Kamis, 17 Mei 2012

Sinopsis Rooftop Prince Episode 17

Sinopsis Rooftop Prince Episode 17


Di tengah jalan, Yi Gak bertemu dengan Young Sul yang telah menunggunya dengan membawa sebuah mobil. Rupanya Yi Gak memerintahkan Young Sul untuk membawa mobil pengganti untuknya.


Young Sul meminta agar ia diperbolehkan ikut karena kondisi sekarang sangat membahayakan. Tapi Yi Gak menolak karena ini adalah masalah antara dirinya dan Tae Moo yang akan ia selesaikan sendiri.
Se Na datang ke hotel atas permintaan CEO Jang. Ia tak kaget saat mendengar kata-kata CEO Jang kalau ia telah menemukan putrinya. Se Na bertanya cemas, apakah In Joo telah ditemukan? CEO Jang mengatakan belum. Ia bercerita kalau memiliki 2 orang putri. Yang satu adalah In Joo, dan yang satu lagi adalah kakaknya, yaitu Se Na sendiri.
 “Setelah aku melahirkanmu, aku menitipkanmu untuk dirawat oleh kakak sehingga kau menganggapnya sebagai ibu kandungmu. Maafkan aku. Maafkan aku yang tak baik ini.”
Se Na sangat terkejut. Bukannya memeluk CEO Jang karena bahagia, ia malah meminta diri untuk keluar sebentar dengan alasan untuk menenangkan diri. 
Di luar, dengan gemetar ia menelepon Tae Moo dan memberitahukan kalau CEO Jang belum tahu kalau Park Ha adalah putrinya. Jadi ia meminta agar Tae Moo membatalkan rencananya dan membebaskan Park Ha.
Tapi sudah terlambat. Park Ha yang kedinginan di dalam truk, sekarang kelelahan karena menggedor-gedor pintu truk namun tak ada yang mendengarnya. Ia hanya dapat meringkuk dan menangis putus asa.
Tae Moo juga tak mau membatalkan rencananya karena target yang telah ditunggu akhirnya datang juga. Yi Gak datang sendirian dan melemparkan handphone itu padanya. Tae Moo mengancam Yi Gak agar tak berpikir untuk menyimpan copy foto itu, karena ia tak akan tinggal diam.
Yi Gak pun berkata, “Mulai sekarang, aku tak akan mengancammu lagi.”
Tae Moo tersenyum mendengarnya. Akhirnya si penipu itu mengerti juga maksudnya. Tapi Yi Gak melanjutkan, “Ancaman tak akan cukup bagimu. Aku akan membuatmu menyesal selamanya.”
Tae Moo tersenyum sinis mendengar ancaman Yi Gak. “Apakah kau tak ingin menyelamatkan Park Ha? Kalau begitu, jaga mulutmu. Dasar penipu.”
Tae Moo menjatuhkan kunci truk itu ke tanah dan mengatakan lokasi tempat truk itu. Ia menendang kunci itu, mengisyaratkan kalau Yi Gak harus menunduk untuk mengambil kunci itu.
Dan untuk pertama kalinya, Yi Gak sebagai pangeran harus menunduk untuk menyelamatkan Park Ha.
Tak cukup dengan itu. Saat Yi Gak memungut kunci, muncul segerombol preman yang langsung memukuli Yi Gak. Tae Moo tersenyum melihat Yi Gak melawan sia-sia, karena jumlah mereka sangatlah banyak.
Namun senyumnya tak lama, karena ada seseorang yang muncul dan menyelamatkan Yi Gak. Satu persatu preman itu dipukul sehingga Yi Gak  selamat.
“Yang mulia, cepat selamatkan Park Ha! Hamba yang akan mengurus mereka semua,” kata Young Sul.
Yay! Untung Young Sul tak mematuhi perintah Yi Gak. Benar-benar pengawal yang kompeten.
Yi Gak meminta Young Sul untuk berhati-hati dan ia pergi meninggalkan pengawalnya yang masih bertarung dengan para preman itu. Tae Moo yang melihat kalau kemampuan preman suruhannya tak sebanding dengan kemampuan Young Sul, buru-buru meninggalkan tempat itu juga.
Se Na menemui CEO Jang dan berlutut meminta maaf padanya. Ia sangat malu dan menyesal (karena penipuannya menjadi In Joo). CEO Jang membantu Se Na untuk berdiri dan berkata, “Saat kau berbohong, aku merasa kalau itu semua karena kesalahanku. Mari kita kembali ke Hong Kong dan mulai dari awal lagi.”
Yi Gak melarikan mobilnya cepat-cepat. Ia akhirnya menemukan truk yang dimaksud. Buru-buru ia mengeluarkan kunci truk. Tapi tangannya sangat gemetar hingga kunci itu jatuh. Akhirnya pintu itu terbuka juga.
Untuk kedua kalinya, ia melihat Park Ha meringkuk tak sadarkan diri. Ia memeluk Park Ha dan memanggil-manggilnya agar Park Ha tersadar. Park Ha akhirnya tersadar dan menangis lega dalam pelukan Yi Gak.
Yi Gak hanya dapat mempererat pelukannya untuk menenangkan Park Ha.
Ketiga Joseoners menunggu kedatangan Yi Gak. Chi San dan Man Bo menyuarakan kecemasannya akan keselamatan junjungannya dan Park Ha. Tapi Young Sul menenangkan mereka agar tak perlu khawatir.
Akhirnya kecemasan mereka berakhir karena Yi Gak datang membawa Park Ha. Mereka buru-buru membimbing Park Ha dan bersyukur atas keselamatannya.
Sepanjang malam Yi Gak menunggui Park Ha yang tertidur di kamar. Ia menggenggam tangan Park Ha dan membelai rambutnya, sehingga membuat Park Ha terbangun. Park Ha tersenyum melihat Yi Gak yang masih menungguinya. Yi Gak mengajak Park Ha untuk sarapan dan tentu saja sarapannya omurice.
Park Ha bangkit untuk membuatkan sarapan untuk mereka berdua. Tapi kepalanya masih terasa pusing dan Yi Gak menyuruhnya untuk istirahat karena Park Ha belum pulih benar. Tapi Park Ha tak mau. Ia masih ngotot ingin membuatkan sarapan untuk Yi Gak.
Maka Yi Gak mengecup bibirnya dan berkata, “Kalau kau tak diam, aku akan menutup mulutmu.”
Kemudian Yi Gak mengecup matanya dan berkata, “Kalau kau tak mau menutup matamu, aku akan menutupnya untukmu.”
Aww.. so … *speechless*
Park Ha kembali tersipu-sipu karena perlakukan Yi Gak yang tiba-tiba sangat romantis ini. Ia hanya bisa mengumamkan, “Dasar bodoh,” tapi membaringkan tubuhnya lagi untuk beristirahat.
Sarapan telah siap dan omurice yang dibuat Yi Gak terlihat berbeda. Park Ha memuji omurice Yi Gak yang kelihatan ‘menarik’ dan memakannya.
Dari ekspresi Park Ha yang menggumamkan ‘mmmhhh’ saat mengunyah omurice Yi Gak, sepertinya omurice Yi Gak memanglah menarik. Menarik, ya, bukannya enak. 
Yi Gak meminta Park Ha untuk beristirahat seharian di rumah. Tapi Park Ha tak mau. Ia akan menunjukkan pada Tae Moo kalau ia tak akan terpengaruh dengan kejadian kemarin dengan bekerja untuk CEO Jang karena hari ini adalah hari terakhir CEO Jang di Seoul.

Yi Gak merasa bersalah karena mereka tak bisa melaporkan Tae Moo yang akan mengakibatkan kedoknya ketahuan. Park Ha menenangkannya karena ia yakin suatu saat Tae Moo akan mendapat balasan 1000 kali lebih berat dari yang di atas.
Tapi kejadian dengan Tae Moo membuat Park Ha yakin kalau sebenarnya ibunya juga sedang mencarinya. Yi Gak bertanya apa yang akan ia lakukan selanjutnya? Park Ha akan mengiklankan foto itu di surat kabar, berharap ibu kandungnya akan melihatnya.
Di kamar, Park Ha mengambil foto itu dan memasukkannya ke dalam amplop. Ia berdoa agar ibunya bisa melihat foto itu.
Tae Moo merasa gembira mendengar kabar dari Se Na kalau Se Na benar-benar adalah anak CEO Jang. Yang berarti ia adalah benar-benar kakak Park Ha?
Se Na kesal mendengar pertanyaan Tae Moo dan meminta Tae Moo untuk tak mengungkit-ungkit masalah Park Ha menjadi adiknya. Hal itu membuat moodnya menjadi jelek.
Se Na juga meminta agar Tae Moo tak membicarakan masalah saham perusahaan sekarang karena ia akan melakukannya nanti tapi secara perlahan-lahan. Tae Moo menyetujuinya.
Park Ha membawakan barang-barang yang diperlukan CEO Jang ke kamar hotelnya. Ia menyadari kalau CEO Jang sedang gembira dan CEO Jang mengakuinya. CEO Jang melihat kalau Park Ha membawa amplop dan bertanya amplop apa itu. Park Ha menjelaskan kalau ia akan menaruh foto keluarganya di surat kabar dan mengiklankannya.
CEO Jang ingin melihat foto keluarga Park Ha dan Park Ha memberikan amplop itu padanya.
Butuh waktu sedetik untuk CEO Jang menarik foto itu dari dalam amplop, tapi sedetik itu adalah saat handphone CEO Jang berbunyi.
Ahhhh!!! *sebel sebel sebel*

CEO Jang meletakkan amplop itu dan mengangkat handphonenya. Ternyata telepon itu  dari Se Na, dan CEO Jang meminta Se Na untuk pergi ke rumah ibunya karena mereka harus berpamitan pada ibunya sebelum mereka berangkat ke Hong Kong.
Park Ha kaget saat mendengar kalau Se Na adalah putri CEO Jang. Apakah Se Na adalah In Joo yang dicari? CEO Jang menggeleng, ia masih belum menemukan In Joo tapi sejak awal ia tahu kalau Se Na adalah putrinya.
Setelah diberitahu kalau ibu kandungnya akan mendatangi rumahnya, Se Na buru-buru berpamitan pada Tae Moo. Ia segera pergi ke rumah ibunya.
Bukannya menenangkan ibunya yang akan kehilangan putri yang telah dibesarkan selama ini, Se Na malah mengemasi semua foto-foto yang tergantung di dalam rumah. Foto yang ada gambar ayah tirinya. Ia juga mengambil album foto yang telah ibu persiapkan di meja karena CEO Jang ingin melihatnya.
Ibu merasa heran pada Se Na yang merasa biasa-biasa saja padahal Se Na akan meninggalkannya. Se Na berdalih kalau kepergiannya ke Hong Kong bukan berarti ia tak akan menjadi putri ibu. Dan ia tak ingin CEO Jang melihat masa-masa kecilnya. Ia ingin kenangan masa kecilnya tersimpan hanya untuk kenangan ibu dan dirinya saja.
Ibu mengangguk mendengar kata-kata Se Na yang menghibur hatinya. Ia tak menyadari kalau Se Na melihat-lihat ke sekeliling rumah, mencari foto-foto yang mungkin terlewatkan olehnya.
CEO Jang diantar Park Ha untuk menemui ibunya dan Se Na di rumah. CEO Jang mengajak masuk karena rumah yang akan ia kunjungi adalah rumah Park Ha juga. Tapi dengan sopan Park Ha menolak, karena saat ini ia datang ke rumah ini sebagai sekretaris CEO Jang bukannya sebagai putri ibunya. Ia merasa lebih baik jika CEO Jang, Se Na dan ibunya berbicara bertiga saja.
Ibu telah menyiapkan makanan kesukaan Se Na dan mengatakan pada CEO Jang apa kesukaan Se Na dan apa yang tak disukainya. Tapi ibu tak dapat menahan air matanya, membuat CEO Jang trenyuh dan berterima kasih karena telah membesarkan Se Na dengan baik. “Walaupun aku membawanya pergi untuk sementara waktu, tapi ia tetaplah putrimu. Aku akan menyuruhnya pulang, kapanpun kau merindukannya.”
Bukannya menjawab, ibu malah mengalihkan perhatian pada sup rumput lautnya yang sudah mulai dingin. Ia berkata akan memanaskannya. Sebelum air matanya mengalir lebih banyak lagi, ibu mengambil panci sup dan membawanya ke dapur.
Tapi karena menangis, ibu tak memanaskan panci sup dengan benar. Malah tangannya terkena api, membuatnya menjerit perlahan.
Dari tempat duduknya, Se Na memanggil ibu dengan khawatir. Tapi sambil menangis, ibu menenangkannya dan berkata kalau ia menangis karena tangannya terasa sakit terkena api. Namun kebohongannya tak dapat ditutupi karena ia terus menangis walaupun air kran telah mengucur mendinginkan tangannya yang terbakar.
CEO Jang bangkit dan hanya dapat memeluk temannya.
Walaupun handphone Tae Young telah diserahkan, foto-foto New York masih tersimpan rapi di laptop (Yay! Detektif Yi Gak sudah melek tekhnologi). Dan Yi Gak menunjukkan foto itu pada Park Ha.
Mulanya Park Ha tak mengenali foto itu, tapi matanya terbelalak saat Yi Gak men-zoom in sosok gadis yang ada di belakang Tae Moo dan Tae Young. Gadis itu adalah dirinya. Dan ia menyadari kalau Tae Young dan Tae Moo pernah bertemu di pub tempatnya bekerja dan kartu pos yang bergambar wajahnya pasti dari Tae Young yang saat itu pergi bersama sepupunya.
Yi Gak membenarkan hal itu walaupun Tae Moo selalu berbohong dan berkata tak pernah menemui Tae Young di New York.
“Aku tak akan mempermainkannya lagi,” kata Yi Gak sambil memakai kaca mata Tae Young dan meneruskan, “Aku akan benar-benar menghancurkannya.”
Tae Moo menunggu kedatangan sepupunya di restoran. Mereka berjanji untuk makan siang bersama. 
Akhirnya Tae Young datang dan Tae Moo menanyakan absennya Tae Young di kantor. Biasanya Tae Young selalu datang ke kantor, mengapa kali ini tidak? Tae young menjawab santai, “Aku jalan-jalan mengelilingi kota sampai malam. Lagipula aku tak cocok di dalam perusahaan. Kan ada kau yang mengurus perusahaan.”
Tae Young mengajak sepupunya masuk ke restoran dan berlagak mencari-cari seseorang, membuat Tae Moo ingin tahu, siapa yang dicari Tae Young? Tae Young ingin mengenalkan Tae Moo pada seseorang tapi karena orang itu belum datang, ia ingin ke toilet terlebih dahulu.
Saat itulah Park Ha datang, mengagetkan Tae Moo. Park Ha menyindir saat menyapanya, “Kau pasti kemarin tidur nyenyak karena kejadian kemarin malam.”
“Kau seharusnya melaporkanku pada polisi,” kata Tae Moo.
“Aku tak akan melaporkanmu.”
Tae Moo tersenyum mengejek Park Ha, “Kau tak dapat melaporkanku karena si penipu itu. Aku akan memberi saran padamu. Kau harus memilih pacar dengan hati-hati.”
Tae Moo tak menyadari kalau Yi Gak mengawasinya dan ia melanjutkan kata-katanya, “Tak ada yang bisa kita bicarakan lagi, jadi minggirlah dariku. Jangan dekat-dekat denganku lagi.”
Tapi Park Ha hanya menjawab, “Aku ada janji bertemu dengan seseorang di tempat ini.”
Bersamaan dengan itu, Yi Gak menghampiri mereka berdua dan bertanya pada Tae Moo, “Hyung, apakah kau mengenalnya?”
Tae Moo segera membantah kalau ia mengenal Park Ha. Tapi betapa terkejutnya ia saat Park Ha menyapa sepupunya dengan sopan dan sepupunya balas menyapa juga, malah mempersilakan Park Ha duduk bersama mereka.
Tae Moo lebih kaget lagi saat sepupunya bercerita kalau kemarin ia bertemu dengan Park Ha di kantor dan ia merasa pernah mengenalnya.
“Karena ia mirip dengan seseorang yang kukenal, jadi saat bertemu aku selalu memandanginya,” Park Ha menjelaskan dengan ‘ramah’ pada Tae Moo.
“Saat itu kami berbicara dan aku baru mengetahui kalau kami pernah bertemu di New York,” lanjut Tae Young membuat Tae Moo waspada. Tae Young bertanya pada Park Ha, “Apakah kau membawanya?”
Park Ha menyerahkan kartu pos bergambar dirinya pada Tae Young. Tae Young menerima kartu pos itu dan berkata pada Tae Moo, “Menurut gadis ini, aku yang menggambarnya, dan kupikir aku sedikit mengingatnya.”
“Saat itu kalian datang bersama,” kata Park Ha tiba-tiba.
“Apa?” tanya Tae Moo kaget.
“Kupikir aku melihat kalian berdua di pub tempatku bekerja di New York,” kata Park Ha menjelaskan.
“Kau salah melihat orang,” bantah Tae Moo mulai gelisah.
Yi Gak melihat Tae Moo mulai seperti cacing kepanasan dan berkata pada Park Ha, “Hyungku tak pernah bertemu denganku di New York, jadi kau pasti salah lihat.”
Park Ha pun mengikuti akting Yi Gak dan hanya meng ‘hmmmm.. iya ya?’
Tapi pertemuan ini sudah membuat Tae Moo gerah karena takut kedoknya terbongkar di depan Tae Young (note: ia masih mengira kalau ada dua Tae Young: Tae Young palsu-yang kemarin menyelamatkan Park Ha- dan Tae Young asli –sepupunya yang sekarang berdiri di hadapannya-).
Agar kedoknya tak terbongkar, ia buru-buru pamit dengan alasan banyak pekerjaan di kantor. Tapi Tae Young menahannya dan berkata, “Kenapa kau seperti ini? Pertemuan dengannya adalah sesuatu yang luar biasa,  Jadi aku ingin menceritakan hal ini padamu.”
Akhirnya Park Ha yang pamit terlebih dulu. TinggalTae Moo bersama Tae Young yang berkata kalau mungkin ia pernah menyukai Park Ha karena ia pernah menggambarnya. Sambil mendesah ia berkata kalau saja ia tak mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, ia mungkin telah berpacaran dengan Park Ha di New York.
Hmm.. Tae Moo belum sadar juga dan pasti kejadian ini membuat Tae Moo bertanya-tanya kalau Tae Young palsu pasti masih menyimpan foto New York dan sekrang menyuruh Park Ha untuk menerornya.
Jadi sekarang ia pergi ke rumah Tae Young dan menemukan laptop yang tersimpan di balik tumpukan buku. Ia membuka laptop itu dan kecurigaannya terbukti, kalau foto-foto itu masih ada. Ia menggeram marah, “Dasar pengecut!”
Belum sempat ia mengambil laptop itu, sepupunya muncul dan bertanya apa yang sedang Tae Moo lakukan di kamarnya. Tae Moo tersenyum gugup dan buru-buru berkata, “Aku mencari buku bacaan dan menemukan laptop ini. Apakah kau sering menggunakannya?”
Yi Gak tersenyum dan mengikuti kebohongan Tae Moo, “Tidak. Aku tak menggunakannya karena laptop itu laptop lama.” Ia mengambil sebuah buku tebal dan berkata pada Tae Moo, “Bacalah buku ini kalau kau tak dapat tidur.”
Tae Moo memaksakan senyumnya saat ia meletakkan laptop itu dan mengambil buku tebal yang diberikan sepupunya.
Hehe.. on random thought, Yi Gak benar saat menyarankan sebuah buku yang setebal buku  literatur agar Tae Moo bisa tidur. Saya juga akan tidur sebelum satu bab selesai dibaca. LOL.
Malamnya, Park Ha memberitahukan Yi Gak kalau Se Na adalah putri sebenarnya dari CEO Jang. Yi Gak kaget walau ia kemudian memberitahukan dugaan yang selama ini selalu mengganggunya. 
“Di Joseon, Bu Young dan Hwa Young adalah saudara kandung tapi di jaman ini kalian bukanlah saudara kandung. Tapi sekarang baru diketahui kalau Se Na memiliki ibu kandung yang telah terpisah, dan kau juga.. Mungkin kalian juga seperti di Joseon, saudara sekandung juga. Dan kau juga adalah putri CEO Jang.”
Park Ha membantah dugaan itu, tapi tak dapat dibantah kalau pemikiran Yi Gak terselip juga dalam pikirannya.
Yi Gak memijat kaki nenek, membuat nenek merasa senang karena sudah lama cucunya tak melakukan hal seperti ini lagi. Ia juga memperhatikan kalau cucunya sudah tak pernah melukis lagi.
Dan dengan tangkas Yi Gak menjawab, “Sekarang handphone juga sudah bisa mengambil gambar-gambar yang bagus, jadi tak perlu susah-susah menggambar lagi, nek.”
Yi Gak mengambil handphonenya dan mengambil selca bersama nenek. Nenek sangat gembira dan tapi Tante yang melihatnya malah cemburu melihat kedekatan nenek dan cucunya.
Nenek semakin membuat Tante kesal dengan menyuruhnya untuk segera memiliki cucu dan ia pun menjawab, “Bagaimana mau punya cucu? Punya anak saja tidak!”
LOL.
Nenek ingin makan mie dan Yi Gak menawarkan diri untuk pergi membelinya. Tapi nenek menolaknya, “Aku lebih suka begini, bersamamu. Aku tak ingin yang lainnya lagi. Bersamamu seperti ini sudah cukup bagiku.”
Yi Gak tersenyum pada Nenek dan mengiyakannya.
Tae Moo menyuruh Se Na untuk mengambil laptop yang ada di kamar Tae Young. Rupanya ia takut sepupunya suatu saat akan melihatnya. Caranya? Ia akan mengajak sepupunya untuk pergi dan sementara itu Se Na ke rumah untuk mengambilnya.
Maka Se Na pergi ke rumah Tae Young dan masuk dengan menggunakan kunci yang ia miliki. Kebetulan pembantu rumah tangga Tae Young telah pulang. Jadi Se Na dapat masuk rumah dengan leluasa.
Tae Moo menahan Yi Gak untuk minum bir di pub selama mungkin. Setelah Tae Young merasa cukup dengan birnya, Tae Moo mengajak sepupunya untuk minum anggur.
Walaupun sedikit curiga, Yi Gak mengikuti permainan Tae Young.
Di dalam kamar Tae Young, Se Na akhirnya menemukan laptop yang dimaksud Tae Moo. Sebelum mengambilnya, ia melihat dulu isinya. Betapa terkejutnya Se Na melihat foto yang ada di dalam laptop itu, “Apa ini? Bukankah ini foto Tae Young dan Tae Moo?”
Sejenak ia terkejut, sejenak kemudian ia terpaku. Ia merasa ada kehadiran orang lain di kamar Tae Young. Ia pun berbalik, dan..
Ada nenek berdiri di belakangnya dengan pandangan curiga. Buru-buru Se Na menutup laptop Tae Young dan menyapa nenek dengan canggung. Tapi nenek tak dapat ditipu. Ia mendengar seruan Se Na tadi dan bertanya apa yang sedang dilihat Se Na? Apakah ada foto Tae Moo dan Tae Young  di dalam sana?
Se Na membantah hal itu, dan buru-buru mengambil laptop dan menyingkir pergi keluar kamar. Tak sengaja kunci rumahnya terjatuh di dekat pintu kamar Tae Young.
Tapi nenek tak membiarkan Se Na pergi. Ia mengejar Se Na sampai ke ujung tangga, meneriakinya agar berhenti. Tapi Se Na tak mau berhenti, membuat nenek harus menghentikannya dengan mencoba mengambil laptop dari pelukan Se Na.
Se Na gugup dan menarik laptop itu sehingga nenek ikut tertarik..
.. dan terguling jatuh dari tangga.
Se Na berteriak memanggil nenek, tapi nenek tak segera bangun. Malah ada darah keluar dari kepalanya. Se Na panik ketakutan melihat nenek tak sadarkan diri. Ia buru-buru pergi meninggalkan rumah.
Ia meninggalkan rumah secepat-cepatnya, tak memperhatikan kalau ada dua orang yang mobilnya terserempet. Setelah yakin semua aman, Se Na mengirim SMS pada Tae Moo.
Tae Moo menerima SMS Se Na “Sesuatu yang buruk telah terjadi. Segera telelpon aku.”. Tae Moo pun mengajak Tae Young untuk pulang.
Ia menemui Se Na yang gemetar ketakutan, mengaku kalau ia tak melakukan apapun pada nenek dan nenek jatuh sendiri. “Kau percaya padaku, kan? Tak akan terjadi sesuatu, kan?” tanya Se Na setengah memohon. 
Tae Moo memeluk Se Na dan menenangkannya, “Apapun yang terjadi, semuanya itu hanyalah kecelakaan. Aku akan melindungimu.”
Yi Gak pulang ke rumah dengan membawakan mie untuk nenek. Di depan rumah, ia melihat ada bekas kecelakaan mobil. Ia merasa sedikit curiga melihat pintu halaman terbuka.
Betapa kagetnya saat ia masuk rumah dan melihat nenek tergeletak di ruang tengah dengan kepala bersimbah darah. Yi Gak berlari dan memeluk nenek, memintanya untuk bangun.
Nenek dikirim ke UGD dengan semua anggota keluarga menunggu dengan cemas. Tante tak henti-hentinya menangis, membuat Taek Soo harus menenangkannya. Dokter keluar dan mereka semua mengerubungi dokter, ingin tahu bagaimana kesehatan nenek.
Dan dokter memberitahukan, “Kami sudah berusaha semampunya tapi kami tak mampu menyelamatkannya. Beliau telah meninggal dunia.”
Semua tak percaya mendengar perkataan dokter. Tangis Tante pecah lagi,  sehingga Taek Soo harus memeluknya. Yi Gak terpana tak mampu berkata apapun dan Tae Moo yang juga terkejut, buru-buru segera pergi.
Setelah mendengar kabar dari Tae Moo, Se Na tak henti-hentinya menyalahkan diri sendiri dan bingung apa yang harus ia lakukan sekarang. Tae Moo menyuruhnya untuk segera berangkat ke Hong Kong. Tinggal di sana dan anggaplah tak ada sesuatu yang terjadi di sini sampai ia menelepon Se Na.
Nenek dimakamkan dan Yi Gak duduk terpekur di depan foto nenek. Ia teringat akan kenangan terakhirnya bersama nenek dan harapan nenek untuk selalu bersama dengannya (sebagai Tae Young). Tante mengajak Yi Gak untuk pulang.
Di rumah, Yi Gak masuk kamar dan kakinya menyandung sebuah benda. Sebuah kunci rumah. Ia langsung curiga dan segera mencari  laptopnya. Dan laptopnya menghilang. Ia segera merangkai semua kejadian dan kecurigaannya mengarah pada satu orang.
Se Na pulang ke apartemen dan mencari kuncinya. Tapi karena gugup, tasnya terjatuh dan semua isinya tercerai berai. Putus asa karena tak segera menemukan kuncinya, ia hanya mengembalikan isinya ke dalam tasnya lagi dan memencet password key-nya.
Ia segera mengambil semua baju yang bisa diraihnya dan memasukkannya ke dalam koper. Tapi karena terburu-buru dan seadanya, saat ia menutup koper, koper itu tak dapat tertutup. Sekeras apapun Se Na menutupnya, koper itu tetap menolak untuk tertutup. Se Na berteriak putus asa dan menangis tersedu-sedu.
Akhirnya CEO Jang dan Se Na berangkat ke bandara dan diantar oleh Park Ha. CEO Jang mengembalikan amplop yang berisi foto keluarga Park Ha dan mendoakan agar Park Ha dapat menemukan ibu kandungnya. Park Ha berterima kasih, namun Se Na hanya terdiam.
CEO Jang juga berkata pada Se Na, “Walaupun kau adalah putriku, tapi kau harus tetap menjadi kakak Park Ha, ya.” Tak ada kata lain yang terucap dari mulut Se Na selain kata iya.
Di bandara, sebelum berpisah CEO Jang memberikan uang untuk semua pekerjaan yang telah Park Ha lakukan. Ia juga memberikan uang lebih untuk pencarian ibu kandung Park Ha. Park Ha berterima kasih dan mereka pun berpisah.
 
Hanya saja, setelah berpisah kata-kata Yi Gak kembali terngiang-ngiang di telinga Park Ha. Kata-kata Yi Gak tentang kemungkinan CEO Jang adalah ibu kandungnya.
Park Ha berbalik dan berlari ke tempat mereka berpisah tadi. Ia mencari-cari CEO Jang, dan akhirnya menemukannya sedang duduk sendirian.

Ia segera menghampiri CEO Jang yang kaget karena Park Ha menemuinya kembali. Park Ha meminta CEO Jang meluangkan waktu sebentar untuknya dan ia mengangsurkan amplop foto itu pada CEO Jang sambil bertanya, “Apakah Anda mungkin mengenali foto di dalam amplop ini?”
CEO Jang menerima amplop itu dan menarik foto di dalamnya. Matanya terbelalak melihat foto yang sama dengan miliknya hanya wajahnya saja yang hilang dan ia menyadari kalau, “Kau adalah In Joo?”
Mata Park Ha berkaca-kaca mendengarnya, “Namaku adalah In Joo?”
CEO Jang segera memeluk Park Ha erat dan walaupun sambil terisak, ia tetap memanggil In Joo berkali-kali pada Park Ha.
Se Na yang baru saja kembali dari menelepon Tae Moo, kaget melihat ibunya dan adiknya berpelukan. Ia segera menyadari apa yang telah terjadi.
Bukannya naik pesawat, Se Na naik bis dan mengirim SMS pada CEO Jang, “Maafkan aku, Bu. In Joo yang Ibu cari adalah Park Ha. Maafkan aku karena tak memberitahukan padamu. Aku sangat menyesal dan malu sehingga aku tak dapat ikut denganmu untuk kembali ke Hong Kong. Selamat tinggal.”   


Tae Moo kaget saat Se Na menelepon dan memberitahukan kalau ia tak jadi berangkat ke Hong Kong. Tae Moo menyuruh Se Na untuk ke apartemen mereka terlebih dahulu dan ia akan menemuinya ke sana.
Tae Moo tak menyadari kalau Yi Gak mendengar percakapannya di telepon.
Se Na minum alcohol bergelas-gelas. Ia mendengar suara pintu terbuka dan tanpa menoleh ia berkata dengan gusar, “Bagaimana mungkin kau menyuruhku untuk mendatangi pemakaman nenek? Dan bagaimana mungkin kau berdiri di pemakaman nenek? Apakah kau tak takut?”
Ia menunggu jawaban, tapi tak ada sahutan dari Tae Moo. Ia menoleh dan terbelalak kaget. Ternyata Tae Young masuk ke apartemennya, dan dengan marah menghampirinya.
Sesaat kemudian Tae Moo muncul dan kaget melihat sepupunya masuk ke dalam apartemennya.
Ia mencoba menyapa Tae Young, tapi Tae Young membalikkan tubuhnya dan langsung memukul Tae Moo,
“Kau bajingan!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar