Kamis, 17 Mei 2012

Sinopsis Rooftop Prince Episode 16

Sinopsis Rooftop Prince Episode 16
Menulis sinopsis kali ini cukup membingungkan. Bukan karena alur ceritanya, tapi karena penamaan Yi Gak/Tae Young. Dua kali Yi Gak berpura-pura menjadi Tae Young untuk mengecoh Tae Moo. 
Jadi ada berapa karakter yang diperankan Yoo Chun?
Aslinya ada dua, Yi Gak dan Tae Young. Tapi dengan komanya Tae Young, ada beberapa lapis Tae Young yang harus diperankan Yoo Chun.
Ada Tae Young asli, ada Yi Gak yang berpura-pura menjadi Tae Young sebelum ia diketemukan, ada juga Yi Gak yang berpura-pura menjadi Tae Young setelah ia diketemukan.
Jadi.. CMIIW ya, kalau ada salah penamaan atau salah sebut. :)
Note : Rooftop Prince Episode 17 akan tayang di Korea pada Rabu malam, 16 Mei 2012. Spoiler atau sinopsis episode 17 akan keluar setelahnya. But I can’t promise you the exact time of the synopsis/spoiler. Peace, yo.. :)

Sinopsis Rooftop Prince Episode 16

Tae Moo tersentak kaget mendengar suara lirih yang menyapanya, “Tae Moo Hyung..” Mungkin ia berharap kalau telinganya salah mendengar dan ia berbalik. Tapi yang dihadapi begitu menakutkannya. Sepupunya duduk dengan wajah pucat namun jelas mengenalinya.
Di kantor, Nenek pingsan tak sanggup menghadapi kejutan yang tak ia harapkan. Taek Soo buru-buru menangkapnya sebelum nenek terjatuh.
Tae Moo panik saat sepupunya bertanya dimana ia sekarang. Ia langsung bertanya, “Kau telah sadar? Apakah kau ingat apa yang telah terjadi? Apakah kau mengingatku?”
Tae Young tak menjawab, hanya menunduk dan mengeluh “Kepalaku sakit sekali..” membuat Tae Moo bergegas pergi untuk memanggilkan dokter untuknya. Tae Moo tak menyadari kalau sepupunya secara sambil lalu memasukkan tangan kirinya ke bawah selimut.
Untuk menyembunyikan satu-satunya ciri kalau ia bukanlah Tae Young asli. Ia adalah Yi Gak.
Sementara itu Tae Young asli diungsikan oleh ketiga Joseoners masuk ambulans. Untung mereka cepat memasukkannya, karena beberapa saat kemudian Tae Moo keluar rumah sakit dengan wajah pucat.
Mungkin ia bertanya-tanya, mengapa rencananya kali ini gagal lagi? Hmmm… kalo menurut saya sih, Tae Moo seharusnya tobat aja deh.. Karena kayanya dia selalu gagal kalau mau berbuat jahat.
Sementara itu Park Ha masih tetap mematuhi perintah Yi Gak yang menyuruhnya untuk berdiri tegak menunggunya. Sampai malam, Park Ha masih berdiri di taman dengan memeluk jas dan sapu tangan kupu-kupu milik Yi Gak. Tapi Yi Gak tak kunjung datang, dan Park Ha merasa khawatir kalau Yi Gak sudah kembali ke jamannya.
Ia buru-buru pulang ke rumah dan sedikit lega melihat lampu rumahnya sudah menyala. Ia memanggil-manggil “Yang Mulia! Yang Mulia” untuk mencari Yi Gak tapi tak ada sahutan. Begitu pula saat ia memanggil ketiga Joseoners yang lain, hanya sepi yang ia dapat.
Park Ha terduduk lemas di tangga, “Mereka benar-benar kembali ke Joseon? Tanpa memberitahukanku?” isak Park Ha putus asa.
Tiba waktunya bagi Yi Gak sebagai Tae Young untuk keluar dari rumah sakit. Taek Soo menyuruh Yi Gak untuk tinggal di rumah nenek dan ketiga Joseoners untuk bersembunyi di apartemennya. Jangan memberitahukan pada siapapun tentang rahasia ini pada siapapun. Karena jika kedok ini terungkap, tak hanya rencana mereka yang hancur, nasib perusahaan dan nasib mereka juga akan hancur.
Taek Soo juga menyuruh Yi Gak untuk mengganti aksen bicaranya yang Yi Gak banget (ala sageuk) dengan aksen bicara seperti Tae Young asli, yaitu aksen jaman sekarang. Chi San menenangkan Taek Soo karena Yi Gak sudah berlatih keras selama ini. Yi Gak pun mencoba mempraktekkannya. Tapi menurut Taek Soo, Yi Gak masih harus berlatih lagi.
Dan untuk semakin memperjelas perbedaan Tae Young sekarang dan Tae Young sebelumnya, Taek Soo memberikan kacamata yang sering dipakai Tae Yong yang asli untuk dipakai Yi Gak.
Mereka mengerti seluruh instruksi Taek Soo. Hanya satu yang memberatkan mereka. Apakah mereka benar-benar tak boleh memberitahukan pada siapapun? Mereka memikirkan Park Ha yang pasti sedang khawatir di rumah. Tapi Taek Soo tetap kukuh pada pendiriannya. Siapapun tak boleh mengetahuinya.
Taek Soo mengajak Yi Gak untuk pulang menemui nenek Tae Young terlebih dahulu. Tapi Yi Gak ingin menemui Tae Young terlebih dahulu. Dan Taek Soo pun mengantarkannya ke rumah sakit tempat Tae Young dirawat.
Hanya berdua bersama kembarannya, Yi Gak menatap Tae Young dengan pilu.
“Yong Tae Young, kau adalah reinkarnasiku. Tapi mengapa kau hanya berbaring tidur di sini? Apakah kau memanggilku karena kau merasa tak adil jika kau hanya bisa terbaring? Aku merasa seperti aku sedang melihat kematianku sendiri. Hatiku benar-benar terasa sakit. Aku akan mencari keadilan untukmu. Sampai kau kembali.. Aku akan melindungi posisimu. Kumpulkan tenagamu dan bangunlah.”
Berbekal keyakinan itu, Yi Gak mengambil kacamata milik Tae Young yang diberikan oleh Taek Soo dan memakainya.
Di lorong rumah sakit, Taek Soo bertanya pada Yi Gak apa yang harus mereka lakukan pada Tae Moo? Ia mengusulkan agar Tae Moo ditendang saja dari perusahaan. Dengan apa yang telah Tae Moo lakukan di rapat pemegang saham, hal itu akan sangat mudah untuk dilakukan. Tapi Yi Gak tak setuju. Ia akan tetap membiarkan Tae Moo tetap bekerja di Home & Shopping, agar ia dapat mengumpulkan bukti kalau Tae Moo memang berniat membunuh Tae Young.
Taek Soo masih belum tahu apa rencana Yi Gak sebenarnya. Maka Yi Gak beranalogi, “Jika kau membuat asap di depan sarang serigala, maka serigala itu akan keluar dengan sendirinya.
Tae Moo menunggu kedatangan Tae Young dengan cemas namun juga waspada. Namun Tae Young menyapa sepupunya dengan bersahabat, membuat Tae Moo sedikit lega. 
Kelegaannya bertambah saat ia minum kopi di café bersama Tae Young. Sepupunya ini menyukai kopi dan tak menyukai pekerjaan kantoran. Persis seperti Tae Young dahulu. Hanya saja saat ditanya tentang kejadian di New York 2 tahun yang lalu, Tae Young mengaku frustasi karena tak ingat persis bagaimana kejadiannya.
Tae Moo mencoba bertanya lagi, seberapa banyak yang diingat Tae Young?
“Apakah yang kau maksud tentang pertemuan kita di Amerika?” Yi Gak mencoba menjebaknya.
Tae Moo kaget dengan pertanyaan sepupunya, “Kau mengingatnya?”
Yi Gak sekarang yang berpura-pura kaget akan pertanyaan Tae Moo, “Jadi kita pernah bertemu di Amerika? Katamu kita tak pernah bertemu. Maksudku tadi adalah pertemuan kita yang tak jadi di Amerika.”
Tae Moo hanya bisa ber-oohhh.. menyadari kalau lidahnya hampir saja terpeleset dan mengakui kesalahannya. Ia tersenyum gugup saat menegaskan kalau mereka tak pernah bertemu saat di Amerika dulu. Sepupunya hanya tersenyum mengatakan kalau ia senang mereka bertemu kembali dan mengajak Tae Moo untuk main squash lagi.
Sementara itu Park Ha menemui Taek Soo dan menceritakan kalau teman serumahnya telah menghilang tanpa pesan. Ia tak dapat menghubungi handphone mereka, dan ternyata mereka juga tak masuk kerja. Apa mungkin mereka berempat mengalami kecelakaan?
Taek Soo membantah kalau mereka pernah mengalami kecelakaan. Jawaban itu malah membuat Park Ha semakin bertanya, “Kalau anda tahu mereka tak mengalami kecelakaan, berarti anda tahu kemana mereka?”
“Yang kutahu adalah, Tae Young yang asli telah muncul,” jawab Taek Soo.”Dan setelah itu mereka berempat seakan menghilang.
Park Ha kaget karena kekhawatirannya terbukti, “Jadi mereka benar-benar telah kembali ke Joseon.”
Taek Soo tak mendengar gumaman Park Ha, tapi ia bersimpati pada Park Ha yang terlihat sedih.
Walaupun Park Ha berjalan keluar gedung, tapi ia masih memikirkan kata-kata Taek Soo hingga tak menyadari kalau ia melewati Tae Moo yang menatapnya ingin tahu. Tae Moo ingin tahu bagaimana reaksi sepupunya jika melihat Park Ha.
Akhirnya Tae Young datang menyusul Tae Moo. Park Ha yang menyadari sosok Yi Gak yang berjalan menuju ke arahnya, hanya dapat menatapnya. Berharap ia yakin kalau sosok didepannya adalah Yi Gak dan bukan Tae Young.
Sinopsis Rooftop Prince episode 16
Ia menatap pria itu hingga pria itu menoleh padanya. Pria itu menatap ramah pada Park Ha tapi tak ada kata yang terucap. Hanya senyum basa-basi yang diberikan pria itu pada Park Ha.
Harapan Park Ha untuk dapat bertemu dengan Yi Gak lagi langsung musnah. Ia berjalan pulang dengan gontai. Dan Tae Moo tersenyum lega, semakin yakin kalau pria ini adalah sepupunya yang asli.
Park Ha tak menyadari kalau beberapa saat setelahnya, pria itu lari kembali mencarinya. Dari lantai dua Yi Gak hanya dapat memandangi Park Ha dengan pilu, ingin memanggilnya tapi tak dapat ia lakukan. Sekarang ia adalah Tae Young yang asli, bukan Tae Young palsu yang mencintai Park Ha.
Kelegaan Tae Moo hanya sesaat, karena ia mendapat fax gelap yang bertuliskan “Pembunuh, pembohong”. Ia teringat kalau kata-kata itu pernah diucapkan Tae Young palsu kepadanya.
Ia gemetar melihat kertas fax itu. Buru-buru ia menyembunyikan kertas itu saat ia mendengar suara sepupunya. Ternyata Tae Young hanya pamit untuk pergi ke toko buku. Tae Moo sedikit lega karena Tae Young tak sempat melihat fax itu. Tapi ia geram, karena tahu di suatu tempat yang tak ia ketahui, Tae Young palsu masih ada untuk mengancam dan mungkin memerasnya.
Yi Gak kembali ke rumah loteng untuk mengambil handphone Tae Young yang ia simpan di bawah tempat tidurnya. Hampir saja ia bertemu dengan Tae Moo yang mencoba mencari jejaknya. Ia buru-buru menyelinap pergi saat Tae Moo masuk ke dalam kamar Park Ha.
Hampir saja Yi Gak ketahuan oleh Park Ha yang baru saja keluar dari tempat Becky. Tapi tidak. Park Ha malah bertemu dengan Tae Moo yang masuk tanpa ijin ke rumahnya dan bertanya apa yang sedang Tae Moo lakukan?
Tae Moo beralasan kalau ia sedang mencari keempat penipu yang tinggal di rumah Park Ha dan mengacak-acak rumahnya. Ia ingin menangkap mereka dan meminta pengertian Park Ha karena mereka berdua adalah sama-sama korban 4 orang penipu itu. Park Ha menjawab ketus kalau ia tak merasa ditipu dan meminta Tae Moo untuk pergi sekarang juga.
Yi Gak pergi ke apartemen Taek Soo untuk memberikan handphone Tae Young pada Man Bo dan meminta mereka untuk melanjutkan rencana mereka. Ketiga joseoners itu menyambut junjungannya dengan suka cita, walaupun tetap was-was kalau Yi Gak diikuti oleh seseorang.
Bersamaan dengan itu, ada bunyi bel membuat Yi Gak dan yang lainnya bersikap waspada.
Hanya Young Sul yang berseru gembira, “Pizzanya sudah datang.”
LOL.
Ketiganya makan pizza dengan lahap. Yi Gak yang tergiur dengan pizza itu juga mengulurkan tangan untuk mengambil satu dari dua pizza yang tersisa. Tapi Chi San menghentikannya dengan penuh rasa hormat karena dua potong pizza itu untuk Taek Soo.
Yi Gak mengernyit melihat kesetiaan pengikutnya hanya sampai segitu saja. Tapi ia jaim dan mengatakan kalau ia tak akan memakannya. Man Bo mengeluh kalau mereka tak memiliki baju lain karena mereka terburu-buru menyembunyikan diri. Mereka tak dapat meminjam baju Taek Soo karena badan Taek Soo lebih kecil dan semuanya berdasi kupu-kupu.

Yi Gak berbaik hati untuk membelikan mereka baju, membuat para pengikutnya senang. Tangan Yi Gak pun menyelinap untuk mencoba mengambil pizza lagi. 
Tapi kali ini ada tiga tangan yang menghentikannya. Whoaa.. setianya mereka pada Taek Soo. Yi Gak pun menarik tangannya, tak sengaja terkena tangan Young Sul yang sedang memegang Pizza.
Young Sul menggeram marah, “Ahh!! benar-benar nih..”namun kemudian ia tersadar pada siapa ia berbicara. Ia pun menunduk diam tapi kekesalannya masih terpancar dari raut mukanya.
LOL.
Dan Yi Gak mengajak ke distro dimana kembarannya yang lain, Micky Yoochun, menjadi bintang iklan kaos tersebut, NII. Mereka memutuskan memakai kaos cute yang seragam. Yi Gak juga memberikan sepatu yang colorful untuk mereka.
Tae Moo makan malam dengan Se Na yang khawatir karena CEO Jang ingin menemuinya. Tae Moo menenangkan Se Na dan memintanya untuk tetap berhubungan baik dengan CEO Jang. Caranya : Se Na mengkambinghitamkan dirinya yang menyuruh Se Na untuk berpura-pura menjadi putrinya yang hilang.
Se Na mengembalikan cincin biru pemberian CEO Jang berserta permintaan maafnya. Ia tahu kalau seharusnya ia tak melakukan permintaan Tae Moo untuk berpura-pura menjadi putri CEO Jang.
CEO Jang sepertinya tak mempermasalahkan hal itu. Ia hanya ingin mengetahui dimana In Joo berada. Tapi Se Na mengaku tak tahu. Tentu saja CEO Jang kecewa mendengarnya. Ia mencoba bertanya tentang cerita saat bayi, tapi Se Na mengaku kalau ia hanya mendengar cerita itu dari radio.
Park Ha kembali ke kantor Home & Shopping. Ia sepertinya menunggu Tae Young dan ingin mematainya. Saat Tae Young berjalan melewatinya, ia buru buru menyembunyikan diri.
Dari kejauhan ia melihat Tae Young yang berdiri seperti Yi Gak. Berdiri dengan menyembunyikan tangan di belakang. Tapi semua orang juga sering melakukannya, kan?
Sambil menunggu lift terbuka, Tae Young mengambil handphone dari saku celananya. Tae Young tak sadar kalau ada benda yang terjatuh dari sakunya.
Dan benda itu menggelinding tepat ke dekat kaki Park Ha.
Park Ha memungut benda itu. Benda itu sama persis dengan benda yang melingkar di jari manisnya. Benda yang selalu dipakai oleh Yi Gak sesaat sebelum ia menghilang. 
Ia menatap Tae Young dengan geram dan bergumam, “Kau benar-benar ingin mati, ya.”
Keluar dari lift, Yi Gak berjalan melewati pintu darurat. Tiba-tiba ada tangan yang menariknya.
Betapa terkejutnya ia, tapi sesaat kemudian Yi Gak menghela nafas lega, karena di depannya berdiri Park Ha yang sudah hampir menangis tak bisa berkata apapun kecuali, "Kau bodoh!"
Yi Gak memeluk Park Ha, lega karena tak perlu menyembunyikan identitasnya lagi di depan Park Ha. Ia berkata kalau ia merindukan Park Ha.
Sambil terisak, Park Ha mengungkapkan kekesalan namun juga kelegaannya: apakah Yi Gak pikir ia tak dapat mengenali Yi Gak?
Mendengar omelan Park Ha, Yi Gak tersenyum dan berkata, "Bertemu denganmu seperti ini membuat hatiku terasa lega."
Mereka duduk-duduk di tangga. Tiba saat mereka untuk berpisah. Park Ha bertanya apakah ia benar-benar tak dapat menemui Yi Gak di sini? Yi Gak mengangguk. Park Ha mengerti, dan beranjak pergi.
Sinopsis Rooftop Prince Episode 16
Tapi Yi Gak menariknya dan mengecup bibirnya, “Terima kasih telah mempercayaiku.”
Park Ha tersipu-sipu dan hanya dapat berkata, “Bodoh.”
Sebelum pergi, Park Ha mengembalikan cincin Yi Gak dan mengancamnya, “Awas kalau kau menjatuhkan cincin ini lagi.”
Yi Gak masuk ke ruangan Tae Moo dan mulai mencari apapun yang bisa ia jadikan bukti. Tapi ia terkejut karena ia malah menemukan foto yang sama dengan foto keluarga Park Ha yang terobek. Tapi kali ini foto ini sepertinya lengkap.
Ia hendak menggeser foto untuk melihat wajah wanita yang menjadi ibu Park Ha, tapi Tae Moo keburu masuk. Buru-buru Yi Gak memasukkan foto itu ke dalam laci dan menyapa Tae Moo. Ia menyampaikan pesan nenek yang meminta mereka untuk makan malam bersama di rumah nenek.
Hampir saja Tae Moo curiga kalau perhatiannya tak teralihkan. Ada kiriman paket untuknya. Ia membuka paket itu di depan sepupunya, tapi langsung menutupnya kembali.
Karena paket itu berisi fotonya bersama sepupunya saat mereka berada di New York.
Ini jelas kerjaan Yi Gak dan ia sekarang melihat Tae Moo yang panik walaupun ia berpura-pura tak tahu apa-apa.
Kepanikan Tae Moo semakin menjadi-jadi saat mereka ke rumah nenek untuk makan malam. Nenek ingin melupakan kejadian yang terjadi di masa lampau dan memulai lembaran baru. Saat itu Tante datang membawa kiriman paket yang ditujukan untuk nenek.
Ia mencoba merebutnya, mencegah agar paket itu tak terbuka. Hal itu membuat nenek dan tante bertanya-tanya akan tingkah Tae Moo yang aneh. Tapi akhirnya kiriman paket itu terbuka juga.
Yi Gak mengawasi Tae Moo yang ketakutan kalau kedoknya terbongkar, apalagi saat ia mengetahui kalau isinya juga pigura foto. Tapi ternyata foto yang didalamnya hanyalah foto anjing yang lucu. Tae Moo hanya dapat menghela nafas lega.
Tapi kelegaannya belum tuntas karena ia mendapat telepon dari nomor lokal. Dari telepon umum, Yi Gak menelepon Tae Moo yang langsung mengenalinya karena Yi Gak memakai aksen sageuk-nya dan bertanya, “Apakah kau telah menerima kirimanku?”
“Kau ada dimana?” tanya Tae Moo.
“Kenapa?” tanya Yi Gak balik. “Kau yang mengusirku keluar.”
“Apa yang kau inginkan?”
“Kau pikir apa yang aku inginkan sekarang?” Yi Gak bertanya dengan nada dingin.”Pikirkan baik-baik.”
Dan pembicaraan mereka terputus, membuat Tae Moo semakin panik ketakutan. Ketakutan kalau kebohongannya terungkap. Ia segera melacak nomor telepon itu dan menemukan kalau telepon itu berasal dari telepon umum.
Dekat rumah loteng. Tae Moo menyadari kalau Yi Gak masih berada di sekitar rumah itu.
Ia langsung menuju rumah loteng. Kebetulan ada Park Ha yang baru saja pulang ke rumah. Tapi Tae Moo tak peduli. Ia mencari-cari Tae Young palsu dan mengobrak abrik rumah Park Ha.
Saat tak menemukan jejak Yi Gak, ia sangat marah. Saking marahnya ia merusak dan membanting semua yang ada di halaman, membuat Park Ha ketakutan.
Dari kejauhan, Yi Gak hanya bisa berdiri mengawasi kejadian itu karena ia tak dapat membantu Park Ha. Ia sekarang bukan Tae Young palsu, tapi Tae Young asli.

Park Ha sangat ketakutan. Tapi hatinya terhibur saat ia mendapat SMS dari si bodoh. Ia pun bersiap-siap menemui Yi Gak.

Park Ha keluar rumah dan berjalan menuju stasiun kereta bawah tanah. Ia tahu kalau Tae Moo mengikutinya. Tapi ia membiarkannya. Saat ada kereta datang, ia masuk diikuti Tae Moo yang berdiri agak jauh darinya.

Namun ketika terdengar pemberitahuan kalau kereta akan berangkat, tanpa ba bi bu Park Ha langsungkeluar meloncat keluar kereta yang sudah bergerak berangkat. Sepersekian detik setelah Park Ha meloncat, pintu pun tertutup.

Kereta pun berlalu pergi membawa Tae Moo yang merasa terkecoh karena Park Ha masih berada di stasiun kereta.


Bersama Yi Gak yang menatapnya dari seberang peron. Mereka berdua sama-sama tersenyum, gembira bisa bertemu lagi.

Tanpa Tae Moo. Yay! Tanpa ketiga pengikut Yi Gak. Yay lagi!


Menikmati kencan berdua di sore hari, Yi Gak bercerita tentang foto keluarga Park Ha yang ia temukan di meja kerja Tae Moo. Tapi ia belum sempat melihat wajah wanita itu karena Tae Moo keburu datang. Park Ha meminta Yi Gak untuk memotret wajah wanita itu jika lainkali ia menemukannya.

Yi Gak menyanggupinya. Ia juga mewanti-wanti pada Park Ha agar berhati-hati terhadap Tae Moo. Ia tahu kalau Park Ha adalah gadis yang kuat, tapi ia tak dapat berhenti mengkhawatirkan Park Ha.


Park Ha menenangkan Yi Gak. Ia  malah meminta Yi Gak untuk berhati-hati.

Saat makan bersama ibunya, Park Ha menceritakan kalau ia menemukan seseorang yang memiliki foto itu, “Darimana ya orang itu mendapatkan foto itu?”


“Tentu saja dari ibu kandungmu,” jawab Ibu tanpa berpikir. Namun setelah itu ibu menyadari apa yang baru saja ia katakan dan berseru, “Ya Tuhan! Mungkin saja kau akan menemukan ibu kandungmu!”
Park Ha pun menyadari perkataan Ibu. Tapi saat ibu bertanya siapa yang memiliki foto itu, Park Ha tak memberitahukannya pada ibu. Ia hanya menjawab belum tahu.


Ia menemui Tae Moo dan meminta agar Tae Moo menberitahukan dimana ibunya sekarang. Tapi Tae Moo tak mau. Ia mau memberitahu asal Park Ha memberitahu dimanakan Tae Young yang palsu berada.


Ibu mengajak Se Na untuk makan bersama. Ia sebenarnya ingin curhat pada Se Na. Walaupun ia merasa senang karena Park Ha menemukan orang yang memiliki foto keluarga yang sama dengan miliknya, namun ia merasa sedikit cemburu.

Se Na kaget mengetahui kalau Park Ha hampir menemukan ibu kandungnya. Ia buru-buru pergi tak mengindahkan panggilan ibunya.


Se Na menemui Tae Moo dan menceritakan apa yang ia ketahui dari ibu. Tae Moo menyadari kalau foto itu adalah bukti yang dapat menghubungkan Park Ha dengan CEO Jang. Oleh karena itu mereka membakarnya.


Park Ha berbincang-bincang dengan CEO Jang mengenai ibu tirinya yang juga sahabat CEO Jang. Ia merasa kalau ia mungkin dapat menemukan ibu kandungnya. Tapi ia takut menyakiti hati ibu tirinya. Ibu tirinyalah yang menerimanya dengan tangan terbuka saat ia kembali ke Korea dan mendapati ayahnya telah tiada.

Ia meminta pendapat CEO Jang, “Apakah seharusnya saya tak usah mencari ibu kandung saya?”
“Apakah kau benar-benar tak ingin mencarinya?” tanya CEO Jang hati-hati.

“Kalau boleh jujur, sebenarnya saya ingin.”

“Ibumu pasti juga menginginkannya,” CEO Jang menyamakan dengan perasaannya. “Aku juga berharap kalau putriku mencariku juga. Daripada hanya satu pihak, bukankah pertemuan akan lebih cepat terjadi jika ada dua pihak yang mencari?”
Saat berpikir kalau masih ada orang yang memiliki darah yang sama, Park Ha merasa ingin melihat orang itu walau hanya sekali saja. CEO Jang menguatkan Park Ha dengan mengatakan, jika Park Ha memiliki kesempatan untuk menemuinya, maka temui saja.


Karena foto telah dibakar oleh Tae Moo, Yi Gak tak dapat menemukan foto itu di meja kerja Tae Moo.


CEO Jang menemui ibu dan meminta agar ia diperbolehkan untuk membawa Se Na ke Hong Kong. Rupanya ia telah menyerah mencari putri keduanya. Walaupun ibu sedih, tapi ibu memperbolehkan temannya membawa Se Na, gadis yang ia besarkan sejak bayi. Tapi apakah Se Na sudah mengetahuinya? CEO Jang belum memberitahukannya, dan ia berencana untuk memberitahu Se Na setelah mendapat restu dari ibu.


Se Na pergi ke hotel untuk menemui CEO Jang. Tapi saat akan masuk ke dalam ruangan CEO Jang, ia mendengar CEO Jang berbicara pada suaminya kalau ia akan membawa putrinya ke Hongkong. Tak menyadari kalau yang dimaksud CEO Jang adalah dirinya dan bukannya Park Ha, ia langsung pergi dan menelepon Tae Moo.


Tae Moo kaget mendengar suara Se Na yang panik karena CEO Jang telah menemukan putrinya. Ia berjanji akan menyelesaikan masalah ini.


Saat itu ia sedang ada di gudang, dimana beberapa pekerja sedang memindahkan barang dari gudang ke truk berpendingin. Seketika itu juga ia mendapatkan ide.


Ia menelepon Park Ha, mengajaknya untuk menemui ibunya. Ia meminta maaf telah membuat Park Ha kecewa dengan pertemuan mereka yang terakhir, hanya karena masalah pribadinya. Tapi sekarang ia menyadari kalau adalah hak Park Ha agar bisa menemui ibunya, terlepas apapun masalah pribadinya sendiri. Walau ragu, tapi Park Ha menyetujuinya.


Tae Moo menjemput Park Ha di tempat yang dijanjikan dan Park Ha masuk ke dalam mobil Tae Moo. Namun di tengah jalan, Tae Moo menghentikan mobilnya karena ada bunyi berisik yang terdengar dari mobil, tepatnya di sisi Park Ha.

Park Ha tak menyadari kalau itu hanyalah alasan Tae Moo untuk menghentikan mobil. Karena setelah itu, ia meminta Park Ha untuk mengambil buku manual mobil yang ada di dashboard.


Saat Park Ha lengah, ia membekap Park Ha dan membiusnya hingga Park Ha pingsan.

Yi Gak sedang melihat-lihat foto Tae Young dan Tae Moo saat mereka di New York. Di salah satu foto, ia melihat seorang gadis yang sangat familiar berdiri di belakang Tae Young dan Tae Moo.


Dan Yi Gak menyadari kalau Park Ha memang pernah bertemu dengan Tae Young. 


Tae Moo membawa Park Ha yang sudah pingsan ke dalam truk berpendingan. Dengan handphone Park Ha, ia memotret Park Ha. Walau ia tak tahu nama asli pria yang menyaru menjadi Tae Young, tapi ia yakin kalau pria itu adalah pemilik nama Si Bodoh di handphone Park Ha. Karena nama itu sering muncul di daftar telepon dan nama itu juga nomor terakhir yang ditelepon oleh Park Ha hari ini.

Yi Gak menerima SMS yang isinya adalah foto Park Ha yang pingsan. Yi Gak sangat terkejut melihatnya.

Yi Gak marah dan menelepon Tae Moo, mengancam akan membunuh Tae Moo jika Tae Moo menyentuh Park Ha. Tapi Tae Moo menyuruhnya untuk diam karena ia yang memegang kendali sekarang. Ia menyuruh Yi Gak untuk membawa handphone yang menyimpan gambar-gambarnya di New York, kalau tidak Park Ha akan mati kedinginan dalam truk.

Sementara menunggu kedatangan Yi Gak, Tae Moo melihat kalau Park Ha mulai tersadar. Sebelum Park Ha sadar sepenuhnya, Tae Moo menutup pintu truk dan menguncinya. Dengan mobilnya, ia pun segera meninggalkan Park Ha yang sendirian di dalam truk.

Park Ha terbangun dan menyadari kalau ia disekap di dalam ruangan kecil yang sangat dingin. Ia menggedor-gedor pintu dan berteriak meminta pertolongan. Tapi tak ada yang menyahut.

Sementara itu Yi Gak melarikan mobilnya untuk menyelamatkan Park Ha. Namun sepanjang perjalanan ia teringat akan kata-kata Taek Soo yang menyuruhnya agar tak memberitahukan pada siapapun kalau tak ingin rencana mereka gagal. Tapi ia juga teringat pada kata-kata Tae Moo yang menyuruhnya segera datang. Kalau tidak, Park Ha akan mati kedinginan. 

Jadi apa yang ia pilih? Park Ha atau keberhasilan rencana mereka?


Seakan terpikirkan sesuatu, tiba-tiba ia mengerem mendadak dan mobilpun berhenti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar