Kamis, 17 Mei 2012

Sinopsis Rooftop Prince Episode 5

Sinopsis Rooftop Prince Episode 5


Sinopsis Rooftop Prince Episode 5

Sapaan Yi Gak mengagetkan semuanya. Nenek terkejut bercampur gembira. Tapi tidak demikian dengan Tae Moo. Merasa yakin kalau saat itu Tae Young telah tenggelam 2 tahun yang lalu, yang berarti pria di depannya ini bukan sepupunya. Ia langsung bertanya,

Sinopsis Rooftop Prince Episode 5
“Siapa kau? Apakah kau telah merencanakan dari awal?”
Tapi nenek menghentikan Tae Moo dan meminta semuanya keluar karena ia ingin berbicara berdua dengan Yi Gak. Setelah hanya berdua, nenek perlahan-lahan bertanya, “Apakah kau benar-benar Tae Young? Apakah kau benar-benar cucuku Tae Young?”



Sinopsis Rooftop Prince Episode 5
Tanpa keraguan, Yi Gak mengangguk. Nenek langsung memeluk Yi  Gak, menyalahkan diri sendiri  yang tak dapat mengenali cucunya.

Sinopsis Rooftop Prince Episode 5
Walaupun Tae Moo, Se Na dan Park Ha disuruh pergi, tapi kata-kata nenek terdengar karena ruangan Yi Gak hanya dipisahkan oleh sehelai tirai tipis. Tangan Tae Moo gemetar, tak menghiraukan Se Na yang mengajak Park Ha pergi. Ia teringat pada pukulannya yang menenggelamkan sepupunya, Tae Young. Dan dengan tangan yang sama ia juga memukul pria yang mirip dengan sepupunya.

Sinopsis Rooftop Prince Episode 5
Hmm.. takut ketahuan atau menyesal kenapa pukulannya kali ini kurang keras sehingga Yi Gak masih bisa hidup?

Sinopsis Rooftop Prince Episode 5
Di luar Se Na bertanya akan keputusan Park Ha. Apakah ia sudah memutuskan untuk kembali ke Amerika? Kali ini ia berterus terang memberitahu alasan mengapa ia ingin Park Ha pergi dari Korea.
“Pria yang baru saja bersamaku adalah pacarku. Saat berkenalan dengannya, aku berbohong tentang latar belakangku. Aku tak memiliki ibu yang berjualan ikan di pasar. Aku juga tak mempunyai adik yang memiliki marga yang berbeda dengan keluargaku. Ibuku adalah seorang professor yang sedang mengajar di universitas di Inggris. Dan tak peduli apapun yang terjadi, aku akan menikah dengannya. Jadi janganlah muncul lagi di hadapanku.”
Park Ha terhenyak mendengar permintaan Se Na. “Apakah itu sebabnya kau ingin aku pulang ke Amerika?”

“Bukankah kau mau menerima uangku? Apakah kau tak membutuhkan uang itu lagi?” kata Se Na memojokkan.


Park Ha tak dapat mengelak. Ia benar-benar membutuhkan uang itu. Maka Se Na menyuruhnya untuk segera pergi.

Se Na meninggalkan Park Ha untuk menemui Tae Moo yang mencari wali Yi Gak. Tapi Se Na mencegah Tae Moo dengan mengatakan kalau Park Ha telah pulang karena ketinggalan sesuatu.

Padahal Park Ha ada di dekat mereka, mendengarkan dusta Se Na yang semakin membuatnya terluka.
Park Ha pulang ke rumah dengan sedih.


Tak ada hubungan keluarga yang mengikatnya di Korea. Teman-temannya sekarang (Becky dan Mimi) suatu saat akan kembali ke negaranya masing-masing. Keempat penghuni rumahnya yang baru.. well.. mereka datang tak diundang, pergi pun tak akan diantar, kan?

Saat masuk ke dalam rumah, Park Ha menemui ketiga teman barunya yang sedang mengeringkan rambut (!). Rupanya mereka baru saja keramas dan Man Bo menemukan cara untuk melembutkan rambut mereka dengan cairan yang bernama shampoo.
Heheh.. ini girl talk atau joseon talk, ya? Dan ternyata ini adalah percakapan yang tak pernah terungkap di drama-drama sageuk. Bagaimana cara mereka mencuci dan menyisir rambut. Ternyata seperti ini..


Park Ha memberitahu mereka kalau Yi Gak sudah kembali ke keluarga kayanya, sehinga mereka tak perlu cemas. Melihat rambut mereka yang tergerai panjang, Park Ha tak tahan meneruskan komentar pemilik rumah yang mengeluh pipa saluran airnya tersumbat (ha! Harusnya mereka memakai shampoo yang tak hanya melembutkan tapi juga anti rontok) dan menyuruh mereka untuk memotong rambut besok pagi.

Betapa kagetnya Park Ha melihat reaksi yang sangat tajam dari ketiganya. Bahkan Young Sul mengacungkan sisir sebagai ganti pedang dan meminta Park Ha memotong kepalanya saja jika Park Ha ingin memotong rambutnya.

Olala.. rambutku adalah mahkotaku. Ternyata di pria joseon juga memiliki prinsip hidup itu juga.

Yi Gak pulang ke rumah Tae Young bersama Nenek yang menyuruhnya segera istirahat. Bukannya istirahat, Yi Gak memandangi foto Tae Young dan berkata pada foto itu,
“Yong Tae Young, kau adalah reinkarnasiku. Lalu, kenapa kau menghilang? Mengapa aku harus datang ke sini dari masaku? Apakah kau sudah meninggal? Dan kau memanggilku ke duniamu?”

Esok harinya, Yi Gak meminta nenek untuk membelikan rumah loteng untuknya sampai ingatannya benar-benar pulih. Nenek menyanggupi, tapi ada syaratnya. Sambil membetulkan letak poninya (ha!), Yi Gak bertanya syarat yang diajukan oleh nenek.
“Rambut yang ada di kepalamu. Potonglah rambutmu!”
Yi Gak terbelalak mendengar syarat (yang tak masuk akalnya). Yi Gak menolak syarat itu dan mencoba menawar. Tapi keputusan nenek tak dapat diubah lagi. Kalau mau rumah loteng itu, cucunya harus mau potong rambut


Yi Gak kembali ke rumah loteng bersamaan dengan ibu kos yang datang membawa calon penyewa rumah loteng itu. Melihat pangerannya datang, ketiga pengikut itu langsung melaporkan kalau Park Ha akan keluar dari rumah loteng itu. Yi Gak ingin berbicara berdua dengan Park Ha.

Tapi Park Ha juga ingin mengatakan sesuatu pada mereka semua, dan mengajak mereka masuk. Di dalam, ia memberikan setumpuk baju Joseon meraka. Tak lupa ia mengambil pedang Young Sul yang ia sembunyikan di bawah bak cuci piring beserta pesan agar Young Sul tak sembarangan menggunakan pedang tersebut di luar rumah.

Tak disangka mereka protes karena Park Ha mengembalikan baju mereka. Man Bo malah mengatakan kalau mereka belum membalas hutang mereka. Tapi Park Ha akan mengabaikan hutang mereka.
Selama itu Yi Gak hanya terdiam memandang Park Ha. Ia menyuruh pengikutnya untuk keluar karena ia ingin berbicara berdua dengan Park Ha. Mematuhi perintah pangerannya, mereka pun keluar.

Yi Gak mencoba mengungkit apa yang pernah ia katakan saat hujan dulu, “Hal-hal yang kukatakan pada saat hujan waktu itu, aku mengatakannya tanpa mengetahui keadaanmu yang sebenarnya.”

Hmm.. apa Yi Gak mencoba untuk minta maaf? Karena tak ada kata maaf walaupun memang tersirat. Dan Park Ha tahu itu. Ia membalikkan punggung dan mengakui kalau bisnisnya sudah hancur. Apakah Yi Gak merasa senang sekarang?
“Katakanlah pada ibu pemilik rumah sekarang, kalau kau tak akan meninggalkan rumah loteng.”

Park Ha mencoba mengalihkan perhatian pada Yi Gak. Apakah Yi Gak benar-benar cucu orang kaya? Tanpa memandang mata Park Ha, Yi Gak mengiyakan. Park Ha sebenarnya masih ragu, tapi memilih mengabaikan karena itu bukan urusannya.

Ia mengeluarkan sehelai saputangan dan memberikan pada Yi Gak, “Pemilik binatu menemukan sapu tangan ini di lengan bajumu.”

Yi Gak terkejut namun senang mendapatkan saputangan itu lagi. Namun ia lebih terkejut lagi melihat ada yang muncul di saputangan itu, “Hei.. kupu-kupunya telah kembali ke saputangan ini.”

Park Ha tertarik dengan keterkejutan Yi Gak. Yi Gak menjelaskan kalau sebelumnya kupu-kupu itu pernah menghilang namun sekarang telah kembali seperti semula.


Park Ha seperti memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan kata-kata Yi Gak, namun tak berkata apapun. Ia masuk kamar dan membuka kaleng tempat kartu posnya berada dan melihat sketsa dirinya bersama seekor kupu-kupu yang berwarna kuning. Ia kemudian menaruh kembali kartu pos itu.
Becky dan Mimi menyerbu masuk ke dalam kamarnya dan Mimi tak sengaja menabrak kaleng itu hingga isinya tumpah semua. Mereka sangat kesal campur marah karena Park Ha ingin meninggalkan rumah lotengnya.

Yi Gak telah memutuskan, dan ia sekarang bertitah, Potong rambut!

Ahhhh..!! Tidakkk!! Ketiganya terkejut dengan titah Paduka yang tak masuk akal ini. Bagaimana jika mereka nanti kembali ke Joseon dengan rambut pendek? Akan sangat memalukan.

Yi Gak menjelaskan alasan mereka harus potong rambut. Pertama, mereka harus beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan kedua mereka harus mempertahankan rumah loteng Park Ha. Dan jawabannya hanya satu, yaitu memotong rambut.

Tapi ketiga pengikutnya masih tak mau. Man Bo dan Chi San memohon memelas pada Yi Gak agar tak memerintahkan mereka untuk memotong rambutnya.  Lebih baik mereka mati saja.


Dan Young Sul yang menganggap serius pendapat temannya pun berkata, “Daripada menghadapi kehidupan memalukan dengan memotong rambut, kita sebaiknya mati di sini bersama-sama. Hamba akan pergi mengambil pedang.”

Man Bo dan Chi San kaget mendengar kata-kata Young Sul dan buru-buru menangkap kaki Young Sul agar tak membunuh mereka masal.


LOL.

Dari kejauhan Becky dan Mimi hanya bisa geleng-geleng melihat ke-lebay-an ketiga orang itu, mengira mereka bersedih dan tak mau melepas kepergian Park Ha.

Hehehe.. andai saja mereka tahu ke-lebay-an mereka lebih ‘serius’ daripada kepergian Park Ha, pasti mereka akan tambah geleng-geleng kepala lagi.


Di kamar, Mimi mengambil handphone-nya dan menyalakan. Betapa kagetnya ia melihat wajah Yi Gak di layar handphone. Menduga kalau ia salah ambil saat menjatuhkan kaleng biskuit milik Park Ha.

Ayah bertanya pada Tae Moo tentang kebenaran berita pria yang mirip Tae Young itu tidur dirumahnya. Tae Moo membenarkan, dan itu berarti bukan hal yang baik. Tapi Tae Moo yang yakin kalau pria itu bukan Tae Young memiliki rencana sendiri untuk mengungkap kebohongan pria itu.

Rencana itu adalah tes DNA. Ia bahkan sudah membawa dokter yang akan mengambil sampel ke rumah nenek. Nenek setuju dengan cara Tae Moo.

Yi Gak yang belum tahu maksud mereka, hanya menurut saja. Hanya saja saat dokter itu menyuruhnya membuka mulut dan ingin mengambil sampel dari lidahnya, ia panik.


Heheh.. Tentu saja, tak semua orang boleh memegang tubuh seorang Putra Mahkota, dan orang berbaju putih ini mau mengambil sesuatu dari lidahnya? No way, lah..

Yi Gak meronta-ronta mencoba melepaskan pegangan dokter itu. Tae Moo tersenyum melihat Yi Gak yang tak mau diperiksa, menyadari kalau dugaannya tentang Tae Young palsu adalah benar.

Saat Yi Gak mencoba melepaskan diri dengan sekuat tenaga, sebuah handphone jatuh. Tante yang kebetulan duduk di dekat Yi Gak, memungut handphone tersebut dan menjerit saat wajah Tae Young dan Nenek muncul di handphone tersebut. “Kakak, ada wajahmu dan wajah Tae Young di handphone ini!”

Tae Moo terbelalak mendengar jeritan Tante. Bukankah saat itu ia telah membuang handphone Tae Young.  Ia masih bisa mengingat saat-saat ia membuangnya. Lalu kenapa..?

Tangannya gemetar saat Nenek menyuruhnya untuk menelepon nomor Tae Young. Ia menekan nomor Tae Young.. dan handphone itu berbunyi!

Nenek lega dan mempercayai kalau Yi Gak benar-benar Tae Young. Lupakan tes DNA itu. Tante memeluk Tae Young gembira, “Kemana saja kau selama ini?”
Ayah mencoba mengangkat nama Tae Moo yang selama ini pasti selalu khawatir karena ialah yang terakhir ditugaskan untuk bertemu dengan Tae Young. Dan sekarang beban Tae Moo sudah terangkat.

Nenek mengangguk. Tante menyadari kalau dengan memeriksa handphone itu, mereka dapat melacak apa yang terjadi dengan Tae Young selama dua tahun terakhir ini. Sayang handphone itu dikunci oleh Tae Young. Dan dengan polos Yi Gak menggeleng saat ditanya password handphonenya.

Maka nenek menyuruh Tae Moo menemani Tae Young ke tempat service handphone untuk membuka password-nya. Walaupun was-was, Tae Moo mematuhi perintah nenek.


Untung saat menuju toko, handphone Tae Young terjatuh di kursi mobil. Diam-diam Tae Moo menyimpannya dan dengan lega menemani Tae Young ke toko handphone. Tak ada handphone, tak ada informasi yang bisa didapat.

Se Na mendapat telepon dari ibu yang sedang menuju rumah Se Na untuk membicarakan suatu hal. Se Na bertanya darimana ibu tahu alamatnya. Ibu tahu alamat rumah Se Na dari Park Ha yang pernah ke rumah Se Na.
Whoaa!! Se Na tak pernah mengundang ibunya ke rumah? *geleng-geleng sendiri*

Ibu kasihan pada Park Ha yang sedang mengalami kesulitan uang, dan ingin mencari pinjaman untuk sebagian (20 juta won) dan meminta Se Na meminjamkan sisanya. Se Na tak mau, ia tak mau membantu Park Ha karena sebenarnya mereka tak memliki hubungan keluarga. Dan ia juga melarang ibu untuk mencari pinjaman. Dengan berat hati ibu menyetujuinya.

Mendadak Tae Moo menelepon kalau ia hendak ke rumah Se Na membuat Se Na kelabakan. Buru-buru ia meminta ibu untuk pulang dengan alasan kalau ia harus segera pergi. Se Na pun mengantarkan ibu ke luar gedung apartemennya.


Karena terburu-buru, tas bawaan ibu ketinggalan di rumah.

Tae Moo masuk ke apartemen Se Na dan karena sendirian, ia mencoba merusak handphone Tae Young. Tiba-tiba Se Na datang, mengagetkan Tae Moo sehingga handphone yang ia pegang terjatuh ke dalam tas bawaan ibu yang ketinggalan.

Se Na datang dan bertanya tentang kabar handphone Tae Young yang hilang. Tae Moo mengiyakan tapi matanya berkali-kali melirik pada tas yang ada di kakinya. Se Na melihat lirikan Tae Moo dan menyadari kalau kebohongannya akan status ibunya akan terbongkar jika Tae Moo menanyakan tentang kepemilikan tas situ.

Seakan kompakan, Se Na mengatakan kalau ia sekarang lapar dan ingin mencari makan di luar dan Tae Moo pun menyetujui dengan senang hati. Dan mereka pun pergi keluar apartemen menjauhi tas tersebut.

Namun Se Na melihat ibunya memasuki apartemennya lagi.  Pada Tae Moo, ia beralasan harus kembali ke dalam apartemen, dan meminta Tae Moo untuk memesan makanan di restoran terlebih dahulu.


Ternyata ibu memang datang untuk mengambil tasnya yang ketinggalan dan segera pergi.

Tae Moo rupanya tak tenang meninggalkan Se Na dengan tas yang berisi handphone  di rumah. Maka ia menyusul Se Na. Di lift, ia berpapasan dengan ibu. Wajah ibu itu terasa familiar baginya, dan ia mencoba mengingat-ingat.

Di apartemen, Tae Moo beralasan kedatangannya untuk mencari kartu nama yang sepertinya ia di dalam sebuah tas. Se Na mengatakan kalau ia telah membuang tas itu keluar dan menawarkan untuk mengambilkannya lagi.

Tentu saja Tae Moo menolaknya karena handphone telah menjadi sampah = kebohongannya tak akan terbongkar. Dan iapun kembali tenang.

Barang-barang Se Na sudah dikemasi. Rumahnya sekarang kosong melompong. Mendadak ia teringat akan boneka lobaknya dan menyuruh truk sampah untuk berhenti. Ia kemudian mengambil boneka lobaknya  dan tersenyum.

Aww.. tak tega untuk membuang kenangan manis, ya..

Di rumah Tae Young, Yi Gak membawa dan mengenalkan ketiga pengikut sebagai temannya.


Saat makan malam, Tante tak kuasa untuk mengomentari rambut panjang teman Tae Young yang ia anggap sebagai sesama seniman. Sejak kapan mereka memelihara rambut panjang itu?

“Sejak kami lahir ke dunia ini,”
“Eww.. menjijikkan,” kata Tante bergidik.

Mereka sedikit terkesima melihat sajian steak dan sayuran. Tante menyuruh mereka untuk menggunakan pisau dan garpu.


Mendengar kata pisau, Chi San langsung menyarankan agar Young Sul yang memotongkan steak mereka karena Young Sul sangat jago.


Kesempatan memegang benda tajam lagi? Tentu saja Young Sul sangat gembira. Setelah diberi ijin, ia langsung menunjukkan kebolehan memotongkan steak Chi San dan Man Bo.


Uppss.. Nenek dan Tante terbengong-bengong dengan gaya antik teman cucunya ini. Yi Gak yang menyadari kalau nenek dan tante ketakutan, memberi isyarat pada Young Sul agar menghentikan aksinya. Hanya saja Young Sul yang masih fokus dalam memotong tak memperhatikan isyarat Yi Gak.

Yi Gak membawa pengikutnya masuk ke dalam kamar dan mereka terpana melihat foto pangerannya tergantung di dinding kamar. Yi Gak menjelaskan kalau setelah ini, mereka tak boleh memanggilnya Yang Mulia, melainkan Tae Young.

Sambil  menunjuk ke foto Tae Young, Yi Gak mengatakan kalau mulai sekarang ia adalah Tae Young. Ia juga mengatakan kalau dalam waktu dekat mereka akan bertemu dengan wanita yang mirip dengan Putri Mahkota.

Man Bo bertanya apakah berarti wanita itu adalah reinkarnasi putri mahkota dan Tae Young adalah reinkarnasi dari Yi Gak? Yi Gak membenarkan dan mengatakan kalau kemungkinan Tae Young telah meninggal di suatu tempat, karena jika tidak ia tak mungkin bisa masuk kemari dari jaman Joseon.


Man Bo memuji cara berpikir Yi Gak yang menyimpulkan kalau dua roh yang sama tak bisa hidup di waktu dan ruang yang sama.

Yi Gak menambahkan, kalau ia menduga hilangnya Tae Young mungkin berhubungan dengan meninggalnya Putri Mahkota, dan ia akan mencari tahu kebenarannya. Karena saat mereka menemukan kebenarannya, mereka akan dapat kembali ke Joseon.

Park Ha menghabiskan malam terakhirnya di rumah loteng sendirian. Ia merenung dan memandangi sepasang boneka kayu yang ia temukan di kotak kaleng.


Tak sengaja ia menjatuhkan boneka itu sehingga jatuh dan tersangkut di pipa bawah tembok rumahnya.  Ia mencoba mengambil boneka itu tapi tangannya tak sampai. Sedikit berjinjit, tetap tak sampai. Ia akhirnya berjinjit dengan perutnya bertumpu pada tembok untuk mengambilnya. Sedikiiitt… lagi.

Yang kemudian dilihat oleh Yi Gak yang datang mengunjungi Park Ha. Ia terkejut dan mengira Park Ha akan bunuh diri.
“Tidak! Kau tak boleh mati! Kau harus hidup!”
Park Ha kaget karena Yi Gak memeluknya dari belakang dan setengah mencekik lehernya. Ia hampir tak bisa bernafas dan meminta Yi Gak melepaskannya. Yi Gak mau asal Park Ha berjanji untuk tak melompat.

LOL. Sebentar lagi Park Ha benar-benar akan mati jika Yi Gak tak segera melepaskan pelukannya.

Park Ha mengangguk dan Yi Gak pun melepaskannya. Setelah Yi Gak ‘menyelamatkan hidup’ Park Ha, Park Ha malah menatap Yi Gak kesal. Siapa bilang ia ingin mati? Ia hanya ingin mengambil boneka miliknya itu.

Yi Gak hanya bisa Oooo… dan menawarkan untuk  mengambilkannya. Karena Yi Gak jauh lebih tinggi, maka usaha mengambil boneka itu jauh lebih mudah dan tak kelihatan seperti orang bunuh diri.

Kedatangan Yi Gak  adalah untuk ganti mentraktirnya. Ia mengeluarkan sebotol whipped cream dan soju.

Di tengah rumah yang sudah kosong, mereka minum soju dan whipped cream. Tapi kali ini Park Ha ingin minum soju tanpa rasa manis. Ia berkata kalau hari ini ia akan merasakan kepahitan saja. Yi Gak bertanya, apa maksud Park Ha. Tapi Park Ha tak menjelaskan lebih lanjut.


Yi Gak menyadari kalau Park Ha berbicara dengan bahasa non formal padanya. Tapi menurut Park Ha, itu sudah sewajarnya karena sebelumnya ia berbicara pada Yi Gak dengan menganggap ia adalah seorang kakek berumur 300 tahun. Dan sekarang setelah jati diri Yi Gak ketahuan, yang berarti mereka seumuran.  Ia bertanya berapa umur Yi Gak sekarang?

Yi Gak menjawab tak tahu. Park Ha pun berkata kalau ia sebenarnya juga tak tahu berapa umurnya sekarang. Sejak kecil, ia telah kehilangan ingatan karena sebuah kecelakaan berat. Setelah itu, ia hidup tanpa ingatan juga tanpa orang tua.

Park Ha menunjukkan layar handphonenya dan berkata kalau ia sedang merasa sedih, ia selalu berimajinasi kalau ia sedang berada di pantai. Setelah itu rasa sedihnya akan hilang. Ia juga menunjukkan boneka yang tadi terjatuh. Boneka itu dibuat dari biji pohon palem yang menggambarkan sepasang pria dan wanita.

Jika ia mengikatkan tangan mereka ke belakang, maka itu akan membantunya untuk cepat kaya. Jika ia mengikatkan kaki mereka, ia akan menemukan cinta sejati. Jika ia mengikatkan jari-jari mereka, akan membawa kesehatan bagi diri sendiri.

Yi Gak, yang tahu kalau Park Ha mengikat boneka itu untuk mendapat keberuntungan, bertanya, “Lalu, kenapa kau masih seperti ini?”
Park Ha kesal dan menyuruh Yi Gak untuk mencobanya sendiri nanti.

Di rumah yang kosong tanpa pemanas, membuat Park Ha merasa kedinginan. Melihat itu, Yi Gak menarik tirai dan menyelimuti Park Ha. Ia bertanya apakah Park Ha jadi kembali ke Amerika besok pagi? Park Ha membenarkan, karena ia telah mengemasi barang dan membeli tiketnya.
“Jika kau bisa tinggal di tempat ini, apakah kau tetap akan pergi?” tanya Yi Gak tiba-tiba.

“Semuanya sudah berlalu,” jawab Park Ha.

Sambil menatap Park Ha, Yi Gak meminta, “Tinggallah di sini.”

Hari ini adalah hari peringatan kematian ibu Man Bo. Chi San dan Young Sul menemani Man Bo untuk mengadakan upacara peringatan. Memakai baju istana, mereka mulai mempersiapkan semuanya.


Chi San mencari buah-buah untuk sesembahan, dan menemukan sebuah botol saus tomat. Ia mencecap botol itu dan senang saat merasa saus tomat itu. Saus yang ada di omurice!

Ia langsung mencecap botol itu dengan rakus. Nenek yang terbangun di tengah malam dan ingin minum, curiga akan pintu lemari es yang terbuka. Ia bertanya, tapi tak ada jawaban. Maka ia mendekati lemari es itu.

Mendadak sebelah pintu tertutup, menyisakan lampu dari pintu lainnya. Dan ada hantu yang mulutnya berlumuran darah.

Nenek tak sempat berteriak, karena ia terlanjur pingsan.

LOL.

Young Sul mencoba menemukan alkohol, namun tak ketemu. Ia akhirnya menemui Tante dan bertanya dimanakah mereka menyimpan alkohol di rumah ini? Maukah Tante ikut dengannya?

Tante terkejut setengah mati saat melihat seorang pendekar lengkap dengan pedang dan menyuruhnya ikut dengan pendekar itu. Terbata-bata ia menjawab, “Tidak bisa! Aku belum siap untuk pergi. Aku tak mau pergi..!!”
Dan tante pun memukuli Young Sul yang kelabakan.
LOL.

Akhirnya semua sesajian telah siap. Man Bo mulai memimpin upacara peringatan. Diterangi cahaya bulan, mereka berlutut berdoa untuk arwah ibu Man Bo.


Saat mereka berdiri, ada seorang wanita bewajah putih pucat berdiri di hadapan mereka. Man Bo berteriak memanggil ibunya, tapi wanita itu hanya diam.

Mereka pun pingsan ketakutan. Dan wanita itu buru-buru menghampiri mereka, mengkhawatirkan keselamatan mereka, “Tuan muda! Tuan muda!”
Double LOL. Ternyata dia adalah pembantu rumah tangga yang sedang memakai masker kecantikan.

Di rumah yang telah kosong, Yi Gak menemani Park Ha menghabiskan malam terakhirnya di dalam rumah loteng. Duduk tertidur, dan terbangun saat kepala mereka terbentur satu sama lain.

Keesokan paginya, Park Ha telah tidur dengan kepalanya terbaring di tempat Yi Gak duduk. Tapi Yi Gak telah pergi.


Yi Gak mengajak ketiga pengikutnya pergi ke kantor. Untuk pertama kalinya mereka akan naik mobil sedan. Seperti biasa Yi Gak duduk di depan, dan menyuruh ketiga pengikutnya duduk di belakang.


Mereka mematuhi perintah Yi Gak.


Bwahaha..

Yi Gak mencoba membuktikan kata-katanya. Ia menunjuk pada Se Na dan mengatakan kalau itu adalah reinkarnasi putri mahkota. Ia menyuruh untuk membawa Se Na yang telah masuk gedung ke hadapannya.

Chi San mencoba, tapi ia langsung diusir oleh satpam. Pria berambut panjang dilarang masuk. Rambut panjang hanya untuk wanita.
Man Bo pun mencobanya. Dengan memasang wibawa yang tinggi, ia meminta orang yang bertanggungjawab di gedung ini, karena ada yang ingin dibicarakan. Sia-sia, karena rambutnya panjangnya menghalanginya masuk.

Young Sul menggunakan cara kekerasan. Dengan sekali kibas, satpam-satpam itu langsung terjatuh dan ia berhasil masuk ke dalam gedung. Yay!

Ia masuk mengikuti pintu putar, dan kaget karena ia keluar lagi. Ia segera memukul satpam-satpam itu dan masuk lagi ke pintu putar. Dan keluar lagi. Ia memukul lagi, dan masuk lagi. Dan keluar lagi dengan putus asa.

LOL.

Di taman, Yi Gak menunjukkan kegagalan mereka memasuki pintu gedung karena rambut mereka.  Karena mereka hidup di jaman ini, mereka harus mengikuti aturan dan pakaian mereka.

Ketiga abdinya masih mencoba menawar, tapi  Yi Gak mencoba menenangkan, “Rambut panjang kita akan kembali lagi.”

Di dalam rumah lotengnya, Park Ha bimbang apakah ia harus pergi atau tidak. Ia memberdirikan boneka lobak, jika boneka itu jatuh kedepan, ia tak jadi pergi. Jika ke belakang, ia akan pergi.
Dua kali mencoba, dua kali pula boneka itu jatuh ke depan. Park Ha mendesah kecewa. Ia mencoba sekali lagi, dan kali ini jatuh ke belakang. Ia tersenyum walau masih bimbang.

Tiba-tiba terdengar suara Yi Gak dan kawan-kawan. Ia bergegas keluar rumah dengan gembira. Namun kegembiraannya surut saat kedatangan mereka untuk membuat foto kenangan.

Foto kenangan untuk mengingat rambut panjang mereka yang berharga. Sementara Park Ha mengira foto kenangan itu untuk melepas kepergiannya. Aww..

Tapi walaupun begitu Park Ha juga sudah senang. Ia menyuruh keempatnya untuk duduk rapi. Ia menyuruh Young Sul untuk tersenyum (.. dan Yi Gak menyunggingkan senyumnya). Ia menyuruh Chi San untuk menurunkan dagunya (.. Yi Gak pun menurunkan dagunya). Ia menyuruh Man Bo untuk tak melipat tangannya (.. dan Yi Gak mengikuti perintah Park Ha).

Aww.. semua perintah Park Ha selalu dituruti oleh Yi Gak. Mungkin ia mengira kejadian memilih baju akan terulang lagi. Ia tak dipedulikan, sehingga kali ini ia menuruti semua perintah Park Ha walau tak ditujukan padanya.

Namun kemudian Park Ha membuatnya kaget, karena ia menyuruh Yi Gak untuk geser sedikit, menyisakan tempat untuknya. Kali ini Yi Gak menuruti perintah Park Ha dengan senang hati.

Dengan sedikit berkaca-kaca, Park Ha menatap keempatnya dari balik kamera. Namun saat di depan kamera, wajahnya tersenyum gembira. Cheerss..


Dan tiba saatnya mereka memotong rambut. Chi San sudah mengkeret dan ingin melarikan diri tapi ditahan oleh Young Sul. Man Bo mencoba menyadarkan Yi Gak, kalau Yi Gak ingin mengurungkan niatnya, sekarang belum terlambat.

Tapi Yi Gak tetap pada pendiriannya, malah memerintahkan capster untuk mulai memotong rambutnya. Dengan mata berkaca-kaca ia merasakan helai demi helai rambut terpisah darinya. Ketiga abdinya terperangah melihat keteguhan pangerannya dan dengan berat hati mengikuti tindakan Yi Gak.

Setelah potong rambut, Yi Gak buru-buru pulang ke rumah loteng. Tapi Park Ha telah pergi.

Park Ha sudah naik bis tak memperhatikan kalau Yi Gak berlari ke arahnya. Sia-sia Yi Gak meneriakkan namanya tapi Park Ha tak mendengarnya dan bisnya pun melaju pergi.
Yi Gak berlari sekuat tenaga mengejar bis Park Ha, namun sia-sia, sehingga Yi Gak menghentikan larinya. Tak disangka ada truk yang melaju dari arah belakang.

Hampir saja Yi Gak tertabrak. Supir truk langsung turun dan bersyukur karena Yi Gak tak terluka. Ia menawarkan untuk mengantarkan Yi Gak ke rumah sakit.


Tapi Yi Gak tak memperhatikan kata-kata supir itu karena ia lebih terkejut melihat barang yang dibawa truk itu. Gambar pantai yang sangat ingin didatangi Park Ha.


Ia langsung ingin membeli gambar itu. Mulanya supir itu menolak, tapi ia langsung mau ketika Yi Gak mengeluarkan kartu hitam VIP Card (semacam kartu kredit platinum) dan bersedia membeli dengan harga dua kali lipat.


Yi Gak akhirnya menumpang truk untuk mengejar bis Park Ha. Park Ha mulanya tak memperhatikan Yi Gak. Ia malah terkesima melihat baliho besar bergambar pantai yang melewati bisnya. Gambar itu sangat persis dengan pantai idamannya.


Namun betapa kagetnya ia malah melihat Yi Gak berteriak-teriak memanggilnya dari dalam truk. Beberapa penumpang menempelkan muka di kaca bis, ingin tahu siapa pria di truk dan apa yang ia cari.

Bis itu akhirnya berhenti dan Yi Gak naik dan menghampiri Park Ha yang bersembunyi di balik boneka lobaknya karena malu. Yi Gak bertanya, “Kau mau pergi kemana tanpa ijin dariku?”

Kyaaa… tanpa ijin.. memang Park Ha harus ijin dulu ya kalau mau pergi?

Park Ha mengingatkan Yi Gak tentang pembuatan foto kenangan itu. Bukankah itu berarti Yi Gak tak keberatan kalau ia pergi? Dengan kesal Yi Gak berkata, “Foto itu sebagai kenang-kenangan untuk rambut kami!”
Bwahaha…
Yi Gak memberitahukan kalau ia telah menemukan pantai yang selama ini dicari oleh Park Ha, jadi ia tak mengijinkan Park Ha pergi lagi. Ia menarik tangan Park Ha diiringi oleh tepuk tangan para penumpang bis.
Aww.. mungkin mereka mengira ada sepasang kekasih yang sedang bertengkar dan baikan lagi, kali ya..
Mereka pun turun dari bis, masih berpegangan tangan. Saat tersadar, mereka pun saling melepaskan tangan. Tapi Yi Gak nyengir melihat Park Ha yang terkejut, baru menyadari akan potongan rambutnya.
Mereka akhirnya duduk di atas truk, mengagumi keindahan pantai yang ada di hadapan mereka. Persis seperti impian Park Ha.
Tiba-tiba truk bergerak. Park Ha yang tak siap terhuyung-huyung jatuh ke depan, dan reflek Yi Gak langsung menangkapnya.
Mereka berpelukan dan saling memandang. Tak dapat disangkal, ada percikan yang timbul di antara mereka. awww~chunie ku ><


Tambahan :
Apa yang dilakukan oleh Yi Gak setelah membeli baliho bergambar pantai?

Berjemur di depannya. Bwahahaha…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar