moo heran, dan kemudian pergi sambil menggumam kalau ia salah orang.
Kedatangan dokter itu sangat mencurigakan bagi Tae Moo. Ia bergegas masuk ke dalam kamar Tae Young dan menghela nafas lega. Tae Young masih tetap ada di tempat tidur, tergeletak tak berdaya.
Ayah menyambut kedatangan para pemegang saham, termasuk Nenek dan Taek Soo. Teleconference mulai diadakan. Di layar tampak Tae Moo sedang berbicara, melaporkan penemuannya. Bahwa CEO yang mereka pilih beberapa saat yang lalu adalah penipu. Pria itu bukanlah Tae Young, karena Tae Young asli sekarang berada bersamanya. Tergeletak koma.
Kamera mengarah ke belakang Tae Moo, ke arah Tae Young yang terbaring dengan tatapan kosong. Semua orang, terutama nenek sangat kaget melihatnya. 

Tae Moo memberitahukan kalau Tae Young asli sekarang sedang koma dan kemungkinan untuk pulih sangatlah kecil. Tapi ia sangat yakin kalau ia adalah Tae Young yang asli. Dan Tae Young yang menjadi CEO adalah Tae Young palsu. Ia mengajukan pembatalan Tae Young sebagai CEO.
Tanpa disangka-sangka, Tae Young berkedip dan perlahan-lahan bangkit dan memanggil sepupunya,
"Tae Moo Hyung ..."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar